Forum

Wibowo Wibisono, Wibi | 18 Oktober 2011 22:19:02 |

0
0
71
Dilihat : 5313

Sekedar berbagi ...

Alkisah ratusan tahun silam sebuah kapal dari Tiongkok karam dan terdampar di pantai utara Jawa bagian barat. Para awaknya kemudian menetap dan bekerja sebagai petani dan nelayan. Mereka berasimilasi dengan penduduk setempat dan menghasilkan budaya peranakan.

Ratusan tahun kemudian, saya bersama Fitri, Andi, Ifan, dan Mas Boljug yang terbang dari Malang dan menggagas perjalanan satu hari ini, datang untuk menyaksikan kehidupan sehari-hari anak cucu mereka.

Berikut liputannya ...

Note: Di kemudian hari, keturunan mereka dikenal dengan sebutan Cina Benteng, mengacu pada Benteng Makasar yang pernah berdiri di daerah Tangerang, Banten.



18 Oktober 2011 22:20:34

0
0

Sebuah alat musik gesek dua senar mengeluarkan suara yang mengingatkan saya akan sandiwara lenong Betawi yang dulu sering ditayangkan TVRI. Kadang sepintas mirip juga dengan suara backsound film-film kungfu.

Alat musik ini memang berasal dari Tiongkok, bernama Teh-Yan, dan kerap mengiringi kesenian Gambang Kromong. Yang memainkan bernama Oen Sin Yang atau lebih dikenal dengan panggilan Goyong.

Siang itu kami singgah di rumahnya di daerah Sewan, Tangerang. Daerah yang merupakan salahsatu kantong komunitas Cina Benteng.



18 Oktober 2011 22:21:45

0
0

Sambil memukul gambang, Pak Goyong bercerita tentang usahanya melestarikan kesenian asli Benteng. Berbeda dengan waktu ia masih muda, apresiasi masyarakat terhadap kesenian Gambang Kromong kini telah jauh menurun.

Untuk menghidupi keluarganya, Pak Goyong menjual alat-alat musik Gambang Kromong. Semua dibuatnya sendiri di sebuah workshop kecil di sebelah rumahnya.



18 Oktober 2011 22:22:59

0
0

Ruang tamu sederhana pun menjadi showroom untuk men-display alat-alat musik buatannya. Semua tergantung di dinding. Selain Teh-Yan, ada Kong-Ah-Yan (mirip dengan teh-yan tapi berukuran lebih kecil), dan Shu-Kong (berukuran lebih besar).

Perjalanan hidup Pak Goyong tidak lepas dari peran mendiang sang ayah, Oen Oen Hoek, seorang seniman, pemimpin Grup Irama Masa. Sebuah kelompok kesenian gambang kromong yang sangat popular di zamannya.

Pak Goyong pun unjuk kebolehan bermain Srompet, alat musik tiup yang menyerupai terompet.



18 Oktober 2011 22:24:44

0
0

Masa kejayaan Grup Irama Masa tidak bisa lepas dari peran sang biduan wanita, Ncim Masnah, yang kini menginjak usia 85 tahun.

Mengawali kiprahnya di dunia gambang kromong sejak usia 14 tahun, wanita bernama asli Pang Tjin Nio ini adalah istri pertama dari Oen Oen Hoek, dan ibu tiri dari Pak Goyong.

Di rumahnya yang sederhana, masih di daerah Sewan, beliau berkisah tentang masa mudanya sebagai primadona gambang kromong. Pencapaian tertinggi Ncim Masnah dalam bidang tarik suara adalah ketika ia diundang ke Singapura untuk menyanyi dalam sebuah festival budaya Peranakan.

Note: "Ncim" adalah sebutan umum untuk nenek (wanita yang dituakan) di kalangan peranakan.



18 Oktober 2011 22:26:04

0
0

Lalu bagaimana sesungguhnya nasib kesenian gambang kromong hari ini? Benarkah sudah tidak berjaya seperti di zaman generasi Pak Goyong atau Ncim Masnah?

Konon, salahsatu cara efektif mempelajari budaya di satu tempat adalah dengan mendatangi upacara pernikahan di daerah tersebut. Di daerah komunitas Benteng, ada suatu tempat untuk menyelenggarakan pesta pernikahan. Namanya, Rumah Kawin.

Dari beberapa rumah kawin yang ada di daerah Sewan, hanya rumah kawin "Lim Liang Hok" yang hari itu sedang ada pesta pernikahan. Meski puncak acaranya masih nanti malam, para tamu sudah berkumpul di teras depan.

Dan tuan rumah pun menyambut kedatangan kami, tamu tak diundang ...



18 Oktober 2011 22:27:09

0
0

Bagi masyarakat Cina Benteng, kesenian gambang kromong adalah wajib hukumnya di setiap pesta pernikahan. Di teras depan rumah kawin, tempat sebagian tamu berkumpul, seorang penyanyi wanita melantunkan lagu-lagu keroncong dengan diiringi alat-alat musik tradisional dari kelompok gambang keromong.



18 Oktober 2011 22:27:57

0
0

Jangan tanya soal kualitas suara. Di sini vokal tidak diutamakan. Penampilan adalah segalanya.



18 Oktober 2011 22:29:31

0
0

Puncak pesta yang akan berlangsung nanti malam menampilkan sekelompok penari remaja wanita. Mereka akan mengajak para undangan untuk berjoget dan larut dalam tari cokek.

Larut? Ya, konon para tamu pria berjoget dalam keadaan mabuk. Benar atau tidaknya kami tidak tahu karena tidak menyaksikan sendiri suasana pesta di malam hari.



18 Oktober 2011 22:31:08

0
0

Di ruang depan rumah kawin terdapat dua buah meja panjang dengan hidangan di atasnya. Masing-masing meja diberi tulisan: "Masakan Tionghoa" dan "Masakan Indonesia."



18 Oktober 2011 22:32:29

0
0

Di luar kesenian gambang kromong, pelestarian tradisi leluhur dan identitas peranakan terlihat dari ornamen-ornamen yang terdapat di hampir setiap rumah.

Di bagian dapur, kami menemukan semacam ornamen persembahyangan yang ditujukan untuk penunggu (penjaga) dapur.



18 Oktober 2011 22:33:51

0
0

Begitu pula pada setiap pintu masuk rumah. Kertas Fu yang tergantung di atas pintu menjadi penanda apakah rumah itu milik warga pribumi asli atau warga peranakan, mengingat secara fisik keduanya hampir sulit dibedakan.



18 Oktober 2011 22:35:21

0
0

Menjauh dari Sewan, kami melaju ke utara, tepatnya ke daerah Teluk Naga. Di sebuah perkampungan di tepi muara Sungai Cisadane, tinggal seorang nelayan bernama Ah Kim.



18 Oktober 2011 22:36:59

0
0

Jauh dari stereotype masyarakat keturunan Tionghoa pada umumnya, Pak Ah Kim bersama istri dan tiga orang anaknya tinggal di sebuah rumah sederhana berdinding bambu.



18 Oktober 2011 22:38:37

0
0

Rupanya tidak hanya profesi nelayan yang dilakoni masyarakat Cina Benteng di daerah Teluk Naga. Tidak jauh dari rumah Pak Ah Kim, ada Weni, satu-satunya pemilik warung di kampung itu.



18 Oktober 2011 22:40:04

0
0

Bicara soal orang Benteng, tidak selalu tentang pekerja seni, petani, dan nelayan yang tinggal di pedesaan. Banyak juga yang menjadi pedagang dan tinggal di kota. Seperti pasangan suami istri ini yang menjalankan usaha kedai makan di dalam Pasar Lama Tangerang sejak tahun 1981.



18 Oktober 2011 22:42:03

0
0

Di dalam kedainya yang dipenuhi dengan poster dan potongan koran di dinding ini, orang berkumpul di pagi hari untuk sekedar menyantap kwey tiauw dan segelas teh panas.

Dari kedai sederhana ini, perjalanan kami dimulai. Tentunya waktu satu hari tidaklah cukup untuk mengeksplor seluruh kehidupan masyarakat Cina Benteng. Masih banyak yang ingin kami jumpai, tapi apa daya waktu terbatas.

Semoga suatu hari kami bisa kembali meliput salahsatu kekayaan budaya Indonesia ini.



18 Oktober 2011 22:44:12

0
0

Demikian sharing perjalanan satu hari kami dalam rangka mengenal lebih jauh komunitas Cina Benteng. Komunitas yang masih mempertahankan tradisi leluhur dan identitas sebagai warga keturunan Tionghoa, meski hanya lewat lembaran kertas Fu.



18 Oktober 2011 22:55:50

0
0

kereeeeen bro...bercerita..

18 Oktober 2011 23:31:48

0
0

amazing...

ternyata perkampungan seperti ini juga bisa menjadi tempat hunting yg menabjubkan,,
salut buat TS, ( om WIBI )
not worthynot worthynot worthy

18 Oktober 2011 23:43:51

0
0

Mantap! kebetulan lg blajar membuat documentary spt ini, saya suka cara bertuturnya, sharing yg berharga, terimakasih ya pak.

Kategori