Forum

Stephanus K. W. | 30 Mei 2015 11:53:43 |

Diskusi Fotografi > Bisnis Fotografi

3
0
0
Dilihat : 2246
Bagikan :

 

Memanfaatkan momen demam batu, saya mulai melepaskan batu-batu mulia yang jadi koleksi saya sejak lebih dari 15 tahun lalu. Buseet! Batu-batu saya kejual dengan harga yang melampaui bayangan saya. Kaya dadakan  nih ceritanya. Siapa yang mengira batu-batu mulia yang dulu saya dapatkan dengan harga yang relatif murah, bahkan banyak diantaranya gratis, bisa terjual dengan harga berlipat-lipat. Sekedar keberuntungan kali ya.

 

Tapi ternyata, beberapa rekan yang memang focus berjualan batu akik tidak mengalami hal yang sama. Demam akik mendorong semakin banyak orang yang berjualan batu akik. Akibatnya? Belakangan ini kita bisa mendapatkan batu akik dengan kualitas yang baik dengan harga yang lebih murah ketimbang sebelumnya.

 

Perang harga telah dimulai. Para pedagang akik mulai menurunkan harga koleksinya menjadi lebih murah. Banyak diantara mereka yang mulai mengeluhkan perang harga itu. Ironinya, mereka yang mengeluhkan harga adalah juga orang yang juga pasang harga “murah” pada batu-batu koleksinya.

 

Kita tunggu 6 bulan lagi. Harga batu-batu akik sepertinya akan jauh lebih turun lagi ketimbang sekarang. Namun pada saat itu terjadi, ketersediaan batu-batu mulia yang berkualitas rasanya juga tidak akan sebanyak saat ini, seiring berkurangnya “pemain” batu akik karena berkurangnya permintaan dan juga harga yang tidak lagi “sebagus” belakangan ini.

 

Saya jadi ingat dengan diskusi di kalangan fotografer profesional dan komersial. “Pekerjaan engga seramai dulu””, “perang harga” dan “pemain baru yang merusak harga” adalah topik yang sering muncul jika mereka mulai mendiskusikan industri fotografi komersial. Obrolannya fotografer professional jadi tidak jauh berbeda dengan obrolannya pedagang batu akik. Hehehe. Faktanya toh, masih ada studio fotografi komersial yang masih padat kegiatan produksinya tanpa ikut-ikutan perang harga.

 

Ada satu kesamaan antara industry batu akik dengan fotografi komersial, yaitu hambatan yang relatif rendah untuk memasuki “kancah kompetisi” atau kalau tidak salah istilah lainnya adalah low entry barrier.  Pemain baru relatif mudah untuk memasuki industry dan meningkatkan persaingan.

 

Kita semua tahu, perkembangan teknologi saat ini dan juga peralatan dan perlengkapan yang semakin ekonomis harganya sungguh mempermudah orang untuk mampu melakukan (untuk tidak mengatakan menguasai) kegiatan fotografi dan kemudian “menjajakan” kemampuan tersebut.

 

Jangan lupakan juga, peruntukan fotografi komersial salah satunya untuk materi  komunikasi visual periklanan. Dalam kancah kompetisi yang lebih luas, komunikasi visual fotografi sendiri telah lama bersaing dengan komunikasi audio visual. Kita semua juga sudah tahu, semakin banyak papan iklan yang tidak lagi menayangkan gambar diam melainkan gambar bergerak dan bersuara.

 

Meributkan pemain baru yang merusak harga tentu saja hanya membuat si “tukang ribut” itu tidak sungguh-sungguh memahami kancah kompetisi yang dia hadapi. Itu seperti dua orang pengendara motor yang bertikai di pinggir Jalan Raya Plumpang, Jakarta Utara, yang sering dilewati truk-truk besar dan memakan korban jiwa pengendara motor yang lengah, lalai atau ceroboh.

 

Dalam hal inilah, saya memandang sangat penting bagi para fotografer professional ataupun para “calon” fotografer professional untuk bisa mencermati lebih luas kondisi yang mereka hadapi. Mereka yang unggul adalah mereka yang memiliki pemahaman yang baik akan diri sendiri dan lingkungan.

 

Micahel Porter, seorang pakar strategi manajemen, menyebutkan untuk menciptakan keunggulan ada lima hal yang harus diperhatikan, yang kemudian dikenal dengan Five Forces of Porter: (1) Ancaman Pendatang Baru, (2) Daya tawar terhadap supplier, (3) Daya tawar terhadap pembeli, (4) Kompetitor yang sudah ada dalam industry dan (5) Ancaman produk/jasa substitusi. Apakah ada produk/jasa yang bisa menggantikan fotografi? Produk audio visual misalnya?

 

Pengen tahu lebih banyak soal Five Forces of Porter? Jika kita sungguh-sungguh ingin tahu, tentunya kita akan mencari tahu dengan segala cara, untuk kemudian mengaitkannya dengan bagaimana kita menjalankan jasa fotografi komersial kita. Saya hanya melempar umpan.

 

Pada akhirnya, penetapan harga mestinya berangkat dari hasil analisa seorang fotografer terhadap kelima hal tersebut. Dan ingat! Harga hanyalah satu diantara banyak nilai yang bisa kita mainkan. Meributkan satu aspek saja sudah pasti hanya akan mempercepat berakhirnya era keemasan fotografi komersial. Mending jualan akik saja.

 

Jakarta, 30 Mei 2015
Kristo, praktisi manajemen stratejik, penggemar fotografi & batu akik 

Beri Komentar

Panduan mengenai tata cara pemberian komentar bisa dibaca di sini

Silahkan login atau daftar untuk dapat memberikan komentar.

Kategori