Forum

Heru Muara Sidik | 29 Agustus 2011 13:42:40 |

Diskusi Fotografi > Bisnis Fotografi

0
0
19
Dilihat : 6091
Bagikan :

Tulisan ini saya buat untuk melengkap tulisan lain yang saya buat disini.

Banyak fotografer yang tidak pernah memperhitungkan biaya penyusutan alat, karena harga kamera yang relatif makin murah, dan harga jual kembali yang juga relatif tinggi, sehingga boleh dibilang nilai penyusutannya cukup rendah, padahal dalam bisnis, kita harusnya berpikir konservatif, artinya kita harus memperhitungkan biaya setinggi mungkin untuk mengantisipasi kerugian di masa depan.

Pada prinsipnya semua perhitungan penyusutan menurut akuntansi, mengandung yang namanya "ESTIMASI", atau supaya jelas saya rinci, beberapa hal berikut yang memerlukan estimasi, yakni;

  • Umur teknis kamera/aset - biasanya diukur berdasar jumlah shuttercount
  • Umur ekonomis kamera/aset - tergantung persepsi dan juga teknologi
  • Umur teknologi kamera/aset - pada jaman sekarang makin pendek
  • Nilai sisa/harga bekas kontinuitas suatu usaha - kadang terbatas oleh masa kontrak tempat usaha tsb.
  • Inflasi - ini jarang dipertimbangkan, tapi kalo mau dihitung boleh aja, dengan menganggapnya sebagai faktor index kemahalan [i].


Kenapa saya sebutkan sebagai sebuah estimasi? karena berapapun angka yang ditulis, masih bisa diperdebatkan akurasinya. Oleh karena itu, biasanya segala sesuatu yang disebut sebagai estimasi, ditetapkan dalam "kebijakan akuntansi". Estimasi bersifat subjektif, dan sangat tergantung dari karakter agan dalam melihat masa depan, dimana proyeksi setiap orang terhadap masa depannya tidak lah sama.

Buat fotografer, pengetahuan ini penting karena akan berlanjut pada keputusan bisnisnya dalam menetapkan harga, menetapkan kebijakan ekspansi, dan menetapkan langkah-langkah bisnis lainnya.

Sedikit saya tambahkan, bahwa umur teknis, ekonomis ataupun teknologi hanya sebuah cara pandang subjektif atas "persepsi" pelaku bisnis dalam menghitung "biaya penyusutan". Mana yang akan dipilih? - jika agan seorang yang konservatif, agan akan memilih umur yang PALING PENDEK, tapi jika agan seorang yang progresif, tentu akan memilih yang PALING LAMA, karena dampaknya akan berbeda. Berikut dampak dari pemilihan umur aset tersebut;

Contoh ;

Umur teknis = 150.000 shuttercount, kalo perminggu memotret sebanyak 500 klik, umur teknis akan tercapai dalam 300minggu atau 5,7tahun.

Umur ekonomis = faktanya shutter release bisa tetap bekerja melebihi 150.000 shuttercount, atau paling tidak mencapai 200.000 klik, maka dengan asumsi setiap minggu memotret sebanyak 500klik, maka umur ekonomis akan tercapai dalam 400minggu atau 7,7tahun - ini lebih lama lagi.

Umur teknologi = setiap 2tahun sekali, rata-rata keluar produk baru yang lebih unggul secara teknologi, lebih murah dan lebih berkualitas. Apakah agan akan ganti kamera setiap 2 tahun? Kalo jawabannya iya, berarti umur teknologi kamera agan, ya cuma 2 tahun.

Nilai sisa/harga bekas - Untuk menghitung penyusutan, memang perlu menghitung nilai sisa, tapi jangan salah. Perkiraan nilai sisa biasanya jauh lebih kecil dari harga belinya, atau rata-rata sekitar 20% dari harga barunya. Padahal dipasaran sekarang, kamera D70 kit yang dulunya dijual dengan harga 12juta, harga bekasnya sekarang sekitar 3juta (25%). Begitu juga lensa, yang dulunya harga Sigma 50-500 = Rp9juta, bekasnya sekarang bisa dijual dengan harga Rp9juta juga, atau sama dengan tidak ada penurunan, maklum harga barunya sekarang mencapai Rp15juta.

kontinuitas suatu usaha - akuntansi mengasumsikan bahwa semua bisnis akan hidup berkelanjutan sepanjang masa, namun dalam prakteknya, tidak semua usaha bisa bertahan lama. Ada yang hanya mampu bertahan selama masa sewa masih berjalan, setelah itu tidak sanggup lagi bayar sewa. Ada juga yang sewa belum berakhir, tapi sudah kesulitan uang tunai, akibatnya bangkrut sebelum kontrak berakhir. Disini, fotografer mesti punya VISI jangka panjang, apakah akan terus atau hanya sekedar uji nyali, guna mengasah bakat wirausaha? Batas umur bisnis bisa lebih pendek atau lebih lama daripada masa kontrak, oleh karena itu saya sarankan untuk mempertimbangkan masa kontrak sebagai umur penyusutan. Inflasi, karena penyusutan aset tidak pernah mempertimbangkan inflasi, maka saya akan masukan sebagai perbandingan atau contoh saja, supaya nanti terlihat perbedaannya, apakah ini layak untuk diperhitungkan atau tidak, saya kira itu semua tergantung subyektivitas masing-masing aja ya. Pada contoh ini, ane pake 0.25% per bulan biar simpel, walaupun pada kenyataaanya sangat bervariasi dan bahkan bisa aja malah deflasi.

Nah dari contoh-contoh tersebut diatas, sekarang kita perkirakan biaya penyusutannya, dimana nilai penyusutan terbesar adalah ketika kita memilih umur terpendek, dengan nilai sisa yang paling rendah. Lebih jelasnya bisa ane kasih ilustrasi berikut ini;

(A) Harga Kamera = 10juta
(B ) Nilai sisa = pilih 20%, 25%, atau 0% dari harga beli kamera
(C) Umur kamera = pilih 12 bulan, 24 bulan, 5,7tahun, atau 7,7tahun
(D) Faktor inflasi = saya masukan karena cukup masuk akal buat di perhitungkan, jadi saya anggap aja sebagai faktor [i] atau indeks kemahalan. Dalam contoh ini, anggap aja 0.25%perbulan. Jadi inflasi = [i] x (C)

dimana
(C) = periode penyusutan/umur kamera
[i] = 0.25%

Inflasi sendiri akan berdampak langsung pada harga beli pada saat barang dihapus bukukan. Jadi harga barang baru ketika barang lama dihapus bukukan adalah (A) * [1+(D)]

nah kalo inflasi dihitung maka
[(A) *[1+(D)]-(B )]/(C) = biaya penyusutan per periode

Jadi :
pendekatan PROGRESIF : [(10juta*123%)-(Rp2.5juta)]/(92bulan)=Rp106.521,73/bulan
pendekatan KONSERVATIF : [(10juta*103%)-(Rp1)]/(12bulan)=Rp858.333,25/bulan

nah kalo tanpa inflasi maka
[(A)-(B )]/(C) = biaya penyusutan per periode

jadi :
pendekatan PROGRESIF :[(10juta)-(Rp2.5juta)]/(92bulan)=Rp81.521,73/bulan
pendekatan KONSERVATIF : [(10juta)-(Rp1)]/(12bulan)=Rp833.333,25/bulan

Baik dengan inflasi maupun tanpa inflasi, jika (B ) dipilih nilai yang paling kecil, dan (C) dipilih nilai yang paling singkat, sudah bisa dipastikan bahwa biaya penyusutan terbesar adalah yang terbaik buat anda yang konservatif. Dengan demikian harga jual anda akan mempertimbangkan harga penyusutan yang memang mahal. Tujuannya supaya anda bisa memulihkan kemampuan ekonomi anda, supaya naik kelas jadi fotografer yang lebih mapan, dan pasar yang lebih mahal dengan kualitas lebih unggul lagi. Dengan pandangan ini, anda akan mendapat arus kas yang lebih besar karena biaya penyusutannya terlihat besar, namun sifatnya non-cash. Kalo penjualan meningkat, dan perkiraan anda atas umur aset ternyata "salah" (baca: umurnya lebih singkat dari perkiraan) maka anda malah di untungkan karena kesalahan itu berarti anda punya kemampuan ekonomi lebih kuat untuk membeli aset yang lebih baik lagi.

Buat anda yang progresif dan yakin bahwa hari esok akan selalu lebih baik, maka anda bisa dapat harga penyusutan paling rendah, karena itu bisa jualan dengan harga sangat murah. Jika ini yang anda mau, anda harus siap menghadapi resiko kegagalan memulihkan kemampuan investasi anda di masa depan, dan tetap jadi fotografer golongan ekonomi lemah sepanjang masa. Dengan pandangan ini, biaya penyusutan relatif rendah, dan kelihatannya ada keuntungan lumayan besar, walaupun harga jual relatif murah, namun sebagian pengeluaran sifatnya tunai, sehingga sebesar apapun peningkatan penjualan, kemampuan likuiditas kas anda tetap lemah. Apalagi jika perkiraan anda atas umur aset ternyata "salah" maka anda akan dirugikan karena kesalahan tersebut berarti kemampuan anda memupuk tabungan untuk mengganti atau menambah aset produktif akan makin lemah.

Oh iya, sebelum saya terlupa... (maklum sudah tua...) perlu di beri CATATAN, bahwa semua uraian diatas adalah pendekatan manajemen akuntansi, jangan samakan dengan teori akuntansinya ya. Prinsipnya sih sama, tapi manajemen akuntansi lebih menjembatani antara bisnis-akuntansi, sehingga banyak menggunakan pendekatan yang keluar dari teori dasarnya, atau bahkan menggabungkan berbagai aspek keuangan supaya tingkat akurasinya sesuai dengan ekspektasi setiap individu. Kalo untuk teori akuntansi tentang penyusutan, coba googling aja, nanti juga ketemu kok, bahwa penyusutan aset itu punya beberapa metode , seperti: straight-line method, declining method, double-declining method, sum of the year digit - method, unit of production method, dan lain sebagainya... semua metode itu bertujuan untuk kepentingan pencatatan akuntansi. Sedangkan yang saya tuliskan di atas hanyalah sebuah ilustrasi untuk menyadarkan banyak rekan fotografer yang sering pasang harga murah, padahal ada nilai aset yang dikorbankan.

semoga bermanfaat.

salam,

heru m sidik

Beri Komentar

Panduan mengenai tata cara pemberian komentar bisa dibaca di sini

Silahkan login atau daftar untuk dapat memberikan komentar.

29 Agustus 2011 17:53:26

ijin bookmark Om happy

29 Agustus 2011 19:00:27

ilmu nih.... mantap... bookmark dulu deh thumbs up

29 Agustus 2011 19:38:53

kalau saya patokannya, intip harga sewa kamera seperti misalnya di www.sewakamera.com ... masukkan alat2 yang kita pakai dalam pemotretan itu dalam harga produksi.... duitnya disimpen buat beli gear baru...

ngitungnya lebih mudah daripada ngitung penyusutan.. hee hee hee hee

29 Agustus 2011 21:06:18

ini penting, thanks om TS

29 Agustus 2011 21:55:12

Sip..
Telah tercatat dlm buku kecil panduan saya... happy

Ini juga salah satu strategi yang sangat baik utnuk kemajuan usaha Fotografi.
Wajib diketahui bagi mereka yg ingin usahanya menjadi lebih besar dari yang sekarang...

Sekali lagi, terima kasih banyak utk ilmunya om HMS... happy

29 Agustus 2011 22:11:59

Ada itungan buat lensa nggak om?
Dulu pernah lensa 28-135IS, beli tahun 1997, dijual tahun 2005 atau 2006.
Dgn harga baru skrg 4.1jt, waktu saya jual laku 3.2jt, artinya penyusutan selama 8-9 tahun hanya Rp.800rb, atau Rp.100rb pertahun.

29 Agustus 2011 22:42:21

mantap!!!! jadi kepikiran pengen cepet2 usaha sebelum sutter countnya abis. . . happy

29 Agustus 2011 23:24:53

tambah ilmu & pengetahuan.... tks mas HMS

30 Agustus 2011 03:35:18

Pencerahan yg apik...thx infonya om...happy

30 Agustus 2011 04:37:07

Ahh, ada lanjutannya happy Makasih om thumbs up

30 Agustus 2011 06:18:45

@ All : Thanks semuanya atas masukan dan sarannya.

@ Widianto H. Didiet : Metode yang dipake oleh Mas Didiet juga boleh kok, yang penting sebenarnya NIAT NABUNG, melalui metode penyusutan yang menunjukkan bahwa kita sadar perlunya peremajaan alat, atau bahkan penambahan alat. Makin besar kita sisihkan makin baik, itu menurut pendekatan konservatif. Terimakasih masukannya mas, berarti sekarang tabungannya Mas Didiet sudah GEMUK ya...

@ Yadi Yasin : Untuk lensa, saya malah udah kasih contoh yang lebih ekstrim tuh... bayangkan sigma 50-500mm, dulunya saya beli cuma 6.5jt (waktu itu harga baru 9jt), tapi saya beruntung karena sekarang harga barunya mencapai 15jt, maka harga lensa bekasnya bisa mencapai 9jt. Jadi malah untung 2.5jt.

Nah buat itungan bisnis ini namannya COAN, tapi dalam realitanya, uang yang kita tabung dalam bentuk penyusutan, bukan dipake buat beli lensa yang sama, tapi buat upgrade atau tambah lensa yang lebih MUDA dan SEKSI, dan pastilah lebih MAHAL.... karena bisa saja terjadi sebaliknya di mana umur lensa yang kita perkirakan ternyata lebih pendek, misalnya lensa jatuh ke laut, dan hilang ditelan hiu...

ngomongin soal lensa, bukankah om Yadi lensanya wide semua... .. happy

30 Agustus 2011 09:43:03

Terima kasih banyak om Heru, sharingnya sangat bermanfaat sekali.

Kalau Mas Yadi sih emang lensanya wide semua, mungkin mengikuti bentuk tubuhnya yang wide juga... *mohon ijin kabur*

30 Agustus 2011 09:57:58

Untuk lensa saya pikir tidak bisa dipukul rata penyusutannya. Mungkin harus dikatagorikan lagi berdasarkan lensa limited edition, atau lensa sejuta umat.
Untuk lensa yang limited edition (collectible item), tidak ada patokan resmi harga jual kembalinya.

Oh ya, sekedar menambahkan, selain perhitungan nilai penyusutan dari barang2 capital kita, juga jangan lupa memasukkan faktor biaya perawatan/maintenance cost sebagai biaya operational (Walaupun presentasenya cukup kecil, mungkin kurang dari 5% )
Perawatan biasanya dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Perawatan berkala (Preventive maintenance)
2. Perawatan tak terduga (Corrective maintenance)

Dalam hal ini, untuk perawatan berkala ini termasuk biaya untuk pembersihan sensor, pembersihan lensa, biaya penyimpanan (biaya dry box, biaya dry gel), dll.
Sedangkan Perawatan tak terduga misalnya jika terjadi failure pada kamera, misalnya mirror copot dan harus beli lem uhu, dll *lirik Mas yadi*

30 Agustus 2011 15:02:47

Bener tuh... mas Heru Tiarap ... elemen elemen biaya perawatan sebenarnya bisa di hitung juga, ibaratnya perawatan mobil juga perlu uang kan. Kalo komputer mac ada semacam "garansi service" yang bisa dibeli dengan dibayar dimuka. Mirip dengan asuransi kerusakan, kalo di peralatan fotografi, kayaknya belum pernah dengar tuh, paling banter garansi service 1+1 seperti yang ditawarkan produsen kamera, tapi gak berlaku buat lensa... hiks... itu juga kalo lensa jadul udah gak ada garansi!

Terimakasih buat masukannya mas Heru... semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT... amin...

03 September 2011 23:02:47

thx masukannya Mas Heru.. sangat berguna sekali.. untuk menentukan harga jual foto.. kita perlu melihat faktor penyusutan kamera agar sebanding antara pendapatan, biaya penyusutan alat dan faktor resiko dalam usaha bidang fotografi. applause applause applause applause

10 September 2011 12:35:19

waduh,,,,,,keren buanget>>>>>

23 September 2011 16:38:01

dapet ilmu dari om heru... terima kasih sharingnya om happy,, izin bookmark om.. semoga bermanfaat buat saya.. thumbs up

23 September 2011 22:56:20

Setuju dengan om didiet happy

27 September 2011 07:00:30

terima kasih, sangat mencerahkan sekali tulisannya

Kategori