Forum

Bambang Dwi Atmoko | 08 Februari 2012 13:36:16 |

0
0
18
Dilihat : 4850

--Topik ini telah dimoderasi oleh Igor F Firdauzi pada 08-02-2012 13:36:16--

Beberapa waktu belakangan ini beberapa kasus seputar rekayasa foto digital di media mencuat ke permukaan. Secara umum, yang melakukan rekayasa foto ini ada dua pihak. Pertama, dari pihak nara sumber atau subyek berita terutama kalangan pemerintah yang berkuasa untuk pencitraan. kedua, dari pihak penerbit atau media massa agar foto yang ditampilkan terlihat lebih bagus.

Pihak yang berkepentingan demi pencitraan, estetika atau hal lainnya akan melakukan manipulasi atau rekayasa foto. Ada juga pihak yang kontra atau tidak setuju dengan rekayasa digital pada jurnalistik. Beberapa kasus mencuat diantaranya adalah foto prosesi pemakaman mendingan Presiden Korea Utara Kim Jong Il, foto suasana banjir di Korea, foto saat pejabat memeriksa jalan rusak di Huili China, foto jembatan 14th Street Bridge untuk mengenang 30 tahun tragedi kecelakaan Air Florida Flight 90 di Washington Post, foto dokumenter burung di koran Sacramento Bee, dan sebagainya.

Dunia jurnalistik memang tidak bisa bebas dari rekayasa. Bahkan kalau boleh jujur, hanya sedikit media yang benar-benar netral dan independen. Selalu ada kepentingan dibaliknya. Artikel yang dibuat oleh reporter mungkin apa adanya, tetapi ketika sampai ke tangan pembaca belum tentu seperti itu. Bisa juga reporter disuruh untuk menulis sesuai dengan angle yang diminta karena maksud tertentu. Fakta bisa digunakan untuk menggiring suatu opini.

Dalam fotografi jurnalistikpun, sang pewarta foto seringkali mengatur subyek atau narasumber agar tampil sesuai dengan yang diharapkan. Pada kamera diatur bokeh, white balance, kemudian dicrop, dibuat black and white dan sebagainya. Seringkali fotografer memotret tidak apa adanya. Hal ini sudah biasa dilakukan. Secara umum pengaturan pada tingkat sederhana seperti perbaikan cahaya, pengubahan menjadi black and white, dan cropping masih dianggap wajar. Walaupun ini juga sudah masuk dalam ranah rekayasa digital. Bagian inilah yang kadang membingungkan karena batasan-batasan yang kurang tegas.

NPPA pada halaman kode etik menyebutkan editing harus mempertahankan integritas konten gambar foto dan konteks. Kemudian jangan memanipulasi gambar atau menambahkan atau mengubah suara dengan cara apapun yang dapat menyesatkan pemirsa atau tidak menggambarkan subyek. Kalau mengacu pada hal itu, yang dilakukan Bill O’Learry pada kasus di Washington Post tidak menyalahi kode etik. Tergantung dari sudut mana menafsirkannya. Jika masuk golongan garis keras, maka segala macam rekayasa digital apapun bentuknya tidak dihalalkan. Jika golongan moderat, maka masih memperbolehkan rekayasa digital sampai batas tertentu sepanjang tidak mengubah makna atau tampilan foto secara keseluruhan. Tapi jika golongan bebas, ya terserah saja.
Kalau menurut Anda, bagaimana?



Ini salah satu contoh foto yang direkayasa. Tampilan foto-foto rekayasa digital pada kasus tersebut selengkapnya bisa dilihat di 'Polemik Manipulasi Foto di Dunia Jurnalistik'.



08 Februari 2012 14:36:54

0
0

Beberapa waktu belakangan ini beberapa kasus seputar rekayasa foto digital di media mencuat ke permukaan. Secara umum, yang melakukan rekayasa foto ini ada dua pihak. Pertama, dari pihak narasumber atau subyek berita terutama kalangan pemerintah yang berkuasa untuk pencitraan. Kedua, dari pihak penerbit atau media massa agar foto yang ditampilkan terlihat lebih bagus. Pihak yang berkepentingan demi pencitraan, estetika atau hal lainnya akan melakukan manipulasi atau rekayasa foto. Ada juga pihak yang kontra atau tidak setuju dengan rekayasa digital pada jurnalistik.

Beberapa kasus mencuat diantaranya adalah foto prosesi pemakaman mendingan Presiden Korea Utara Kim Jong Il, foto suasana banjir di Korea, foto saat pejabat memeriksa jalan rusak di Huili China, foto jembatan 14th Street Bridge untuk mengenang 30 tahun tragedi kecelakaan Air Florida Flight 90 di Washington Post, foto dokumenter burung di koran Sacramento Bee, dan sebagainya. Tampilan foto-foto rekayasa digital pada kasus tersebut selengkapnya bisa dilihat di 'Polemik Manipulasi Foto di Dunia Jurnalistik'

Dunia jurnalistik memang tidak bisa bebas dari rekayasa. Bahkan kalau boleh jujur, hanya sedikit media yang benar-benar netral dan independen. Selalu ada kepentingan dibaliknya. Artikel yang dibuat oleh reporter mungkin apa adanya, tetapi ketika sampai ke tangan pembaca belum tentu seperti itu. Bisa juga reporter disuruh untuk menulis sesuai dengan angle yang diminta karena maksud tertentu. Fakta bisa digunakan untuk menggiring suatu opini.

Dalam fotografi jurnalistikpun, sang pewarta foto seringkali mengatur subyek atau narasumber agar tampil sesuai dengan yang diharapkan. Pada kamera diatur bokeh, white balance, kemudian dicrop, dibuat black and white dan sebagainya. Seringkali fotografer memotret tidak apa adanya. Hal ini sudah biasa dilakukan. Secara umum pengaturan pada tingkat sederhana seperti perbaikan cahaya, pengubahan menjadi black and white, dan cropping masih dianggap wajar. Walaupun ini juga sudah masuk dalam ranah rekayasa digital. Bagian inilah yang kadang membingungkan karena batasan-batasan yang kurang tegas.

NPPA pada halaman kode etik menyebutkan editing harus mempertahankan integritas konten gambar foto dan konteks. Kemudian jangan memanipulasi gambar atau menambahkan atau mengubah suara dengan cara apapun yang dapat menyesatkan pemirsa atau tidak menggambarkan subyek.

Kalau mengacu pada hal itu, yang dilakukan Bill O’Learry pada kasus di Washington Post tidak menyalahi kode etik. Tergantung dari sudut mana menafsirkannya. Jika masuk golongan garis keras, maka segala macam rekayasa digital apapun bentuknya tidak dihalalkan. Jika golongan moderat, maka masih memperbolehkan rekayasa digital sampai batas tertentu sepanjang tidak mengubah makna atau tampilan foto secara keseluruhan. Tapi jika golongan bebas, ya terserah saja.

Kalau menurut Anda, bagaimana?

08 Februari 2012 14:39:53

0
0

Ketika golongan keras motret , mereka mengunakan mata kiri atau kanan ?

Intinya dari jurnalis yg jujur adalah tidak manipulasi/rekayasa fakta/kejadian/peristiwa .

Rekayasa telah dimulai dari ketika melihat viewfinder dg mata kiri atau kanan , keduanya memilki sudut yg berbeda .

Mungkin nanti suatu saat ada golongan keras mata kiri dan golongan keras mata kanan dan golongan keras dua mata.

08 Februari 2012 14:47:31

0
0

@Fehmiu Roffy Tavare: Terimakasih telah bantu merapikan. Tadi lupa gak ngasih kode break ketika bikin. Sekarang sudah kuperbaiki. Hehhehee.

@Harlim: saya setuju dengan Anda pada pendapat ini: Intinya dari jurnalis yg jujur adalah tidak manipulasi/rekayasa fakta/kejadian/peristiwa .

08 Februari 2012 15:16:30

0
0

Melihat olah digital dalam jurnalistik yang dilakukan di situs yang anda berikan bikin saya tertawa..seperti yang dilakukan Korean Central News Agency...sayang, editannya kurang oke.. happy



08 Februari 2012 15:24:00

0
0

Rekayasa digital yang menurut saya masih zona abu-abu mengenai HDR. Seperti kasus di Washington Post..

Sean Elliot, presiden National Press Photographers Association (NPPA) dengan tegas menolaknya. “HDR tidak sesuai untuk dokumentasi foto jurnalistik,” kata Elliot yang mengacu pada kode etik NPPA. Menurutnya, fotografer harus menghormati integritas mengenai momen digital. Foto HDR dianggapnya tidak berbeda dengan manipulasi digital lainnya. Kepada Poynter, Elliot mengatakan kalau dengan menggunakan HDR, Washington Post telah mengombinasikan momen berbeda, membuat gambar yang sebenarnya tidak ada pada kenyataan..

Di sisi lain, John Omvik, V.P. Marketing, Unified Color Technologies, tidak setuju dengan pendapat Elliot dan pandangan NPPA. HDR dianggapnya melakukan pekerjaan yang paling akurat merekonstruksi jangkauan dinamis dari gambar aslinya pada saat foto itu diambil. “Dari saat Anda membuka mata di pagi hari sampai menutup mata di malam hari, Anda bisa lihat dunia sekitar dengan HDR,” ujarnya. Menurutnya, tidak ada kamera digital ataupun film yang secara akurat dapat mereproduksi sistem seperti penglihatan manusia dalam menangkap dan memproses gambar secara real time...



08 Februari 2012 15:30:53

0
0

Saya jadi inget foto dibawah ini (sempat heboh juga):

Foto 1 (atas kiri_ hasil jepretan) Paul Hansen
Foto 2 (atas kanan) hasil jepretan: Carlos Garcia Rawlin/Reuters
Foto 3 (paling bawah) hasil jepretan Nathan Weber..

Meski dengan pemberitaan dan foto yang sama, setelah diteliti ternyata ada perbedaan yang mencolok. Perhatikan letak dan posisi tangan si korban. Apakah tangan tersebut dipindah/diatur agar sesuai keinginan fotografer?Sementara ketika ramai2 motret korban diabadikan oleh Nathan Weber. Bila tidak ada pembanding, tentu orang awam tidak akan tahu. Tapi begitu ada pembanding..ketahuan fotografer mana yang melenceng dari etika..Tapi siapa yang tahu bila tiba-tiba “si tangan” korban pindah sendiri atau ada yang memindahkan sebelum dipotret?Hanya mereka yang tau.. happy



08 Februari 2012 15:34:41

0
0

Tidak hrs sampai luar negeri , coba jalan2 di Thamrin atau Sudirman.

Sebuah Baliho yg bersifat penyuluhan penghijauan oleh seorang Ibu pejabat ( malu menyebut namanya ) rekayasanya juga lucu .

Dalam hal rekayasa foto menurut saya suatu hari juga tidak akan berguna karena masyarakat akan semakin mengerti fotografi .

Dg melek fotografi maka rekayasa foto semakin mudah terlihat.

08 Februari 2012 15:55:17

0
0

Saya pernah nulis tugas kampus tentang ini nih, dulu saya bahas tentang Adnan Hajj , seorang photographer kontroversial yang mengcloning di photoshop asap gedung yang sedang terbakar dan flare untuk menghindari rudal. coba googling deh nama diatas.

tapi sebenarnya rekayasa dalam jurnalistik juga terjadi sebelum era digital seperti menurut mas Fehmiu diatas, saya pernah membaca article yang menulis tentang pasukan marinir yang ramai2 mendorong bendera amerika di Iwo Jima saat perang adalah telah disetting untuk retake 2nd shoot karena sebenarnya bendera telah berdiri ketika photographer akan mengambil gambarnya.

tapi sekali lagi saya gak ambil kelas atau profesi journalistic, mungkin yang ahlinya lebih bisa sharing happy thanks

08 Februari 2012 16:00:37

0
0

@ Fehmiu Roffy Tavare: iya ya.. sampai segitunya mengatur korban. Kalau sehat wal afiat sih disuruh pose ini itu masih oke.. Lha itu udah korban kayak gitu kok ya masih disuruh pose. Memang sih biar terlihat dramatis. Tapi berlebihan jadinya.

@Harlim: ohh.. ibu pejabat yang katanya juga hobi fotografi itu ya? laughing

08 Februari 2012 16:44:08

0
0

Berbohong untuk kebaikan (katanya diperbolehkan)

Merekayasa untuk perbaikan foto jurnalistik (katanya tidak diperbolehkan)

______________________________________________

Berbohong dengan merekayasa foto dengan maksud kebaikan
(??????)

08 Februari 2012 17:59:26

0
0

fotografi jurnalistik itu memang harus jujur... kalau terdapat hal yg dilebih-lebihkan atau dikurangkan, artinya bukan masuk kategori jurnalistik lagi dong.. tapi masuk ke kategori OLDIG.... xixixi...

jurnalistik :: biar foto yg bicara.

08 Februari 2012 21:30:08

0
0

Kalau saat berfoto Anda dandan dulu, itu sudah rekayasa....Kalau mau asli, ya bangun tidur langsung difoto....

Dalam dunai jurnalistik, fakta dipaparkan dalam tulisan dan foto. Orang slelalu memasalahkan foto. Mengapa tulisan jarang dpermasalahkan ? Menghaluskan sebuah peristiwa kekerasan adalah sebuah rekayasa agar sebuah tulisan tidak menjadi vulgar. Dalam fotografi sama saja. Ada rekayasa yg mengubah fakta dan ada yg tidak. Biarkan seleksi alam bekerja. Kalau sebuah koran terus merekayasa dan hasilnya menggelikan, orang akan meninggalkannya kok....

Tak usah pusing soal rekayasa foto. Mulailah dari diri sendiri. Kalau Anda tak suka rekayasa, ya jangan lakukan. Tak usah mengomentari orang lain kalau merekayasa....

08 Februari 2012 21:37:56

0
0

Saya justru tertarik dengan masalah HDR dalam foto jurnalistik (contoh foto yang terbit di The Washington Post)..Apakah itu (HDR) menyalahi aturan foto jurnalistik? mengingat teknik memotret dengan HDR yang dirubah hanya setingan pencahayaan kamera (teknis fotografi), bukan setingan nilai beritanya.

Kalau pun dirubah setingan pencahayaan kamera, apakah itu juga merubah nilai beritanya? Saya pribadi tidak melihat perubahan nilai beritanya..

08 Februari 2012 21:43:23

0
0

Berbagai larangan dalam FJ itu terjadi karena kebanyakan yg melarang memang tak tahu apa itu rekayasa dan apa itu adjustment dgn software.

Kalau soal HDR, sebenarnya itu merujuk pada "peraturan" bahwa sebuah FJ harus dibuat dari 1 kali jepretan. Sementara file HDR kadang dibuat dari bbrp frame. Kalau masalah bahwa ini semata untuk pencahayaan, pihak2 yg melarang mungkin akan berpikir lain...

08 Februari 2012 22:05:02

0
0

Kalo pendapat saya sih, simpel aja :
Jurnalistik idealnya memberitakan "Kebenaran Sejujurnya" sebuah Peristiwa.

Ada perbedaan signifikan antara "Memperbaiki Tampilan Foto" dengan "Mengubah Isi Foto". Kedua bagaikan Bumi & Langit.
Tanpa berpikir njelimet pun sebenarnya sudah bisa dipahami kemana maksudnya.

Hanya saja, sayangnya seperti om ARB bilang :
Banyak yang belum bisa membedakan arti kata "Rekayasa" dan "Adjustment/Pengaturan Penyesuaian"

Gunakan hati nurani untuk menentukan, Jurnalis Foto seperti apakah yang diri kita inginkan happy

08 Februari 2012 22:42:37

0
0

hmmm..penjelasan om Arbain bikin saya lebih mengerti antara HDR secara teknis fotografi dan HDR dalam konteks foto jurnalistik.

Melihat kasus diatas (The Washington Post),John Omvik, V.P. Marketing, Unified Color Technologies melihatnya dari sisi fotografis...sementara Sean Elliot, presiden National Press Photographers Association (NPPA) melihatnya dari segi foto beritanya, dalam pengertian apa adanya..

HDR dalam foto tersebut (seperti yang dijelaskan om Arbain) dan pandangan Sean Elliot, jelas merubah/menambah komponen dalam foto itu, mengingat HDR menggunakan beberapa jepretan. Meski (mungkin) nilai beritanya tidak berubah-mengenai suasana jembatan itu- tapi dari sisi foto jurnalistiknya tetap berubah. Kenapa?karena dengan HDR, jepretan pertama belum ada pesawatnya (lihat contoh foto di Washington Post)..jepretan kedua bisa jadi belum ada pesawatnya, sementara mungkin pesawat baru 'nongol' setelah jepretan ketiga, empat atau seterusnya sebanyak yang diperlukan untuk membuat sebuah foto HDR... happy

Hmmm..sebuah pencerahan dan ketelitian dari seorang Sean Elliot dan om Arbain. Terima kasih masukannya om... happy

08 Februari 2012 23:53:31

0
0

Busyet, itu foto yang di share Mas Fehmiu jadi bikin gimana setelah lihatnya ... ironis dan sedikit lucu.

Awalnya, pemahaman saya tentang foto jurnalistik seperti yang Om Arbain Rambey sampaikan ... ... "sebuah FJ harus dibuat dari 1 kali jepretan", namun penjelasan beliau di awal pun sangat masuk akal, "...Kalau mau asli, ya bangun tidur langsung difoto..." (akhirnya jadi semakin bingung I don\'t know - New!)

Namun, pendapat saya tentang FJ adalah foto yang mampu menambah tingkat kedalaman sebuah tulisan. terutama mampu mengalihkan perhatian yang melihatnya dan kemudian memberikan prioritas untuk mengetahui apa "isi" dari tulisan tersebut dari tulisan-tulisan lainya.

Soal Rekayasa foto dalam Dunia Jurnalistik, saya akan kutip dari pendahulu diatas :

Harlim : "...karena masyarakat akan semakin mengerti fotografi.Dg melek fotografi maka rekayasa foto semakin mudah terlihat."thumbs up
Arbain Rambey : "...Kalau sebuah koran terus merekayasa dan hasilnya menggelikan, orang akan meninggalkannya kok...."thumbs up
Leonardo Kaharap : "Gunakan hati nurani untuk menentukan..."thumbs up

Rekayasa dari yang tidak ada kemudian menjadi ada, atau bukan setting yang sebenarnya seperti kasus foto saat pejabat memeriksa jalan rusak di Huili China, itu yang bagi saya memang tidak bisa diterima sebagai foto jurnalistik. namun cenderung kepada Laporan Kegiatan ...

Kembali saya kutip :

Fehmiu : "Kalau pun dirubah setingan pencahayaan kamera, apakah itu juga merubah nilai beritanya? Saya pribadi tidak melihat perubahan nilai beritanya."
Leonardo Kaharap : "Jurnalistik idealnya memberitakan "Kebenaran Sejujurnya" sebuah Peristiwa."

#paling enak memang meng-kutip ...big grin
Senang bisa belajar disini, not worthy

- salam -

09 Februari 2012 01:29:22

0
0

ijin menyimak dulu happy

Kategori