Forum

Christoforus Terry | 23 April 2006 14:37:12 |

0
0
40
Dilihat : 3686
Bagikan :

Lom Plai Pesta Panen Padi Dayak Wehea

Dahulu kala hiduplah seorang Hapui Ledoh (raja perempuan / ratu) bernama Diang Yung dengan putri tunggal yang sangat cantik bernama Long Diang Yung. Suatu ketika kekeringan melanda dan menyebabkan banyak warga meninggal dunia. Pada suatu malam, Sang Hapui bermimpi didatangi oleh Dohton Tenyei (Yang Maha Kuasa) yang mengatakan bahwa dia harus mengorbankan Sang Putri demi menyelamatkan masyarakatnya. Ketika terjaga dari tidurnya, hati Sang Hapui berkecamuk antara menyelamatkan Sang Putri tunggal sebagai penerus keturunan atau menyelamatkan masyarakatnya. Kemudian dilakukanlah musyawarah dengan Tua Adat dan Pemuka Masyarakat, kesimpulan rapat menyatakan bahwa masyarakat harus diselamatkan. Masyarakat Kemudian berkumpul di alun-alun dan mengucapkan sumpah yang berbunyi:
1. Manusia harus menyayangi padi seperti ia (sang hapui) menyayangi anaknya dan jangan bertindak kasar / durhaka terhadapnya.
2. Padi adalah jelmaan anak Sang Hapui karena itu harus di Eraukan seperti Sang hapui melakukannya
3. Bagi orang yang memiliki padi dan menikmatinya serta taat kepada sumpah maka ia akan selamat, panjang umur, sejahtera dan makmur.
4. Bagi yang melanggar sumpah maka ia akan celaka, ketulahan dan akan menderita sakit dan tidak panjang umur.

Setelah selesai mengucapkan sumpah, Hapui Diang Yung menyembelih (mengorbankan) sang Putri Long Diang Yung. Pada saat itu serta merta hari menjadi gelap (mendung) dan hujan pun turun dengan sangat lebat. Di tempat dimana Long Diang Yung dikorbankan terjadi suatu keanehan dan keajaiban, dimana Sang Putri yang telah dikorbankan berubah dan menjelma menjadi serumpun padi yang tumbuh dan meninggi serta mengeluarkan bulir-bulir padi yang telah menguning. Padi tersebut dinamakan Plai Long Diang Yung dan terus dituai (panen) namun tiada habis-habisnya dan dibagikan kepada masyarakat untuk ditanam. Sejak saat itu mereka hidup makmur dan sejahtera. Inilah asal mulanya mengapa hingga Sekarang masyarakat Wehea selalu tetap mempertahankan untuk melaksanakan Lom Plai atau Erau Padi.

-

Cerita tsb adalah oleh-oleh dari perjalanan ke Desa Nehas Liah Bing, Kabupaten Sangatta di Kalimantan Timur. Saya ingin sekali membagikan cerita tsb & foto2 kepada teman2 karena Kalimantan Timur menyimpan banyak cerita dengan suku Dayak nya.

Desa tersebut dihuni oleh suku Dayak Wehea, yang merupakan suku tertua di aliran Sungai Wehea, atau yg sekarang lebih dikenal dg Sungai Wahau karena kata "Wehea" sulit diucapkan oleh orang luar.

Lom Plai terdiri dari 17 rangkaian acara yang memakan waktu lebih dari satu bulan, bahkan sempat tertunda satu minggu karena ada kematian. Menurut Adat suku Wehea, cara dapat tertunda karena dua hal yaitu: Kematian dan kelahiran. Puncak acara tsb diselenggarakan pada tgl 10-11 Apr 2006

ter!

Sumber: The Nature Conservancy



Beri Komentar

Panduan mengenai tata cara pemberian komentar bisa dibaca di sini

Silahkan login atau daftar untuk dapat memberikan komentar.

23 April 2006 14:47:18

Oleh-oleh dari Kutai Timur<br/> ...The Water



23 April 2006 14:49:35



23 April 2006 14:55:20



23 April 2006 15:02:48

Eweang, rumah adat



23 April 2006 15:04:54



23 April 2006 15:06:39

The Dayak Art Nehas Liah Bing



23 April 2006 15:08:17

The Dayak Art Nehas Liah Bing



23 April 2006 15:10:43

The Dayak Art Nehas Liah Bing



23 April 2006 15:13:32

The Dayak Art Nehas Liah Bing



23 April 2006 15:15:40



23 April 2006 15:19:13

Ibu Nyok family



23 April 2006 15:25:29

the girls



23 April 2006 15:28:35



23 April 2006 15:30:37

smile



23 April 2006 15:32:17



23 April 2006 15:33:54

gong



23 April 2006 15:35:57

membuat lemang



23 April 2006 15:39:15

membuat lemang



23 April 2006 15:41:08

Tumbambataq dance



23 April 2006 15:43:57

The War



Kategori