(Share) Sebuah Renungan

Oleh:  efraefra (5523)    13 tahun yang lalu

  0 

oleh : Darwis Triadi
diambil dari blog darwis triadi
http://darwistriadi.blogspot.com/

Perjalanan menuju kesempurnaan adalah proses menentukan setiap tapak langkah kita. Yang membuat “lebih” dari langkah kita adalah kemampuan memanfaatkan waktu untuk melakukan beragam hal dengan maksimal. Baik untuk diri sendiri ataupun orang lain. Lantas, apa artinya waktu bagi kita sebagai fotografer?

Menurut saya, sebuah foto berusaha menangkap waktu. Kamera, membekukan, dan mengabadikannya. Tapi yang terekam hanyalah citra dari sebuah pemandangan di depan kamera. Waktu selalu ada di luar foto-foto itu, sehingga penafsiran sebuah foto selalu dipengaruhi oleh historisitasnya kapan seseorang memandang foto itu. Gambar dalam foto boleh terandaikan abadi, namun maknanya selalu bergeser bersama waktu.

Foto merupakan kala citra. Kala berarti waktu, dan citra adalah gambaran. Gambar-gambar yang terekam oleh kamera terbagi oleh citra yang berdimensi waktu. Waktu, menurut saya sebagai seorang fotografer adalah: moment. Apalah artinya sebuah gambar bila moment yang saya rekam tidak memberikan sebuah roh atau jiwa dari foto tersebut. Andai saja kita tidak bisa menggunakan waktu dengan baik, maka moment sebuah obyek foto akan “menguap” atau terlewatkan begitu saja.

Saya akan mencoba mengutip sebuah pepatah bijak. “Bila kau ingin tahu apa artinya waktu 1 tahun, tanyakan pada siswa yang tidak naik kelas. Makna 1 bulan, tanyalah kepada ibu yang melahirkan premature. Makna 1 minggu, tanyalah seorang editor majalah mingguan. Makna 1 hari, tanyalah seorang yang bekerja dengan gaji harian. Makna 1 jam, tanyalah seorang gadis yang sedang menunggu kekasihnya.

Kemudian, makna 1 menit, tanyalah seorang yang ketinggalan kereta. Bila kau ingin tahu apa artinya watu sedetik, tanyakan pada atlet lari 100 meter. Atau jika kau ingin tahu tentang makna waktu dan hidup, tanyakan pada orang yang akan dihukum mati esok hari.” Berikutnya, apa rahasia terbesar dalam hidup ini? Menurut saya, jalani kehidupan hari ini dengan penuh makna. Waktu kadang terasa cepat, kadang pula lambat. Selama perjalanan hidup ini, waktu menjadi guide line hidup saya ke depan. Dengan menghargai waktu, sudah sepantasnya kita membuat rencana hidup menjadi lebih bermakna untuk diri saya dan masyarakat pada umumnya.

Saat kaki melangkah untuk mewujudkan cita-cita, terkadang bisa berubah tanpa kita sadari. Semua sudah ada yang mengatur yaitu: TUHAN. Kita tak boleh menyesali, mengapa tidak sesuai rencana yang kita inginkan. Harus disadari, tak seorang yang mampu membuat sebuah rencana hidup dengan sempurna. Semua sudah ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa. Percayalah, pasti ada sebuah rencana besar yang sudah TUHAN buat untuk diri kita.

Ketika merenungkan lagi tentang Sang Waktu, saya makin tak tahu. Semakin saya renung, makin misterilah Sang Waktu. Yah, lebih baik saya jalani saja waktu. Kehidupan berjalan terus beriringan dengan Sang Waktu. Kapan berawal, kapan berakhir, kapan hidup, kapan mati, siapa yang tahu?

Contohnya seperti perjalanan hidup saya sebelum menggeluti dunia fotografi. Pada awalnya saya sudah berprofesi sebagai pilot. Tetapi, selama berjalannnya waktu, hati dan pikiran ini mengarahkan saya untuk menekuni profesi sebagai fotografer. Padahal teknik fotografi belum saya kuasai. Karena waktu sudah menjadi guide line hidup saya, maka saya berusaha sekuat tenaga dan sebaik mungkin untuk memanfaatkan waktu menjadi lebih berarti bagi diri saya dan masyarakat. Saya manfaatkan waktu untuk terus belajar dan berkarya.

Dan kini seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, I only lives in twice. Once as a pilot and the other one as a photographer. Waktu adalah sesuatu yang tak akan pernah kembali. Dia akan berjalan terus, walaupun ada yang menangis bersujud memintanya berhenti. Orang yang hebat adalah orang yang bisa berjalan beriringan dengan waktu. Bukan orang yang tertinggal oleh waktu.

Belum ada komentar