Forum

Heru Muara Sidik | 28 Agustus 2011 06:46:46 |

Diskusi Fotografi > Bisnis Fotografi

2
0
52
Dilihat : 29048
Bagikan :

Boleh percaya boleh tidak, banyak yang ingin kaya dari bisnis fotografi tapi tidak pernah tercapai, dan banyak yang sudah sangat kaya dari bisnis fotografi tapi kita tidak pernah tahu rahasia mereka bisa berhasil. Itu yang membuat saya ingin belajar fotografi lebih banyak lagi, terutama untuk membangun kewirausahaan di bidang fotografi.

Menurut saya:

1. Bisnis membutuhkan pengetahuan manajemen dan keuangan, yang merupakan "sisi lain" dari sebuah kewirausahaan, sehingga bisa menjual karya seni dengan nilai tambah yang luar biasa, bukan menjual foto seharga ongkos cetak dan uang lelah.

2. Fotografer adalah seorang seniman, yang sayangnya hidup dalam dunia yang begitu dicintainya, dengan sedikit pamrih asal bisa hidup dan menikmatinya rasanya sudah cukup. Banyak saya dengar fotografer yang ingin kaya namun jarang yang belajar mendalami seluk beluk bisnisnya dari "sisi lain" yang belum dikuasainya.

3. Menggabungkan dua sisi seni+manajemen administratif, bukan suatu yang mudah, namun bisa dilakukan dengan menyusun bisnis model yang tepat dan mencari mitra yang tepat untuk menutupi sisi kekurangannya, satu sama lain. Namun begitu, jarang ada kerjasama yang langgeng dari dua sisi yang berbeda ini, karena ketika berhasil, maka satu sama lain akan saling meremehkan dengan berkata:"keberhasilan ini adalah hasil kerja keras saya, tanpa anda saya mampu meraih sukses ini!". Justru kalo gagal malah gak masalah, karena sama sama saling menyalahkan pihak lain, seolah dirinya sendiri yang paling benar... he..he..he.. itu manusiawi sih.

4. Kenyataannya, diantara banyak pelaku yang jarang sukses, ada segelintir orang yang sukses luar biasa, dan punya reputasi hebat untuk terus berkarya dan jadi orang kaya. Siapa mereka ? Para maestro yang namanya cukup terkenal, banyak menulis, banyak berkarya, banyak pameran, banyak relasi kelas atas, banyak sponsor dan pekerjaan datang bertubi tubi, sampai mereka harus menolaknya.

5. Terlepas dari simplifikasi yang saya tuliskan di atas, rasanya memang dunia bisnis fotografi adalah suatu yang kompleks dan banyak ditulis oleh para fotografer asing, dalam buku buku mereka secara rinci dan menarik, sayangnya tidak semuanya aplikatif di Indonesia.

Saya tahu bahwa semua orang akan menjawab YA pada pertanyaan pada judul thread ini, namun tidak tahu caranya dan bagaimana memulainya. Dari semua pencarian saya tentang kendala bisnis dalam dunia fotografi, saya mencoba mencari dan menemukenali permasalahan ini, dengan terus belajar dan salah satunya adalah dengan membuat dokumentasi dari setiap hasil pencarian saya.

Untuk membuatnya menjadi lebih lengkap dan bermakna, saya mengajak rekan rekan semua untuk juga melakukan koreksi serta melengkapi segala informasi yang akan saya tulis secara bertahap di forum ini, jika memang semangat untuk membuat panduan bisnis fotografi terus bergelora dihati kita semua.... Jangan anggap saya adalah fotografer terkenal, apalagi profesional, tapi cuma fotografer seperti anda juga yang sedang belajar untuk merintis karir fotografi tanpa kenal lelah...

Mari kita belajar bersama, nah untuk memulainya, saya coba buatkan outline "Panduan Bisnis Fotografi di Indonesia" berikut ini;

1. Memulai bisnis dengan sederhana.
Pada bagian ini, kita sama sama membahas mengenai cara memulai bisnis dengan apa yang kita miliki saat ini. Penempatan pada bagian satu, bertujuan untuk memberikan dorongan bahwa bisnis tidak selalu harus menyiapkan rencana bisnis yang besar dan lengkap, apalagi dengan modal kuat, tetap cukup dengan semangat dan kecerdikan menyiasati keterbatasan yang ada. Pada titik ini, semua orang akan di hadapkan pada satu keraguan, dan ketika mulai melangkah, makin banyak kebingungan dan keraguan itu muncul dan buat para fotografer hebat, mereka akan mengatasinya satu persatu dan melangkah ke jenjang sukes berikutnya.
2. Mempersiapkan bisnis model yang tepat.
Pada bagian ini, saya membayangkan bahwa untuk menjadi besar kita harus tahu arah dan tujuan kita. Biasanya, kita hanya tahu, bahwa kita ingin sukses, tapi tidak pernah fokus pada kekuatan yang kita miliki untuk bisa melangkah sukses. Bisnis model akan mengarahkan kita tentang segala kekuatan dan kelemahan yang kita miliki, mirip dengan analisis SWOT, tetapi lebih lengkap dan menyadarkan kita bahwa kita tidak bisa sendiri.
3. Sistem adminstrasi yang baik.
Disini, banyak orang tidak menyadari arti pentingnya sistem kerja yang baik, banyak yang memulai bisnis dengan "KEPERCAYAAN" namun kenyataannya hanya akan berakhir pada "KECURIGAAN" yang menyulut pada banyak persoalan lain. Sistem kerja yang baik, akan membangkitkan nilai "KEPERCAYAAN" dan mengurangi tingkat "KECURIGAAN" sehingga semua orang bekerja dengan rasa aman serta fokus pada tugasnya.
4. Sistem pemasaran dan pengelolaan pelanggan.
Memasarkan dan mengelola pelanggan adalah elemen penting dalam mengelola produk JASA, dan hampir semua seniman (baca:forografer) merasa karyanya adalah kekuatan marketing, dan pelanggan akan datang membeli dengan sendirinya. Paham ini, hanya akan terjadi jika karya anda sangat istimewa, tapi untuk seniman yang pasaran seperti saya, rasanya perlu kemasan dan pengelolaan pelanggan yang mampu memelihara bisnis dalam jangka panjang.
5. Mengembangkan jaringan bisnis.
Pada bagian ini, sebenarnya adalah bagian yang paling sulit, dan tidak banyak orang yang berhasil, tapi selalu saja ada segelintir orang yang sukses. Mengembangkan jaringan bisnis adalah meningkatkan KAPASITAS layanan, sehingga jumlah konsumen akan berlipat ganda, bagaimana carannya mengKLONING diri anda, menjadi ribuan orang yang melayani ribuan pelanggan? Oleh karena itu saya mengatakan bahwa ini adalah bagian yang paling sulit, tapi bukan berarti tidak mungkin kan?

Sementara baru 5 ide itu yang muncul, walaupun dari setiap ide tersebut, nantinya akan muncul lagi sub-ide yang lebih rinci dan bisa jadi memerlukan detil yang lebih banyak lagi. Namun begitu, mudah mudahan ada diantara rekan rekan semua yang bisa memberikan masukannya. Atau mungkin punya pengalaman dan ingin sharing disini, sehingga akan semakin lengkap jika kontribusi anda di dokumentasikan disini. Tidak perlu takut salah atau di cerca oleh orang lain, karena seringkali yang mencerca tersebut adalah para kritikus handal yang kita butuhkan agar kita bisa semakin baik.

Buat para profesional dan maestro fotografi yang telah sukses, mohon dorongan dan masukannya agar semua tulisan disini tambah lengkap. Saya tidak bermaksud lancang untuk menggurui, namun justru sedang belajar dengan cara menyusun ide dan pemahaman saya tentang bisnis fotografi yang sedang menarik minat saya saat ini. Siapa tahu kelak, kita semua bisa bergabung dalam satu komunitas bisnis besar yang punya kode etik dan gelar profesi seperti dokter, pengacara, akuntan dsb. Semoga proses belajar ini bisa bermanfaat buat yang lain juga.

salam,
heru m sidik

Beri Komentar

Panduan mengenai tata cara pemberian komentar bisa dibaca di sini

Silahkan login atau daftar untuk dapat memberikan komentar.

28 Agustus 2011 20:26:41

Mantep infonya pak...salam

28 Agustus 2011 21:25:15

Bagi saya yg 100% menggantung hidup dari Foto..
Ini penting banget...

Karena memang berasa sekali "merangkaknya". Apalagi saya juga udah punya "Tanggungan Hidup".
Jadi perlu sedikit langkah ekstra, supaya bisa bergerak maju sedikit lebih cepat dari yang sekarang...

Dan pembahasan om HMS ini paling tidak bisa memperbaiki langkah2 kecil saya...

Terima kasih

28 Agustus 2011 21:53:45

Tulisannya menyejukkan hati yang galau antara main job & side job... big grin

28 Agustus 2011 22:50:16

Terima kasih sudah berbagi om, mencerahkan! thumbs up

28 Agustus 2011 23:38:39

ahh.. sadis ini tulisan.. makasih pak...

buat pemula bisnis fotografi bahkan yang sudah lumayan lama motret.. saya rasa ini tulisan banyak memberi masukan..

dan yang pasti, nusuk banget di hati saya..

great share.. udah lama banget saya gak liat thread bermutu kyk begini

big grin

29 Agustus 2011 00:14:40

karya tulis yg KEREN happy


saya sangat setuju (sepertinya semua) pemaparan tersebut.


sekedar ikut nimbrung sekaLigus 'CurCoL' big grin
saya termasuk golongan orang yg berbisnis motret karena Pengangguran bin gak pny kerjaan kantoran hee hee
mskpn (aLhamduLiLLah) bisnis mulai berjalan (sedikit) tp sudah terasa kendala selanjutnya. yaitu ttg 'Branding'.
seperti yg sudah disebut. untuk awal memang membuat SELFbranding. melekat pada pribadi. tp jelek ny pun seperti yg sudah tertulis.
TERJEBAK.
semua 'harus dilakukan sendiri'.
"one man show".
klo ga ikut motret. klien ga mau.


mgkn scr "psikologis" jg saya yg blm siap membuat 'karyawan siap saji' #:-s
karena untuk berbuat demikian ada bbrp faktor pertimbangan, yaitu keSeriusan, Loyalitas dan Dana happy dan kadang ketiga ny membentuk lingkaran "hantu" (setan) hehehe big grin


untuk mengembangkan bisnis perlu 'pembantu' alias karyawan. karyawan bisa didapat dgn UANG alias gaji / freelance, gaji (tetap) ato freelance tidak menjamin keSETIAan (loyal) karena mereka bisa sewaktuwaktu pergi dgn alasan apapun.
mskpn misal ny merka pergi tidak jd pesaing lgsg...ttp aja akan kelabakan ngerjain order yg sudah numpuk (misalnya)

sedangkan untuk mencari rekan kerja yg 'cocok' itu trnyt tidak mudah. bnyk yg bisa motret. tp "gaya" ny blm tentu sesuai. banyak yg bisa Layout album. tp 'selera' ny bisa beda jauh.

untuk melatih karyawan / mengambil freelance yg sesuai sering terkendala oleh dana. dan balik lagi... uang tidak mengenal kawan&lawan big grin


Jujur saya STRES big grin


bisnis itu rumit yah laughing ga heran lbh demen jd "pegawai" sja. terima perintah.terima duit. hee hee *no offense*

29 Agustus 2011 00:55:02

eumm ..menyimak dulu ahh

29 Agustus 2011 01:18:03

Ijin menyimak juga....

29 Agustus 2011 02:53:26

booking tempat dulu ne.......ulasannya menarik menarik....thanks om Heru buat tulisannya, salam kenal happy

29 Agustus 2011 04:20:29

@ Leonardo Kaharap: Waduh ada profesional mampir di sini, jadi bangga nih bisa dikomentari oleh pak Leonardo Kaharap. Saya rasa langkah setiap orang akan terlihat kecil, tapi jika di sharing dan di semangati, insyaAllah akan menjadi sebuah kekuatan dan jadi langkah besar jika dilakukan bersama sama.

@Arsi Aryanto : Jangan menyimak aja dong, mana nih kritik dan sarannya yang gurih asem manis itu... jadi ngiler nih.

@ Irvan : Romantika buat memulai bisnis sebenarnya sudah pernah juga saya rasakan walaupun bidangnya berbeda, juga latar belakang saya yang karyawan telah mempengaruhi cara saya mengambil keputusan.

Karakter seorang karyawan seperti saya memang hanya seorang "safety player" dan cenderung konservatif dalam mengambil keputusan. Itu sebabnya saya lebih suka berjalan hati hati, biar lambat asal selamat, dan berusaha menikmati semua prosesnya secara perlahan.

Banyak para "risk taker" yang lebih agresif dan berani, hasilnya : Ada yang sukses, ada yang GATOT (baca: Gagaltotal). Sementara yang pelan pelan, jarang yang GATOT tapi juga lama untuk merintis suksesnya.... itu sebabnya saya menawarkan rumus 20% dari kapasitas ekonomi yang boleh kita gunakan untuk bisnis, supaya kita punya kesempatan untuk BELAJAR dan GAGAL, siapa tahu di ujian yang berikutnya kita LULUS, maksimal 5 kali GAGAL, setelah itu baru BANGKRUT... .. he..he..he... sadis amat...!!

Semoga sih semuanya bisa sukses jalankan bisnisnya, dan akan lebih baik lagi jika ada wadah pemersatu untuk mengembangkan bisnis JARINGAN FOTOGRAFER GUREM, biar gak kalah gengsi sama fotografer PAPAN ATAS.

Salam,
heru m sidik

29 Agustus 2011 04:54:11

Tertarik akan judul berikut uraian dari penulis yang demikian berkesan,maka saya mencoba menjabarkannya sebagai berikut; Jika Ingin Kaya Raya Harus dari Bisnis fotografi ( Bisnis Owner) dan bukan Hanya sebagai fotografer saja ( Self Employee). Dimana Pak Heru M.S demikian jelas dan tegas memotivasi kita untuk bagaimana manajemen yang baik berikut marketingnya dan lain sebagainya demikian jelas dan rinci,semoga kita semua mendapat manfaat darinya.

29 Agustus 2011 07:52:57

Forum diskusi seperti ini yg saya tunggu2 thumbs up..
buat om Heru MS salam kenal dari saya...sya sdh dpt bayangan dari tulisan om di atas. tinggal mematangkan langkah saya untuk kedepanya...

29 Agustus 2011 09:08:51

yup winking semoga nanti ada bahsan ttg 'pengembangan bisnis' dgn detail bagaimana "memeliharaKaryawan" big grin agar kita bisa naik level menjadi Bisnis Owner. bukan hanya 'self branding'


juga cara mengatasi 'konflik internal'.... hee hee ya seperti klo partner yg ud jago keluar dr grup ato hubungan dgn Sub vendor..sperti percetakan, frame..dLL happy

29 Agustus 2011 09:24:40

Tertarik membaca judulnya. Setelah membaca saya dengan seksama, saya sedikit ingin nimbrung pendapat. Mengapa pembahasan berikut contoh kasusnya lebih mengupas tentang retail business (photography) atau lebih khusus ke foto pernikahan/wedding saja. Bukan secara general.
Padahal bidang fotografi itu sangat luas. Ada Corporate, Commercial, Stock, Food, dll. Dan kalo boleh jujur, justru bidang2x tersebut yang justru lebih banyak menghasilkan fotografer yang sukses secara materi. Kan judulnya mengambil kata "Kaya Raya". Apalagi rekan2x disini banyak yang belum paham tentang bisnis fotografi yang melibatkan pihak lain spt : ad agency, produser, stylist,tim produksi, tim creative, dll.
Mungkin yang punya pengalaman boleh nyumbang sharing disini..

29 Agustus 2011 10:38:36

heheheh,...saya juga terjebak antara mau nyemplung beneran di fotografi atau masih jadi "safe player",karena jujur saja kalau nymeplung beneran saya belum cukup percaya diri,baik gear maupun skill...,walaupun sudah lumayan banyak job motret yg saya tangani,cuman saya rasa,ketetapan hati saya inilah motor utamanya,hati kecil masih maju mundur big grin

Tulisan mas Heru ini benar2 memberi sebuah pencerahan (walaupun saya masih tetep ragu2 big grin)

29 Agustus 2011 11:04:55

@ Ali Usman : Terimakasih masukannya mas, bagaimana kalo mas Ali Usman ikut kontribusi mengenai hal hal tersebut yang sudah disampaikan, harap maklum, karena memang tulisannya belum lengkap, nanti masukan mas Ali Usman saya coba berikan ulasannya. Kalo nanti ada yang salah atau kurang tepat mohon koreksinya ya mas.... pleasee..... lebay mode: on

@ Ida Bagus : Ragu ragu itu biasa bli... saya juga begitu. Saya yang konservatif, pasti punya keraguan, nah kalo kita bisa menuangkan dalam sebuah bisnis model, maka nantinya akan lebih yakin dan percaya diri, apalagi jika kita banyak diskusi dengan rekan rekan yang sudah profesional, maka kepercayaan diri akan makin kuat dan pada akhirnya kita akan lebih YAKIN dan keraguan itu akan terkikis dengan sendirinya...

@ All : untuk semua saran dan ide ide lainnya, nanti saya coba ulas juga secara bertahap sesuai kemampuan saya lho, jangan saya di anggap serba tahu...

Terimakasih,
heru m sidik

30 Agustus 2011 04:02:44

@mas Heru Muara Sidik :
Mungkin uraian tulisan saya dibawah ini melenceng dari tulisana mas Heru, pada prinsipnya saya juga ingin menjadi kaya raya dari business photography dan cara ini yang saya tempuh dan gulati, apakah saya akan berhasil, ini masih menjadi suatu tantangan dan perjuangan besar.

Selama 27 tahun terakhir saya hanya seorang "safety player" di sebuah perusahaan Pharma Industri, tetapi dalam mengambil keputusan baik keputusan tekhnologi maupun applikasi yang akan dipakai oleh perusahaan tempat saya bekerja, saya harus aggresif karena time is money, market share (sebagai monopolis) adalah segala galanya, sampai tiba waktunya bagi para senior kantor saya bekerja (kalau boleh saya sebut demikian) para senior diatas umur 50 (termasuk saya sendiri) dengan sopan dan kejamnya harus berhenti baik berhenti sendiri sendiri atau diteror dengan halus supaya berhenti atau di PHK dengan mendapatkan "golden handshake".

Sampai saat ini saya masih survive sebagai 3 terakhir yang belum di PHK dan Insya Allah perjalanan hidup sebagai pencari nafkah nomer dua dikeluarga masih panjang, sehingga mulailah 3 tahun yang lalu rencana dibuat untuk dapat menjembatani 10 tahun kedepan, karena masa pensiun saya di Austria baru bisa dinikmati kalau saya berumur 65 tahun.

Photography yang mana ?

Pilihan saya adalah photography, tetapi photography di bidang business telah dilakukan oleh banyak orang, apalagi untuk photography dibidang prewed, industry, periklanan dsb. sudah sangat banyak yang melakukannya. Pekerjaan utama saya dibidang IT di Pharma Industri dimulai dari sekedar hobby yang kemudian menjadi mata pencarian utama saya selama 27 tahun terkahir dan pilihan saya untuk 10 tahun kedepan adalah pekerjaan dibidang photography yang tetap bisa dilakukan untuk meneruskan hobby, tetapi juga harus sesuatu yang jarang atau baru sedikit dilakukan oleh kebanyakan Photographer lainnya, supaya saingannya sedikit dan tentunya saya harus mampu untuk melakukannya se profesional mungkin, pilihan saya jatuh pada Aerial Photography.

Pertanyaan saya selanjutnya adalah :

  • Aerial Photography harus dimulai dari mana ?
  • Medium apa yang akan saya gunakan, Helikopter, Balon udara, Pesawat ringan, Motor Para Gliding, Kite, Aeromodel,dsb.
  • Penggunaan Helikopter maupun pesawat ringan tidak terbayar oleh saya, karena jam terbang yang sangat mahal.
  • Penggunaan Balon udara telah saya lakukan beberapa kali, sulit untuk membuat penerbangan rendah di daerah industri, Balon udara sangat tergantung kepada situasi angin dan lebih cocok untuk pembuatan foto foto pemandangan.
  • Penggunaan para Gliding dengan menggunakan rucksack motor atau tanpa rucksack motor sudah saya coba, tidak semudah yang dibanyangkan untuk dapat membuat foto dalam suatu penerbangan, apalagi saya sudah pernah terjatuh 2 kali dari ketinggian dibawah 10 meter karena terlalu pagi menarik tali pendaratan. alangkah nikmatnya hidup kalau badan sehat, kaki atau badan tidak harus patah patah demi sesuap nasi.
  • Penggunaan Kite untuk Aerial Photography tidak fleksible dan lokasinya sangat statis dan juga sangat tergantung oleh angin.
  • Penggunaan Aeromodel sudah banyak yang mencoba, tetapi informasi yang tersedia di Internet sangat terbatas dan baru sebatas hobby saja, informasi penggunaan Aeromodel baik untuk Aerial Photography maupung Aerial Videography untuk bidang industri masih sangat terbatas sekali, jadi saya harus mulainya darimana ?
Tidak ada orang yang bisa saya tanya, hanya mbah Google adalah teman sejati saya, mulai dari membaca sebanyak mungkin artikel dari mbah Google, kemudian mencobanya.

Awalnya saya kira dengan mencoba sendiri saya bisa mendapatkan peralatan RTF (Ready to Fly), ternyata jauh dari impian, saya mulai kecil kecil terlebih dahulu dengan merakit sendiri dimana keuangan untuk dapur kehidupan tidak boleh sampai terganggu.

Pilihan untuk kebutuhan saya adalah MikroKopter, karena banyak alasan (bagi anda yang tertarik, anda saya persilahkan membaca tulisan saya di forum FN, link ada dibawah artikel ini) untuk digunakan sebagai sarana Aerial Photography.

Setelah saya memiliki MikroKopter pertama berupa QuadroKopter, saya membuat yang kedua, ketiga dst, ternyata masih dipandang sebagai mainan, katakanlah mainan orang dewasa dan bagaimana saya dapat mengetahui kebutuhan akan Aerial Photography atau Aerial Videopgraphy di Indonesia ?

Presentasi
Presentasi adalah kuncinya.
Setiap kali saya berlibur ke Indonesia (sampai saat ini 2 kali setahun) saya selalu membuat presentasi mengenai MikroKopter dengan peralatan yang sangat sederhana (anda dapat membaca di Link dibawah tulisan ini).

Dalam presentasi sederhana ini saya mengundang grup kecil seperti biro periklanan atau industri perminyakan untuk dapat mengetahui adakah kebutuhan akan Aerial Photography di Indonesia.

Untuk mendapatkan grup yang tepat saya harus mempunyai 1 atau 2 teman pada posisi kunci yang mempunyai banyak kenalan pula, kalau tidak demikian saya hanya bisa bermimpi terus, karena sejak 37 tahun saya hidup merantau di Eropa, teman saya di Indonesia bisa dihitung dengan jari.

Dari Presentasi ini saya mendapat kesimpulan bahwa tingkat business Aerial Photography (masih dalam impian saya) sangat membutuhkan alternatif lain selain penggunaan Helikopter benaran maupun penggunaan pesawat ringan.

Untuk dapat membuat Aeriap Photography dengan MikroKopter, dibutuhkan
  • perangkat MikroKopter profesional (dapat terbang rendah dengan kecepatan angin sampai max 25~30 km/jam, mengunakan perangkat elektronik seperi Computer board, Gyro Scope & sensor sensor lainnya, GPS, Navigation System, Kompas, Way Point, mampu mengangkat Payload seperti Canon 5D MKII, Transmitter untuk Live View dsb. dsb.),
  • Kamera profesional dan
  • Seorang pilot andalan yang sangat profesional dalam menerbangan MikroKopternya.
dan sialnya saya harus melakukan semuanya seorang diri.

Partner business
  • Know How Mencari partner business yang juga merangkap sebagai pilot MikroKopter yang tidak akan membawa lari "Know How" jerih payah dan "keringat darah" saya dalam membuat prototype sampai bisa terbang dengan stabil dan nyaman adalah masalah berikutnya, sampai saat ini partner business saya baru sebatas seorang anggauta keluarga di Indonesia.
  • Modal.
    Tidak ada calon partner business yang mau mengeluarkan uang untuk ikut membiaya proses pembuatan Prototype yang belum diketahui apakah akan sukses terbang dan mempunyai banyak client seperti direncanakan semula.
    Terpaksa setiap sen uang saku bulanan (setelah 2/3 penghasilan disetor ke Isteri untuk keperluan rumah tangga) yang ada dikeluarkan untuk hobby yang mungkin kapan kapan akan menjadi penghasilan utama saya.

    Sampai saat ini saya telah merakit 15 buah MikroKopter, menggunakan banyak tekhnologi canggih baik penggunaan elektronik maupung pengunaan bahan bahan untuk frame MikroKopter seperti Alumunium, Fiber Glass dan Carbon Fibre dan sejak Desember 2010 saya hanya merakit prototype untuk memenuhi kebutuhan Industri, hanya dengan cara ini saya dapat mempelajari kelemahan MikroKopter dengan daya angkat, stabilitas penerbangan tinggi.
  • Infrastruktur
    Disini saya harus membangun Infrastruktur dengan partner business saya di Indonesia sedini mungkin seperti penyedian spare part, pelatihan terbang dengan MikroKopter untuk partner business saya yang juga akan merangkap menjadi pilot dan photographernya.

    Semetara ini partner business saya masih mengikuti pelatihan photography di kantor berita Antara setiap weekend selama 1 tahun.
  • Buka mulut
    Dan yang lebih sulit lagi adalah untuk mengajak bersama sama partner business untuk melakukan presentasi penggunaan MikroKopter sambil bicara memperkenalkan tekhnologi ini kepada calon pembeli jasa Aerial Photography.
  • Visi
    Kedepannya saya dan partner business saya harus memiliki visi untuk business Aerial Photography di Indonesia dan menjadi seorang ahli dibidang ini.
Adakah hasilnya ?
  • Sampai saat ini penghasilan yang diterima belum ada sama sekali. Uang yang dikeluarkan bagaikan gentong tanpa dasar, uang "ngocor" terus bagaikan air.
  • DSLR semi profesional yang babak belur sudah 4 buah.
  • Frustasi terberat adalah ketika prototype QuadroKopter (bermesin empat) terpkasa dijatuhkan dari ketinggian 100meter di Camargue, South of France akhir bulan Juli yl. dijatuhkan karena saya kehilangan orientasi ketika mengendalikan dari bawah dan tidak mengetahui dimana bagian depan dan bagian belakang pesawat, ditambah kepanikan kalau kalau sampai jatuh ditas orang dan kuda di ranch tempat saya latihan .
Hikmahnya.
  • Belajar banyak berkenalan dengan pengusaha di Indonesia dari sebuah hobby yang yang kelihatannya seperti mainan.
  • Belajar membuat presentasi supaya lebih profesional, maklum saya bukan orang dibidang marketing
  • Belajar membagi waktu untuk kerja di kantor (biasanya 12-14 sehari dikurangi menjadi 8-9 jam sehari) dengan Hobby dan keluarga
  • Belajar mendidik orang untuk menguasai Know How MikroKopter, walupun ini anggauta keluarga sendiri di Indoensia.
  • Tetap kerja keras walupun belum ada hasilnya dan sudah mengeluarkan uang untuk paling sedikit membeli satu set Digital Hasselblad 50M Pixel.
  • Belajar mengkombinasikan hobby lainnya yang juga saya lakukan secara intensiv, yaitu Underwater Photography dan insya Allah bersam sama dengan Aerial Photography. Link
    [AP]Aerial Photography dengan QuadroKopter

    [UWP] Pariwisata Taman Laut Bunakan dari "kaca mata" lain

    Salam dari Vienna, Austria
    etoy (Subagio Rasidi Kusrini)

  • 30 Agustus 2011 04:02:59

    Gambar 1
    Bentuk non standard sebagai letter V sebuah HexaKopter bermesin 6 yang mempermudah orientasi pengendalian dari bawah dengan Gimbal (Camara Platform) yang mampu untuk dimuat seperti Canon 5D MKII atau kamera Professional lainnya.

    Selama masa percobaan dan untuk mengurangi pengeluaran uang membeli pengganti kamera yang babak belur, sementara ini tidak saya pasang kameranya terlebih dahulu, gambar dibuat hari Minggu tgl 28 Augustus yl.



    30 Agustus 2011 04:03:09

    Gambar 2
    Prototype pertama saya, sebuah V-Kopter menggunakan 4 Brushless motor ukuran besar, penerbangan dilakukan disebuah ranch kuda di Camargue, Perancis selatan, setelah saya kehilangan orientasi keberadaan QuadroKopter ini terpaksa saya jatuhkan dari ketinggiaan 100 meter supaya tidak jatuh diluar kontrol dan meniban kuda dan penunggangnya atau jatuh diatas ranch yang penuh manusia. yang sedang latihan menunggang kuda.

    1 propeller dari bahan carbon fibre patah, 2 lainnya retak dan terpaksa dibuang, 80 Euro harga sebuah Carbon propeller, untung elektroniknya utuh seutuh utuhnya dan masih saya pakai terbang sampai saat ini pada sebuah V-HexaKopter yang terlihat digambar 1.



    30 Agustus 2011 04:03:19

    Gambar 3
    Pertengahan Juli 2011 yl selama 9 hari saya ke Jakarta untuk melatih keponakan saya menjadi Pilot QuadroKopter.

    Sebagai tempat latihan saya memilih UI di Depok, lokasi tepatnya persis dihalaman depan fakultas Elektro, kebetulan salah satu professor dari Fakultas Mesin adalah teman ex SMA saya dahulu (Prof. Wahyu Nirbito).

    Disni saya membuat latihan penerbangan setiap hari dan berkesempatan untuk berkenalan dengan berbagai lapisan Mahasiswa dan Dosen, mereka terdiri dari dari para dosen, mahasiswa maupun mahasiswa S2 dan S3. Hanya dengan melatih keponakan perempuan saya di tempat ini saya banyak mendapat pertanyaan berharga dan mengetahui bahwa MikroKopterpun telah digunakan oleh beberapa mahasiswa untuk keperluan penelitian antara lain untuk penelitian tanah menggunakan kamera IR.

    Grup yang terlihat di foto ini adalah mahasiswa Elektro yang pengetahuannya di bidang MikroKopter sangat luar biasa, pertanyaan pertama yang ditanyakan adalah PID parameter, dari mereka saya banyak mendapat informasi mengenai sulitnya mengembangkan tekhnologi canggih di Indonesia, karena terbatasnya komponen yang tersedia.



    Kategori