Mereka Generasi Terakhir Tanjidor?
 
 

Saya prihatin akan keberadaan grup kesenian Tanjidor di Indonesia. Saya tak tahu apakah
mereka bisa bertahan sampai ke generasi selanjutnya? Saya mencoba mendokumentasikan
kegiatan mereka, semoga saja bukan foto dokumentasi terakhir yang pernah dibuat.
Siapa tahu di tahun-tahun mendatang banyak orang yang masih membuat foto dokumentasi
mereka, berarti mereka masih tetap eksis.

Di DKI Jakarta sendiri tersisa tiga grup Tanjidor, dua di Jakarta Timur dan satu di Jakarta Selatan.
Saya memilih memotret kelompok Tanjidor Tiga Saudara yang ada di Jagakarsa Jakarta Selatan
di pimpin oleh Pak Sait dan Pak Haji Kumat. Alasannya karena grup Tanjidor ini memiliki pemain
yang paling lengkap. Kadangkala pemain mereka sering dijadikan pemain cabutan bagi grup
Tanjidor lain. Selain tiga grup di wilayah Jakarta ada dua grup lain yaitu satu di Tanggerang dan
satu lagi di Bogor.

Catatan:
Foto pembuka ini di sarankan untuk dipilih oleh Om Yudhi Soerjoatmojo. Pilihan saya sendiri
adalah foto portraitnya Pak Sait sedang mengangkat Trombone.  Saya selalu kesulitan dalam
memilih foto pembuka (Establishing shot). Saya banyak dibantu orang dalam hal editing foto.
Salah satu hal yang tersulit dalam foto esai adalah masalah editing foto. Karena ini berkaitan
dengan jalan cerita yang akan ditampilkan. Baik atau tidaknya  sebuah sebuah foto esai memang
tergantung dari masalah editing foto ini.  Aslinya foto esai ini hanya terdiri dari delapan foto.
Ketika Pandhita Agung Oscar Matuloh melihat foto esai ini pandhita agung itu bersabda, "Seperti
sebuah film ada awal adegan dan akhir cerita, kamu sudah bagus membuat awal dan akhir ceritanya
tapi cerita di tengahnya banyak lubang. Untuk membuat cerita yang baik kamu harus bersedia
mengorbankan foto yang bagus dan pakailah foto yang jelek! Tidak masalah jika sebuah foto itu
jelek tapi bisa  melengkapi cerita  dan membuat  pesan yang ingin disampaikan menjadi kuat!".


Sejak saat itu sabda  Pandhita Oscar Matuloh  menghujam dalam hati saya ketika saya mulai
mengedit foto. Tapi dalam realitas sehari-hari kadang petuah seperti Pandhita Oscar itu  sering
saya pinggirkan. Saya tetap keukeuh memilih foto-foto yang "bagus" dan membuang foto yang
"jelek", padahal saya tahu bahwa foto yang "bagus" itu akan membuat cerita yang saya susun
menjadi kedodoron. Jujur saja sering saya memilih foto yang "bagus" karena "takut" dibilang,
"Kok, cuman begitu aja sih fotonya...".


Saya sering mempertimbangkan gengsi dari pada bobot cerita yang saya bangun. Sering saya
kalah dalam urusan memilih/editing foto ini, saya cenderung memilih foto-foto yang "bagus" bukan
yang "jelek".......Untuk urusan pilihan yang foto yang "jelek-jelek" ini saya hanya bisa berkata,
"Hidup Oscar Matuloh! Saya belum semumpuni beliau yang bukan lagi melihat hal-hal yang estetis
saja dalam sebuah foto.  (Nah, dari argumen ini jangan kaget kalau kita melihat pameran foto
Oscar Matuloh atau M Iqbal atau Paul Kadarisman atau Richard Avedon atau Eugene Smith , 
misalnya banyak pengunjung pameran berguman,"Kok foto-foto jelek-jelek gini dipamerin!...
Ya cuman begitu doang!....Gue juga bisa!" 

Untuk Kali ini foto saya susun berdasarkan kronologis ketika saya "nongkrongin' Tanjidor
Tiga Saudara selama beberapa hari. Ceritanya saya mulai ah….eng…ing…eng….



Siang itu di sebuah rumah berhalaman lapang yang teduh di daerah Jagakarsa Jakarta Selatan mulai terlihat ada geliat kecil kegiatan budaya. Beberapa lelaki berumur mulai memenuhi beranda itu.

 

Pak Sait masuk ke gudang untuk mengeluarkan peralatan Tanjidor, yang akan dipakai berlatih
bersama rekan-rekan grup Tanjidornya. 



Satu persatu pejuang-pejuang seni budaya itu mulai berdatangan.

 


...dan PREEETTTT! Busyet berisik amat tuh terompet! Mereka mulai latihan...aslinya
memang berisik! Kalau tidak biasa pasti tidak betah, tanpa sound system suaranya
terdengar satu kampung.

 

Sebenarnya jarang-jarang mereka latihan, soalnya biar nggak latihan mereke udah kompak
satu sama lain. Lagi pula lagunya dari dulu itu-itu saja, mereka sudah hapal di luar kepala.
Hal inilah salah satu penyebab  Tanjidor kalah bersaing dengan musik dangdut atau pop
yang lebih digemari kamu muda betawi. Tanjidor memang tidak berkembang dan juga tidak
ada upaya-upaya dari senimannya untuk mengembang Tanjidor, misalnya digambung dengan
musik pop seperti campur sari.

 

Generasi yang baru lahir cuman jadi penonton doang nggak mau terlibat langsung...mereka
seperti berjarak. 

  
 
Malah terkesan mereka memandang aneh para orang tua yang sedang bertanjidor ria itu...

  

Kalau bukan generasi muda siapa lagi yang yang menggantikan wajah-wajah tua ini?

  

Haji Amin, pemain trombone umurnya hampir 70 tahun...

 
Nah, ini dia bendera kebanggaan....Tanjidor Tiga Saudara pimpinan Bapak Sait dan Haji Kumat.


Minan, 22 tahun,  anaknya Pak Sait, bisa dia ini generasi terakhir Tanjidor. Soalnya temen-temen
seumuran dia pada kagak mau lagi maen Tanjidor. Padahal Pak Sait selalu ngundang ke rumehnya
untuk latihan. "Kalo mau dibawa pulang trompetnye juga kagak apa-apa", kata Pak Sait asal
beneran latihannya. Tapi temen-temennya Minan pada nggak minat tuh....

  

Minan lah yang mulai belajar mengurus grup Tanjidor ini. Dia yang nyari order, ngumpulin pemain,
nyiapin peralatan dan kostum dsb...dsb...pokoknya Minan tugasnya di menejemen.
"Dia niupnya udah bisa tapi kalo disuruh main dia belom hapal lagu-lagunya", begitu kata
Pak Sait ketika saya tanya kok Minan cuman sekali-kali aja main Tuba? Hari itu ada tanggapan
bermain di Pondok Gede. The show must go on...Minan beres-beres nyiapin masukin barang
ke mobil....tanggapan untuk seremoni pembukaan pusat perdagangan elektronik baru.



Pemainnya tua-tua...begitu juga mobilnya...Toyota Kijang jaman dulu...cuman Minan
yang muda di rombongan itu.



Udah nyampe di tempat tanggapan...bongkar muat alat musik...



Mal Pondok Gede masih sepi....



Jadi harus menunggu dulu....



Nunggunya bukan di tempat VIP, tapi di emperan...mereka memang terpinggirkan banget ya....
kaum muda aja pada cuek, noleh aja nggak...



Seremonial di mulai...panitia mengundang juga grup kesenian tari Betawi.

 

Hiks...hiks....hiks....mana penontonnya? Tanjidor sudah tidak bisa dinikmati lagi seperti
halnya orang menimati musik dangdut dan pop. Masa-masa kejayaannya telah lewat.
Tanjidor hanya diundang untuk sekedar acara-acara seremonial yang memerlukan simbol
budaya Betawi saja.



Setelah "sukses" menghibur penonton mereka beres-beres untuk pulang....

 

Sebelum pulang makan nasi bungkus dulu dong jatah dari panitia. Saya terharu melihat
Pak Sait dan Minan yang sedang makan nasi bungkus ini, apakah mereka anak beranak
ini generasi terakhir Tanjidor?

 

Pulang...bongkar muatan... 



Ngasoh sebentar....sambil membicarakan rencana pementasan selanjutnya.





Saya sempat membuat Portrait mereka.Memang tidak lengkap pemainnya karena ada
yang tidak hadir latihan.

Pak Haji Amsir, pemain Tuba.

  

Pak Saman, Pemain Tambur

 

  Pak Jujung, pemain Bedug.



Pak Amin, pemain Trombone.

Pak Danan, pemain Pistone.

Pak Haji Kumat, pemain Trompet.



Dan ini dia bossnya Tanjidor Tiga Saudara , Pak Sait, pemain Klarinet.



Sebagai foto penutup saya pilih foto ini Minan, sang generasi terakhir Tanjidor, sedang
kesemsem berat sama cewek penari ini. Foto ini saya jadikan simbol upaya dan tantangan
untuk regenerasi baru seni budaya Betawi  (dalam versi esai delapan gambar, foto penutupnya
saya pilih foto yang ada anak kecil melihat dengan heran orang-orang tua yang main Tanjidor,
foto itu lebih cenderung menjadi simbol kalau Tanjidor bakalan mengalami masalah regenerasi)

 

Moga-moga Minan bisa berhasil mendapatkan cewek penari ini, siapa tahu generasi baru
Tanjidor terlahir dari para penggiat seni budaya Betawi seperti mereka ini...AMIN!

Mari kita beri aplaus bagi para penggiat seni Betawi ini!


SELESAI...