Forum

Kristupa W Saragih | 29 September 2015 18:42:45 |

Warung Kopi Fotografer.net > Bincang Bebas

0
0
9
Dilihat : 2122
Bagikan :

Makin hari makin banyak lomba foto tergelar. Mulai dari lomba berhadiah piagam hingga uang ratusan juta Rupiah. Mulai dari penyelenggara tingkat sekolah hingga perusahaan terkemuka.

 

Namun masih terdengar beberapa tanggapan sumbang mengenai sejumlah Iomba yang mengecewakan peserta.

 

1. Hadiah Dipublikasikan Detail

Banyak publikasi lomba mencantumkan hadiah "total jutaan rupiah" atau senada, tanpa detail untuk tiap posisi juara. Lomba bonafide menampilkan detail hadiah untuk tiap posisi juara, mulai dari juara pertama hingga hadiah hiburan. Kealpaan menayangkan detail hadiah di publikasi mengesankan penyelenggara lomba tak yakin mengenai kelangsungan lomba dan ada potensi penggelapan hadiah.

 

2. Nama Juri Lengkap dan Jelas

Sejumlah publikasi lomba tak menampilkan nama juri, atau hanya menyebutkan instansi tanpa nama jelas. Lomba bonafide mempublikasikan nama juri secara lengkap dan jelas. Publik bisa menakar kaliber pelaksanaan lomba dan peserta bisa menyusun strategi meramu karya foto. Juri tak harus fotografer, tapi seyogyanya mencintai fotografi. Bayangkan jika juri lomba masak tak pernah bermandi asap dapur, atau juri lompat indah tapi takut ketinggian. Kealpaan menayangkan nama juri secara lengkap dan jelas berpotensi merendahkan kualitas penjurian dan mengurangi wibawa penyelenggara lomba dan pemenang.

 

3. Publikasi Lomba di Media Terpercaya

Tatkala belum ada Internet, saya geram melihat orang mencopoti poster lomba foto supaya sedikit orang tahu dan sedikit pula pesaingnya. Lantas, setelah ada Fotografer.net, saya buka keran informasi selebar-lebarnya agar sebanyak-banyaknya orang tahu dan ikut lomba. Penyelenggara lomba foto berdana besar bisa beriklan di media nasional namun tidak demikian halnya dengan lembaga sosial dan nirlaba. Internet membuat publikasi jadi mudah dan murah, jika Anda tepat memilih media.

Media sosial bisa jadi pilihan, namun terbatas pada "friend" dan follower Anda saja, atau paling jauh friend-of-friend. Karena itu, pilihlah media yang tepat sebagai wahana publikasi lomba foto. Publikasi penting untuk menjamin kualitas dan kuantitas foto yang dilombakan.

Penting pula menggunakan media fotografi untuk memastikan bahwa peserta lomba memang khalayak fotografi. Saya pernah mendapati lomba foto yang dipublikasikan terbatas, hasil kongkalikong panitia dan peserta, atas dasar motivasi tak terpuji.

 

4. Pelaksana Lomba Terpercaya

Pelaksana lomba foto bertanggung jawab atas penanganan foto, sejak diterima hingga pemusnahan foto yang tak menang. Pelaksana juga bertanggung jawab menegakkan aturan lomba, serta menjamin kualitas penjurian agar adil. Pelaksana yang "entah siapa" beresiko menghilangkan foto, membuat foto tertukar, penjurian ceroboh atau salah umumkan pemenang. Pelaksana yang memang sehari-hari menggeluti fotografi paham operasional lomba karena menjaga integritas dan nama baik.

Bayangkan jika nama peserta lomba "bocor" ke mata juri saat penilaian, atau lemah menghadapi protes peserta lomba. Bayangkan pula kalau panitia lomba tak tegas menghadapi peserta yang telat kirim foto atau gagal menguasai juri yang terlibat debat sengit. Fatal apabila pelaksana lomba tak paham motivasi pembedaan penjurian terbuka dan tertutup.

 

5. Menghormati Hak Cipta

Hak cipta pada hakikatnya melekat pada karya foto sama dengan hak asasi yang melekat pada tiap individu. Negara maju manapun memiliki undang-undang yang melindungi hak cipta, termasuk Indonesia. Namun, jangan naif kepada penyelenggara lomba foto yang mencari foto bagus melalui lomba foto. Pelaksana lomba wajib mencantumkan perlindungan atas hak cipta foto di klausul peraturan lomba. Hak pakai bisa berada di tangan penyelenggara lomba dengan imbalan hadiah yang sesuai. Pembelian terhadap hak cipta tentu lebih mahal daripada hak pakai.

Klausul lomba foto yang menyiratkan "semua foto yang diikutkan lomba menjadi milik panitia", atau senada, pertanda penyelenggara lomba mau enaknya sendiri dan tak mengindahkan undang-undang. Klausul lomba harus tegas bahwa hanya foto pemenang saja yang bisa dipakai dengan durasi jelas dan jenis-jenis media placement yang detail.

 

6. Info Lengkap Penjurian dan Pengumuman Pemenang, serta Penyerahan Hadiah

Terdengar tak penting, namun publikasi tanggal-tanggal ini membuktikan bonafiditas pelaksana lomba foto. Jangan sampai ikut lomba foto yang gagal penjurian lantaran peserta sedikit. Jangan juga ikut lomba foto yang tak jelas jadwalnya, karena berbagai alasan yang asal-muasalnya peremehtemehan fotografi oleh penggelar lomba foto. Jika pelaksana lomba tak respek pada fotografi, tentu hal yang sama berlaku pada Anda sebagai peserta lomba dan karya foto Anda. Pengumuman pemenang hendaknya terbuka dan di media terpercaya.

Pengumuman lomba secara sembunyi-sembunyi mengesankan keberadaan hal negatif atau kongkalikong hasil lomba. Cara penyerahan hadiah pun sejatinya tercantum detail di peraturan lomba. Hadiah uang tunai bisa ditransfer, piala dan piagam bisa dikirim, atau bisa pula diserahkan langsung. Namun tentu tak lucu jika hadiah uang dicicil dan hadiah barang dikirim bagian per bagian.

 

 

Demikian nukilan pengalaman jadi peserta lomba foto sejak 1991 dan menjadi juri lomba foto sejak awal 2000-an. Hal-hal seperti ini belum pernah ada di buku-buku fotografi lantaran tak semua peserta lomba foto mau berbagi pengalaman, lantaran ogah tersaingi. Tak semua juri lomba foto juga bisa berbagi hal ini lantaran banyak juri tak berjati diri, alias dikarbit dan belum pernah jadi peserta, apalagi pemenang lomba foto.

 

Memang tak ada larangan untuk menghalangi Anda ikut lomba foto tak bonafide. Banyak juga "lomba foto" yang bersifat santai, rekreatif dan lucu-lucuan, yang tentu jadi terlalu serius jika bereferensi ke enam butir bonafiditas di atas.

 

Semoga setelah tulisan ini dipublikasikan, tiap protes atas ketidakberesan lomba foto sudah tercantum di sini. Kalaupun belum, maka makin kayalah tulisan ini akan referensi kasus, dan makin terlindungi pula kepentingan dan kebaikan fotografer Indonesia. Namun, jika sudah diingatkan namun nekat diikuti, berarti silakan Anda tanggung resiko sendiri.

 

Biar foto yang bicara.

 

Beri Komentar

Panduan mengenai tata cara pemberian komentar bisa dibaca di sini

Silahkan login atau daftar untuk dapat memberikan komentar.

29 September 2015 19:41:06

The important 6 points, noted 😊

Kristupa W Saragih

30 September 2015 14:42:38

Ada pengalaman?

29 September 2015 21:09:45

shared on Facebook

Kristupa W Saragih

30 September 2015 14:44:44

Makasih bro!

Mulia AR

30 September 2015 15:46:24

okkz mas

04 Oktober 2015 08:33:12

point 4 noted

 

 

Kristupa W Saragih

04 Oktober 2015 08:58:39

Hehehe... pengalaman bro? big grin

28 Oktober 2015 11:21:18

Terimakasih.. informasinya sangat membantu.

salam.

Kategori