Forum

Heru Muara Sidik | 28 Agustus 2011 06:46:46 |

Diskusi Fotografi > Bisnis Fotografi

2
0
52
Dilihat : 28954
Bagikan :

Boleh percaya boleh tidak, banyak yang ingin kaya dari bisnis fotografi tapi tidak pernah tercapai, dan banyak yang sudah sangat kaya dari bisnis fotografi tapi kita tidak pernah tahu rahasia mereka bisa berhasil. Itu yang membuat saya ingin belajar fotografi lebih banyak lagi, terutama untuk membangun kewirausahaan di bidang fotografi.

Menurut saya:

1. Bisnis membutuhkan pengetahuan manajemen dan keuangan, yang merupakan "sisi lain" dari sebuah kewirausahaan, sehingga bisa menjual karya seni dengan nilai tambah yang luar biasa, bukan menjual foto seharga ongkos cetak dan uang lelah.

2. Fotografer adalah seorang seniman, yang sayangnya hidup dalam dunia yang begitu dicintainya, dengan sedikit pamrih asal bisa hidup dan menikmatinya rasanya sudah cukup. Banyak saya dengar fotografer yang ingin kaya namun jarang yang belajar mendalami seluk beluk bisnisnya dari "sisi lain" yang belum dikuasainya.

3. Menggabungkan dua sisi seni+manajemen administratif, bukan suatu yang mudah, namun bisa dilakukan dengan menyusun bisnis model yang tepat dan mencari mitra yang tepat untuk menutupi sisi kekurangannya, satu sama lain. Namun begitu, jarang ada kerjasama yang langgeng dari dua sisi yang berbeda ini, karena ketika berhasil, maka satu sama lain akan saling meremehkan dengan berkata:"keberhasilan ini adalah hasil kerja keras saya, tanpa anda saya mampu meraih sukses ini!". Justru kalo gagal malah gak masalah, karena sama sama saling menyalahkan pihak lain, seolah dirinya sendiri yang paling benar... he..he..he.. itu manusiawi sih.

4. Kenyataannya, diantara banyak pelaku yang jarang sukses, ada segelintir orang yang sukses luar biasa, dan punya reputasi hebat untuk terus berkarya dan jadi orang kaya. Siapa mereka ? Para maestro yang namanya cukup terkenal, banyak menulis, banyak berkarya, banyak pameran, banyak relasi kelas atas, banyak sponsor dan pekerjaan datang bertubi tubi, sampai mereka harus menolaknya.

5. Terlepas dari simplifikasi yang saya tuliskan di atas, rasanya memang dunia bisnis fotografi adalah suatu yang kompleks dan banyak ditulis oleh para fotografer asing, dalam buku buku mereka secara rinci dan menarik, sayangnya tidak semuanya aplikatif di Indonesia.

Saya tahu bahwa semua orang akan menjawab YA pada pertanyaan pada judul thread ini, namun tidak tahu caranya dan bagaimana memulainya. Dari semua pencarian saya tentang kendala bisnis dalam dunia fotografi, saya mencoba mencari dan menemukenali permasalahan ini, dengan terus belajar dan salah satunya adalah dengan membuat dokumentasi dari setiap hasil pencarian saya.

Untuk membuatnya menjadi lebih lengkap dan bermakna, saya mengajak rekan rekan semua untuk juga melakukan koreksi serta melengkapi segala informasi yang akan saya tulis secara bertahap di forum ini, jika memang semangat untuk membuat panduan bisnis fotografi terus bergelora dihati kita semua.... Jangan anggap saya adalah fotografer terkenal, apalagi profesional, tapi cuma fotografer seperti anda juga yang sedang belajar untuk merintis karir fotografi tanpa kenal lelah...

Mari kita belajar bersama, nah untuk memulainya, saya coba buatkan outline "Panduan Bisnis Fotografi di Indonesia" berikut ini;

1. Memulai bisnis dengan sederhana.
Pada bagian ini, kita sama sama membahas mengenai cara memulai bisnis dengan apa yang kita miliki saat ini. Penempatan pada bagian satu, bertujuan untuk memberikan dorongan bahwa bisnis tidak selalu harus menyiapkan rencana bisnis yang besar dan lengkap, apalagi dengan modal kuat, tetap cukup dengan semangat dan kecerdikan menyiasati keterbatasan yang ada. Pada titik ini, semua orang akan di hadapkan pada satu keraguan, dan ketika mulai melangkah, makin banyak kebingungan dan keraguan itu muncul dan buat para fotografer hebat, mereka akan mengatasinya satu persatu dan melangkah ke jenjang sukes berikutnya.
2. Mempersiapkan bisnis model yang tepat.
Pada bagian ini, saya membayangkan bahwa untuk menjadi besar kita harus tahu arah dan tujuan kita. Biasanya, kita hanya tahu, bahwa kita ingin sukses, tapi tidak pernah fokus pada kekuatan yang kita miliki untuk bisa melangkah sukses. Bisnis model akan mengarahkan kita tentang segala kekuatan dan kelemahan yang kita miliki, mirip dengan analisis SWOT, tetapi lebih lengkap dan menyadarkan kita bahwa kita tidak bisa sendiri.
3. Sistem adminstrasi yang baik.
Disini, banyak orang tidak menyadari arti pentingnya sistem kerja yang baik, banyak yang memulai bisnis dengan "KEPERCAYAAN" namun kenyataannya hanya akan berakhir pada "KECURIGAAN" yang menyulut pada banyak persoalan lain. Sistem kerja yang baik, akan membangkitkan nilai "KEPERCAYAAN" dan mengurangi tingkat "KECURIGAAN" sehingga semua orang bekerja dengan rasa aman serta fokus pada tugasnya.
4. Sistem pemasaran dan pengelolaan pelanggan.
Memasarkan dan mengelola pelanggan adalah elemen penting dalam mengelola produk JASA, dan hampir semua seniman (baca:forografer) merasa karyanya adalah kekuatan marketing, dan pelanggan akan datang membeli dengan sendirinya. Paham ini, hanya akan terjadi jika karya anda sangat istimewa, tapi untuk seniman yang pasaran seperti saya, rasanya perlu kemasan dan pengelolaan pelanggan yang mampu memelihara bisnis dalam jangka panjang.
5. Mengembangkan jaringan bisnis.
Pada bagian ini, sebenarnya adalah bagian yang paling sulit, dan tidak banyak orang yang berhasil, tapi selalu saja ada segelintir orang yang sukses. Mengembangkan jaringan bisnis adalah meningkatkan KAPASITAS layanan, sehingga jumlah konsumen akan berlipat ganda, bagaimana carannya mengKLONING diri anda, menjadi ribuan orang yang melayani ribuan pelanggan? Oleh karena itu saya mengatakan bahwa ini adalah bagian yang paling sulit, tapi bukan berarti tidak mungkin kan?

Sementara baru 5 ide itu yang muncul, walaupun dari setiap ide tersebut, nantinya akan muncul lagi sub-ide yang lebih rinci dan bisa jadi memerlukan detil yang lebih banyak lagi. Namun begitu, mudah mudahan ada diantara rekan rekan semua yang bisa memberikan masukannya. Atau mungkin punya pengalaman dan ingin sharing disini, sehingga akan semakin lengkap jika kontribusi anda di dokumentasikan disini. Tidak perlu takut salah atau di cerca oleh orang lain, karena seringkali yang mencerca tersebut adalah para kritikus handal yang kita butuhkan agar kita bisa semakin baik.

Buat para profesional dan maestro fotografi yang telah sukses, mohon dorongan dan masukannya agar semua tulisan disini tambah lengkap. Saya tidak bermaksud lancang untuk menggurui, namun justru sedang belajar dengan cara menyusun ide dan pemahaman saya tentang bisnis fotografi yang sedang menarik minat saya saat ini. Siapa tahu kelak, kita semua bisa bergabung dalam satu komunitas bisnis besar yang punya kode etik dan gelar profesi seperti dokter, pengacara, akuntan dsb. Semoga proses belajar ini bisa bermanfaat buat yang lain juga.

salam,
heru m sidik

Beri Komentar

Panduan mengenai tata cara pemberian komentar bisa dibaca di sini

Silahkan login atau daftar untuk dapat memberikan komentar.

28 Agustus 2011 08:16:35

Memulai dengan sederhana perlu dijabarkan dengan konkrit, apa saja profesi fotografer yang bisa anda lakukan sebelum benar benar terjun kedalam bisnis?

- jadi karyawan yang hobi fotografi
- jadi wartawan,
- jadi fotografer di perusahaan fotografi wedding (king, bridal, dsb).
- jadi pengajar tetap di tempat2 kursus atau sekolah,
- jadi asisten fotografer di studio foto (M-Studio, king, tarzan, jonas, dsb).
dan masih banyak profesi lain yang relevan dengan fotografi, sayangnya itu semua belum menggambarkan bisnis yang sesungguhnya, tapi lebih mencerminkan kita sebagai KARYAWAN atau BURUH, padahal kita ingin bisnis bukan? Nah untuk bisa bisnis kita harus belajar, dan belajar bisa dimulai dari profesi-profesi tadi. Ketika tiba saat nya untuk bisnis, barulah kita menyiapkan perangkat minimal yang kita punya yakni:

1. Niat dan semangat juang.
2. Peralatan seadanya plus sewa atau pinjam alat jika diperlukan.
3. Anda punya keahlian di bidang fotografi sambil mengerjakan sendiri semua urusan, yang mampu kita kerjakan, mulai dari menjual, mencetak, mencatat, dan melayani pelanggan sebaik baiknya. Lalu anda bisa menyerahkan segala urusan yang tidak mampu anda urus kepada orang lain yang lebih ahli dan punya peralatan yang diperlukan.
4. Jangan berpikir tentang kompetisi, karena kompetisi-lah yang membuat karya anda berbeda dengan karya orang lain, dan setiap orang punya pasarnya sendiri, sehingga kita harus fokus pada bidang fotografi dimana kita adalah ahlinya. Bangun "trademark" pada karya anda, bukan "watermark" yang mengotori karya anda. Trademark, akan menyebabkan karya anda unik dan berkesan. Memang tidak mudah menciptakan trademark, tapi paling tidak kita bisa belajar dari karya fotografer terkenal lainnya yang punya karya tampil beda.

Kelihatannya simple ya?
Karena memang tujuannya adalah memulai bisnis dengan sederhana. Biasanya, reputasi fotografer akan dipertaruhkan disini, karena kemampuan kita "mengelola dan melayani" sangat tergantung pada pengalaman yang sudah kita gali dari tempat lain, atau dari pengalaman jatuh bangunnya kita sendiri dalam mempelajari bisnis fotografi.

Kapan bisnis itu dimulai?

menurut saya :
Mulailah ketika kita tidak punya beban, masih muda, masih banyak bantuan yang anda terima dari orang tua dan saudara, atau mulailah ketika anda masih bekerja dengan tidak mengurangi tugas dan tanggungjawab kita pada pemberi kerja, usahakan untuk belajar memulai, agar resiko bangkrut relatif rendah. Semakin awal anda memulainya semakin besar peluang suksesnya, namun semakin terlambat anda mulai, semakin banyak stressnya, dan bikin anda sering sakit sakitan dan bahkan mati merana... he..he..he... jangan sampai deh... !

Langkah pertama yang bisa dimulai adalah belajar dari para fotografer profesional dan ikutilah berbagai seminar bisnis Gratis dan, berbagai seminar-seminar motivasi bisnis yang banyak ditawarkan. Dari situ kita akan banyak mendapat kan ilmu, dan dari seminar pernah saya ikuti, banyak yang menyarankan saya untuk segera TERJUN BEBAS tak perlu takut, karena setelah mengalami kesulitan biasanya disitu ada kemudahan dan kita akan naik kelas. Bagi saya, itu seperti JEBAKAN BATMAN supaya orang seperti saya berhenti kerja, dan mengejar mimpi yang di inginkan. Padahal mimpi itu belum pasti! Saya mencoba realistis, dan faktanya:

1. Bisnis yang sukses adalah bisnis yang benar benar kita geluti, sehingga segala permasalahan yang muncul benar benar bisa kita atasi. Melalui proses belajar dan diskusi, sebenarnya kita juga sedang belajar menggeluti bisnis, oleh sebab itu, jangan sungkan untuk menuliskan ide dan mencoba mencari teman diskusi supaya wawasan dan konsep bisnis kita semakin matang.

2. Jika sudah menguasai, sisik melik bisnis fotografi yang kita cintai ini, maka kita bisa memulainya dengan menyusun langkah kecil, untuk menguji PASAR atau paling tidak, mencoba membangun reputasi agar pasar bisa menerima kita. Berikut ini adalah langkah langkah sederhana yang bisa kita lakukan antara lain :

  • Mengikuti berbagai lomba fotografi, siapa tahu bisa menang, walaupun juara harapan sekalipun, cukup berharga buat di pajang, dan dibanggakan. Sesekali saya juga dapat penghargaan, walaupun lebih banyak gagalnya.
  • Menjual foto pada majalah atau dimuat di koran, siapa tahu dimuat dan nantinya bisa jadi portfolio kita juga kan, saya sendiri mengalaminya pernah dimuat dikompas, dan majalah elektronik, lumayan bangga lah.
  • Melayani foto wedding atau prewedd, rekan rekan dekat anda, dari sini anda akan semakin mampu meyakinkan pelanggan dan membangun portfolio anda juga. Pekerjaan ini hampir tidak pernah saya terima secara komersial, paling paling saya mencoba membantu teman, karena memang saya tidak ingin mengecewakan mereka, bukan karena tidak mampu memotret, tapi takut tidak bisa menepati waktu yang dijanjikan.
  • Menjual stok foto, terutama foto landscape, foto art dsb. Karya anda bisa dibungkus dengan bingkai sederhana, dan bisa dijual sebagai dekorasi interior apartemen atau perumahan yang saat ini sedang marak dibangun oleh developer. Sekali waktu pernah juga foto saya di sewa untuk kalender, yah lumayan lah dapat sedikit uang.
  • Walaupun gratis, memotretlah pada berbagai liputan acara kantor, pengajian, ultah maupun reunian, dan usahakan memotret dengan sebaik baiknya terutama para wanita, remaja dan anak anak, karena mereka adalah masa depan anda yang bisa memaksa para pria untuk membayar anda lebih mahal, dimasa depan. Jadi jangan lupa meninggalkan kartu nama anda sebagai fotografer.
  • Masih banyak peluang belajar sambil menghasilkan uang, melalui karya anda, dengan cara mengajar fotografi, membuat website, membuat buku, menjadi asisten bagi fotografer lain yang lebih sukses dari anda, dsb.
  • Ada saran dari mas Ali Usman, bahwa bidang fotografi Corporate, Commercial, Stock, Food, dll. merupakan sumber pendapatan terbaik, namun kita harus memahami peran pihak lain spt : ad agency, produser, stylist,tim produksi, tim creative, dll. Untuk hal ini, mudah mudahan ada yang mau memberikan pencerahan, namun jika ingin mengintip masalah fotografi korporat boleh langsung meluncur ke SINI.
3. Mengukur kekuatan diri pribadi juga perlu, agar kita tidak terpuruk di tengah jalan. Kekuatan ekonomi adalah ukuran paling konkrit untuk masalah ini, dan satu satu nya cara untuk bertahan dari hempasan ekonomi, adalah hanya menggunakan uang ekstra, atau uang orang lain yang percaya dan mau menjadi sponsor kita. Ini tidak mudah, karena tidak banyak orang yang terlalu bodoh mensponsori orang lain yang belum tentu menghasilkan, apalagi nanti kalo sudah sukses tidak ada balas budi, malah meninggalkan sponsornya gigit jari. Strategi untuk memikat sponsor adalah kemampuan kita menulis proposal, dan proposal yang punya peluang di terima adalah proposal yang realistis, dan banyak menjabarkan data kuantitiatif termasuk angka-angka keuangan yang "menjanjikan", serta dilengkapi dengan sedikit uraian mengenai sistem pengendalian internal yang memadai. Untuk masalah pembuatan proposal, mudah mudahan ada yang mau berbagi pengalamannya untuk kita semua.

4. Bila kita punya kekuatan ekonomi yang cukup, INGAT, hanya gunakan 20% saja dari kekuatan tersebut untuk MEMULAI usaha, karena kegagalan biasanya berangkat dari ambisi yang berlebihan. Sisa kekuatan yang 80% adalah sisa NAFAS anda untuk mengantisipasi segala resiko kegagalan dan mengulangi kesuksesan sedikit demi sedikit. Angka 20% bukanlah angka keramat yang harus anda patuhi, bisa saja anda seorang yang lebih percaya diri dengan angka 40% atau bahkan lebih, tetapi biasanya buat seorang pemula yang tidak berpengalaman, maka dengan angka 20% dia bisa punya peluang untuk melakukan 5 kali kegagalan sampai akhirnya benar benar bangkrut. Seichiro Honda bilang : Sukses adalah 99% KEGAGALAN, mudah mudah an kita tidak terlalu sering gagal untuk meraih sukses seperti Seichiro Honda.

5. Nasehat seorang akuntan buat kita semua adalah : Gunakan setiap rupiah yang anda miliki, hanya untuk membiayai kegiatan OPERASIONAL, yang punya LEVERAGE (daya ungkit) tinggi terhadap pendapatan anda. Jangan terjebak pada pengeluaran MODAL/CAPITAL (seperti pembelian alat yang mahal, sewa tempat yang mewah), atau pengeluaran TETAP lainnya yang tidak bisa anda kendalikan, seperti membayar karyawan cantik yang tidak bisa kerja, membayar fotografer tetap yang banyak nganggurnya, atau pengeluaran sejenis yang memaksa anda bangkrut. Mulai lah dengan segala sesuatu yang bisa dikontrol, antara lain;
  • Sewa semua peralatan yang relatif mahal dan tidak terjangkau pada saat awal kita memulai usaha.
  • Self-employed adalah tenaga kerja paling murah, paling banter gunakan jasa freelance supaya biaya bisa disesuaikan dengan budget pendapatannya.
  • Gunakan iklan GRATIS, dan jadikan pelanggan anda sebagai tenaga penjualan anda, ajak mereka untuk foto studio GRATIS, jika membawa pelanggan baru, atau tawarkan Gimmick lainnya yang menarik.
  • Cari mitra kerja dan vendor yang pengertian supaya pembayaran bisa dilakukan setelah tagihan CAIR.
6. Branding, banyak para mentor saya yang menanamkan hal ini, sayangnya saya bukan ahli branding. Sampai-sampai saya harus beli buku khususnya untuk self-branding, karena fotografer lebih banyak "jual diri" dari pada jual "produk jasa", sehingga saya juga ikut terpengaruh untuk aktif "jual diri". Salah satunya dengan cara menulis diforum ini. Namun begitu, bagi saya menjual diri (baca: Self-branding), adalah salah satu kesalahan terbesar para fotografer untuk sukses dan kaya raya. Berbeda dengan Dokter Spesialis yang ilmunya melekat pada sosok sang dokter, sehingga dia harus melayani pasien setiap saat, sampai sampai tidak bisa tidur nyenyak karena pilihannya jadi dokter. Saya lebih suka, jika jual diri hanya untuk tahap awal saja, selebihnya kita harus mampu membangun "Sistem Kerja" yang mampu meng-KLONING semua fotografer menjadi satu "produk jasa" yang standar dan mampu beradaptasi dengan selera pasar tanpa harus dikendalikan oleh seseorang. Jadi mohon di catat: Self-branding hanya untuk permulaan saja, sampai kita cukup mapan untuk membangun bisnis yang lebih besar dan sistematis. Kelemahan self-branding, adalah bisnis tidak bisa diwariskan, jika kita mati, maka bisnis juga mati, yang parah adalah jika kita sakit, bisnis sudah pasti mati, tapi biaya berobat akan meningkat pesat. Jika di umpamakan seorang dokter, maka dia harus nya bisa punya rumah sakit, atau klinik bersama yang dikelola secara profesional oleh orang lain yang lebih mengerti tentang manajemen bisnis. Baru setelah itu dia bisa lebih menikmati hari tuanya dengan uang berlimpah dan banyak sedekah.

7. Ini pamungkasnya: Setelah bisnis mulai berjalan, tetap fokus pada bidang yang jadi keahlian utama kita, jangan coba coba melirik bidang lain yang belum tentu kita kuasai. Jika di minta memilih, saya lebih suka sektor konsumen rumah tangga, alias pasar gurem, daripada korporasi yang duitnya banyak, tapi banyak maunya dan mesti banyak waktu buat entertain para pengambil keputusan. Pilih kelas yang sesuai dengan fasilitas dan kemampuan yang kita miliki, jangan coba coba kelas atas dengan modal kamera entry level. Bukan saya menghina, tapi memang orang orang papan atas, cenderung butuh gengsi, jadi bukan masalah fotografernya, tapi masalah tamu tamu mereka yang dari kalangan atas juga. Mudah-mudah an pesan saya ini, tidak di salah artikan sebagai diskriminasi kelas ya, karena memang masih banyak gaya hidup mewarnai budaya kita sebagaimana sering kita rasakan dari sinetron yang ditayangkan di TV lokal.
Melirik bidang lain, hanya dilakukan jika kita sudah punya UANG EKSTRA yang akan digunakan mengembangkan LAHAN BARU dengan konsekuensi tersendiri, dan siap siap GAGAL, BELAJAR dan MENGULANGI LAGI sampai berhasil, dan seterusnya... ingat, panduan ini hanya tahapan cara berpikir, dan untuk setiap LAHAN BARU anda harus memulainya lagi menyusun bisnis modelnya dari AWAL.

Dari semua langkah tersebut di atas, beberapa hal sudah saya lakukan dan rintis dengan bertahap. Tidak perlu tergesa gesa untuk sukses, yang penting anda menikmati prosesnya secara bertahap...



salam,

heru m sidik

28 Agustus 2011 08:16:51

Bicara soal bisnis model, silahkan googling dulu aja...

Maklum, sebelum saya memulainya lebih jauh, ternyata definisi bisnis model itu terkadang hanya diterapkan pada perusahaan besar dan kaya raya, padahal pengertiannya sangat sederhana, dimana hampir kita semua tahu jika kita berbisnis, maka yang harus diperhatikan adalah :

1. Produk Jasa apa yang akan dijual (Value Preposition).
Siapa sih yang gak tahu tentang barang dagangannya sendiri? Pasti semua orang sudah tahu kalo menjual suatu produk (khususnya jasa) harus tahu dong apa yang akan ditawarkan kepada pelanggan. Nah disini letak setiap keunikan produk. Ada yang menawarkan kecepatan layanan, keramahan layanan, kualitas olah digital, peralatan yang mahal, studio yang hebat, kompentensi atau spesialisasi khusus, dsb... semua tawaran tersebut tentu saja akan mempengaruhi segmen pelanggannya.

Mana yang lebih dulu ditentukan? Segmen pelanggan atau tawaran nilai yang dijual? Ini pertanyaan yang biasa muncul, dan jawabannya juga sederhana, anda PUNYA APA?? Kalau anda punya segalanya, anda boleh menentukan target pelanggan, tapi kalo anda gak punya apa apa, maka mulailah dengan kemampuan dasar yang ada, dan pilih segmen pasar yang tepat. Contoh: Punya kamera DSLR entry level, second buatan 5 tahun yang lalu. Sudah pasti tampilan anda akan terlihat CUPU di hadapan pelanggan papan atas. Tapi coba saja berhadapan dengan pelanggan papan bawah, pasti kamera anda akan NAIK KELAS, seolah anda adalah satu satunya fotografer profesional yang harganya paling terjangkau.

Sebenarnya bukan itu yang saya ingin jelaskan disini, karena penjelasan diatas hanya sebagai pembuka saja supaya kita sama sama paham definisi VALUE PREPOSITION, yakni tawaran yang unik dan sesuai dengan kondisi anda saat ini.

Ayo kita mulai mencoba mendefinisikan VALUE PREPOSITION ini, caranya adalah menjawab pertanyaan-pertanyan sbb;

  • Layanan apa yang akan di sajikan kepada pelanggan?
  • Solusi apa yang akan membantu problem pelanggan?
  • Paket produk dan jasa seperti apa yang bermanfaat untuk pelangan?
  • Kebutuhan pelanggan yang mana yang akan di layani?
Dengan menjawab pertanyaan tersebut, otomatis kita akan menyajikan suatu KONSEP produk jasa yang akan kita berikan.

2. Siapa Calon Pelanggan dan bagaimana kita mengelolanya (Customer segment, channels, customer relationship).
Setelah langkah pertama di atas selesai dikerjakan, mari kita mulai dengan langkah berikutnya yakni;
  • Menentukan segmen pelanggan

    Segmentasi pelanggan adalah salah satu cara kita membedakan diri dengan pesaing, atau boleh dibilang sebagai salah satu cara menghidari pesaing. Contoh paling gampang sudah saya tulis di atas, dimana kalo kita ambil segmen pelanggan papan bawah yang tinggal di perumahan sederhana, maka otomatis pesaing kita di papan atas, tidak akan mungkin ikutan bermain di segmen GUREM seperti ini. Pilihan seperti ini tentu saja punya konsekuensi yang relatif mempengaruhi pendapatan, yakni DAYA BELI, yang juga rendah, tapi jangan lupa, pasar pelanggan papan bawah punya kelebihan yakni: Jarang mengeluh, yang penting fotonya terang dan jelas, yang penting ada album foto yang tebal, semakin banyak foto, akan semakin baik. Olah digital, bukan keharusan, tapi kalo ada akan semakin sempurna. Peralatan yang digunakan juga sangat sederhana, cukup menggunakan flash murah, lighting gak terlalu penting, flash cukup di bounce ke langit langit rumah yang biasanya cukup rendah, sehingga akan menghasilkan foto yang sangat baik dan natural.

    Berbeda dengan pelanggan papan atas yang banyak menuntut fasilitas dan kemudahan, cenderung cerewet, karena merasa sudah bayar mahal, belum lagi minta album yang tebal dan berkelas, padahal modalnya juga mahal toh...! Peralatan yang digunakan mesti yang cukup terlihat canggih, karena akan berguna mengangkat gengsi tuan rumah, ketika dilihat oleh tamu undangan.

  • Menentukan kanal distribusi/pemasarannya
    Menjual produk jasa tidaklah mudah, untuk itu pilih metode pemasaran yang murah meriah dan memberi dampak jangka panjang... Keputusan memilih kanal distribusi sangat tergantung pada jenis layanan yang anda tawarkan kepada pelanggan. Untuk foto stok, paling tidak anda harus punya website untuk menjual dagangan, sementara untuk liputan pernikahan papan bawah, anda hanya perlu sering sering silaturahmi dan mengikuti acara sosial di lingkungan target pasar, sambil menebar kartu nama. Jadi jangan terlalu repot merancang kanal distribusi yang kompleks dan mahal, sementara bisnisnya sedang menggeliat, kepanasan menunggu order....

    Bagi seorang fotografer, menjual jasa sangat penting pada tahap pertama, jika segala sesuatunya sudah berjalan lancar, selanjutnya anda harus merancang langkah bisnis untuk naik kelas dengan target konsumen dan kanal distribusi yang berbeda.

  • Menentukan cara menjaga hubungan baik dengan pelanggan

    Sekarang tiba saatnya untuk menjaga hubungan baik dengan pelanggan. Pada prinsipnya, setiap pelanggan pasti punya hasil karya kita pada album yang sudah pernah dipesannya. Nah cara paling penting adalah meninggalkan JEJAK berupa nama dan nomor telepon pada setiap karya kita tanpa harus mengganggu tampilan album atau karya foto. Buat stiker-kartu nama yang dilekatkan pada halaman terakhir album, dan konsekuensinya, gunakan telepon atau hape yang anda pertahankan nomornya seumur hidup bisnis anda, jangan ganti ganti nomor hape karena kedaluarsa atau cari hemat, karena konsumen akan sulit menghubungi anda, padahal belum tentu anda punya website, atau cukup terkenal sehingga calon konsumen sibuk menanyakan alamat dan nomor telepon anda pada rekan dan kerabatnya.


3. Kemampuan ekonomi yang kita punya dan kita harapkan (financial aspecs - costs structure and revenue streams).
Pada bagian ini, kita harus sadar dengan semua kemampuan (baca: keterbatasan) kita, karena faktanya : kita lahir tanpa modal, hanya orang tua yang kaya raya yang membuat kita hidup mewah, dan belum tentu kekayaan orang tua kita akan bertahan seumur hidup kita. Dengan kata lain, kita semua masih MISKIN karena harapan yang terlalu TINGGI. Terminologi kaya-miskin, hanya untuk menggambarkan status kekuatan ekonomi kita, karena itu yang paling mudah di ukur, bukan untuk mengejek atau melukai perasaan orang lain. Namun itu semua hanya untuk memberikan gambaran kongkrit tentang konsep abstrak mengenai struktur biaya dan pendapatan (baca : modal kerja vs penjualan).

Sekarang mari kita bahas satu persatu:
  • Struktur biaya (modal kerja) Biaya apa saja yang HARUS dikeluarkan untuk menjalankan bisnis anda? Biaya apa yang PALING MAHAL dari setiap kegiatan dan sumber daya yang digunakan dalam bisnis anda? Jika saya dihadapkan pada pertanyaan tersebut, pasti jawabannya, kurang lebih sbb:

    • untuk bisa melayani permintaan pelanggan minimal saya harus punya barang modal, seperti kamera dan perlengkapannya. Barang modal ini, harus saya pelihara dan nilainya makin hari makin merosot, padahal saya ingin beli kamera baru, lensa baru, lampu baru, dsb... Disini harus kita catat : Biaya Modal = PENYUSUTAN, atau bahasa sederhananya, adalah MENABUNG untuk meremajakan alat yang kita punya. Bagaimana menghitung penyusutan? Simak cara dan rumusnya DISINI
    • Supaya urusan operasional, akomodasi dan teknis lainnya bisa berjalan lancar, saya perlu biaya juga, namanya BIAYA OPERASIONAL yang akan dikeluarkan saat tukang ojek nagih bayaran, saat warteg sebelah nagih utang, saat asisten freelance anda minta ongkos jasa, dan sebagainya.
    • Nah selanjutnya, supaya penjualan saya segera dibayar, saya harus mengeluarkan biaya mencetak album, sewa alat, sewa studio, membayar desainer album, membayar semua ongkos yang berhubungan dengan HASIL AKHIR produk jasa fotografi yang saya jual. Ini disebut dengan BIAYA LANGSUNG atau ada yang bilang HARGA POKOK, ada juga yang bilang BIAYA VARIABLE, dsb... itu semua tidak terlalu penting, yang penting adalah konsep bahwa BIAYA itu harus di CATAT, supaya kita bisa mengukur UNTUNG-RUGInya bisnis ini.
    • Terakhir, untuk setiap perhitungan biaya (costs) yang timbul, pelajari karakternya, ada biaya TETAP dan ada biaya VARIABLE, belum lagi perhitungan masing masing biaya tersebut, bisa di URAI lagi dalam satuan unit terkecil, misalnya ongkos per lembar, ongkos per klik, ongkos per jam, ongkos per hari, ongkos per kepala, ongkos per proyek, dan sebagainya. Contoh-contohnya belum bisa saya uraikan disini, nanti akan saya sambung pada berbagai topik lain saja, supaya tulisan ini tidak terlalu panjang.


  • Penjualan (arus pendapatan) Penjualan, sangat tergantung pada harga VALUE PREPOSITION yang ditawarkan. Kalo anda jual karya anda sebagai KOMODITI, maka harganya adalah ongkos cetak dan material yang terkandung didalamnya. Tapi jika anda menjualnya sebagai KARYA SENI didalamnya ada VALUE ADDED yang tinggi, karena karya seni adalah unik, dan disitu ada yang namannya CREATION FEE. Konsepnya adalah menjual JASA jadi bayangkan anda adalah seorang pelukis, dimana setiap lembar kanvas anda perlu mencurahkan akal-budi dan kemampuan budaya anda, hasilnya anda akan dibayar MAHAL untuk karya seni tersebut.

    • Bedakan dengan UPAH KERJA, ini cocok untuk fotografer BURUH yang berkarya untuk mendapatkan UPAH. Saya kira kita tidak perlu membahas hal ini terlalu dalam, cukup fokus pada CREATION FEE (bisa juga disebut sebagai DESIGN FEE jika kita menggunakan juga jasa oldig) sebagai salah satu SUMBER PENDAPATAN kita. Bagaimana kita menghitung Creation Fee? Coba klik disini.
    • Selain itu kita juga akan menagih JASA kita kepada pelanggan dalam bentuk OPE (out of pocket expenses), yang terkait langsung dengan kegiatan operasional kita, seperti akomodasi, tranportasi, sewa alat, dsb. OPE bisa ditagihkan "at cost" namun dibolehkan juga untuk di "mark up" atau ditambahkan dengan biaya administrasi 5% -10% saja. Jarang sekali kita mengajukan tagihan OPE ini kepada klien, karena budaya pelanggan kita adalah senang dengan harga BORONGAN. Ada baiknya mulai sekarang kita semua mulai memperkenalkan OPE ini supaya di masa depan, semua konsumen kita bisa menerimanya. Untuk pelanggan papan atas, biasanya tidak masalah dengan terminologi apapun yang digunakan, karena pada prinsipnya mereka sudah punya budget yang cukup untuk meng-cover semua pengeluaran tersebut.
    • Terakhir; PRINTING FEE, ini adalah tagihan kita kepada pelanggan untuk biaya pencetakan album, foto kanvas, bingkai dsb. Pada prinsipnya hampir semua layanan fotografi selalu menagihkan hal ini, namun dikemas dalam PAKET, sehingga konsumen hanya melihatnya sebagai satu harga BORONGAN. Bagaimana kita menggabungkan semuanya dalam satu PAKET BORONGAN, itu tergantung keterampilan kita menjual, biasanya harga paket itu relatif mahal, tapi selalu di tawar, nah disini kesempatan anda untuk menurunkan harga dengan memisahkan elemen creation fee, OPE, dan Printing fee, sehingga anda tidak dirugikan karena semua biaya di cover oleh pelanggan, dan anda di bayar sesuai dengan apa yang anda JUAL.

  • Untung-Buntung (laba-rugi)
    Sekarang giliran menghitung Laba-rugi, saya lebih senang menyebutnya UNTUNG-BUNTUNG, karena terdengar lebih puitis sekaligus provokatif, membuat saya TAKUT mengalami BUNTUNG.
    Cara menghitungnya mudah kok, hanya menggabungkan semua total biaya, dan membandingkannya dengan semua total pendapatan, kalo bisa di lakukan untuk setiap satu penugasan dari pelanggan, supaya terlihat gambaran untung-buntungnya setiap proyek. Tapi buat yang males ngitung, boleh juga dihitung secara akumulatif tiap bulan, dan hasilnya pasti tidak akurat, namun begitu masih lumayan bisa terlihat hasil akhirnya. Cara terakhir tidak saya sarankan, tapi untuk yang baru belajar rasanya itu sudah cara paling mudah...

    Rumusnya kurang lebih sbb:

    PENJUALAN - BIAYA = UNTUNG/(BUNTUNG)

    Disini seringkali banyak fotografer yang kurang cermat, karena ketika dapat rejeki berlimpah, lantas lupa kalo dalam rezeki itu ada komponen tabungan buat peremajaan alat, tabungan buat antisipasi paceklik, tabungan buat pengembangan usaha, dan juga buat membayar semua biaya dan hutang hutang kepada mitra. Belum lagi bayar Zakat dan berbagai godaan untuk belanja membahagiakan diri sendiri, serta anak dan istri di rumah yang sudah senantiasa setia menunggu suaminya. Ini lumrah terjadi, karena manusia sering LUPA dengan kewajibannya, tapi tidak pernah lupa akan haknya.
4. Mitra kerja, Sumberdaya, dan Langkah kerja (key-partner, key-resources, key-activity).
Pada bagian ini, mirip dengan analisa SWOT (strenght, weakness, Opportunity and Threats), bedanya hanya pada fokusnya yang bertujuan menemukenali kekuatan (key-resources) dan kelemahan (key-partners) kita, untuk selanjutnya menentukan langkah kerja yang tepat (key-activity). Sebenarnya saya butuh masukan dari rekan rekan semua untuk melengkapinya, namun sebagai pembuka, saya coba tuliskan persepsi saya tentang elemen yang melengkapinya berikut ini;
  • Mitra kerja - key-partners
    Semua hal yang tidak kita ketahui, atau dimana kita tidak menguasainya, namun dibutuhkan untuk bisa menghasilkan produk jasa yang ditawarkan (value preposition) bisa kita serahkan kepada mitra kerja yang kita anggap PENTING (utama) sehingga kepada merekalah kita bergantung karena segala kelemahan kita ada ditangan mereka. Itu sebabnya kita tidak boleh menggantungkan segala kelemahan kita hanya pada SATU mitra saja, tetapi cobalah untuk mengajak lebih dari satu mitra, agar resiko ketergantungan ini bisa ditekan. Mitra disini, bisa kita sebut juga sebagai SUPPLIER, VENDOR, SPONSOR dan bahkan INVESTOR atau siapa pun yang membantu anda melengkapi kebutuhan anda dalam mengantarkan hasil karya sebagaimana yang dijanjikan kepada pelanggan.
  • Sumber daya -key-resources
    Biasanya kita mulai sesuatu dengan segala keterbatasan, dan satu satunya yang paling berharga adalah keahlian kita memotret. Nah itu sudah salah satu modal utama, dan bisa ditambah lagi dengan keahlian photoshop, atau kalo punya sedikit modal, bisa pamer kamera entry-level atau yang lebih canggih. Jika anda punya lebih banyak lagi dari yang sudah saya tuliskan barusan, maka semua itu adalah sebuah kekuatan yang layak diperhitungkan dan pantas untuk dibanggakan. Kekuatan ini lah yang dibutuhkan untuk memulai usaha, namun untuk lebih spesifik, maka hanya tulis hal hal yang terkait dengan value preposition, karena untuk itu lah anda akan ber bisnis bukan?
  • Langkah kerja -key-activity
    Bagaimana dengan langkah kerja? Disini letaknya kewirausahaan dimulai. Mereka yang ragu, tidak pernah berani berbuat atau mengambil langkah pertama, tetapi langkah pertama adalah langkah penting yang akan membius anda untuk fokus dan terus melangkah. Dengan membuat bisnis model, anda tidak perlu ragu, atau takut salah!, tulis saja apa yang ingin anda lakukan, dan dari semua tulisan tersebut, pilih mana yang prioritas utama dan mana yang bisa dilakukan belakangan, dengan memilih antara MENDESAK dan PENTING. Buat 4 kuadran prioritas, yang mengelompokkan pilihan kegiatan yang akan anda lakukan, dan masukan semua langkah-langkah yang sudah anda kumpulkan satu persatu kedalam kuadran MENDESAK dan PENTING tadi, setelah itu, fokuskan pada hal hal yang memang MENDESAK dan PENTING saja, supaya anda bisa mulai bekerja.
Semua detil terkait dengan sumber daya, mitra dan langkah kerja akan dibahas lebih rinci dalam sistem administrasi yang baik (walaupun sebenarnya tidak ada sistem yang tidak baik!).

Ada yang bertanya, mana dulu yang utama? Jawabnya; tidak ada rumus baku yang menyatakan salah satu lebih utama dari lainnya, yang ada adalah, apa daya dan kekuatan yang sudah kita miliki? Itulah hal utama yang bisa dimanfaatkan untuk memulai sebuah bisnis! Sisanya dimana kita tidak mampu, serahkan pada yang lebih tahu, yakni key-partners

Untuk membicarakan semua di atas, perlu ilustrasi dan detil tersendiri. Mudah mudahan nanti ada kesempatan untuk melengkapinya.



salam,

heru m sidik...

28 Agustus 2011 08:17:04

Ini bagian yang membosankan...

Pada bagian ini, saya punya banyak pengalaman soal administrasi bisnis. Pada umumnya, banyak fotografer memandang remeh soal administrasi ini, sehingga sering kehilangan dokumentasi dan akurasi dalam menghitung keuntungan atau harga modalnya. Sudah sering saya diskusi dengan rekan rekan fotografer profesional yang mengelola sendiri bisnisnya, dan mereka cukup nyaman sebagai figur "one man show" karena mereka punya kuasa untuk memutuskan segala sesuatunya tentang "uang". Padahal masalah administrasi bukan bicara melulu soal uang tapi bicara hal hal berikut ini;

1. Standarisasi prosedur, manajemen arsip, manajemen portfolio, manajemen vendor, sistem pelaporan, formulir-formulir yang digunakan, dsb.
Sudah sering dengar tentang SOP (Standard Operation Procedures), atau lebih sering saya singkat dengan sebutan SISTEM. Banyak seminar tentang tehnik penyusunan SOP dan saya kira cukup penting untuk di pelajari dan ditekuni. Dalam setiap seminar ke wirausahaan, elemen SOP adalah salah satu KATA KUNCI yang paling penting, untuk membuat sebuah bisnis berkembang dan bisa di KLONING. Sistem, adalah alat kontrol, sebuah DEVICE (ini sebuah istilah untuk ALAT yang tidak berwujud), yang mampu mengatur, mendeteksi dan menggerakan sebuah bisnis. Jangan pernah anggap remeh, dengan mengatasnamakan WASKAT (pengawasan malaikat) tidak cukup hanya dengan KEJUJURAN yang langka dan KEPERCAYAAN yang sudah semakin tipis...

Ahlak dan kepribadian seseorang tidak bisa kita kontrol, tetapi cara kerja dan produktivitas mereka bisa kita kontrol dengan sistem. Namun perlu di CATAT bahwa sistem juga bukan suatu yang SEMPURNA, didalam sistem terbaik sekalipun, ada kelemahan dan tidak akan pernah mampu menangkal KOLUSI, atau sering kita cermati di media masa sebagai sekelompok MAFIA. Ya ... benar sekali, sistem adalah seperti aturan hukum juga, tidak pernah mampu menangkal yang namanya Mafia. Namun begitu, bukan berarti sistem itu tidak berguna, justru karena dia sangat berguna, maka kita memerlukan sistem. Kegagalan menerapkan sistem, sama dengan kegagalan total dalam menjalankan bisnis. Dengan sistem, minimal kita bisa bertahan terhadap resiko FRAUD, dan bisa mendeteksi para mafia, dengan melakukan pengawasan rutin, dan menetapkan parameter kontrol yang sesuai.

Membahas soal sistem, tentu saja tidak bisa semuanya dituangkan disini, tapi akan saya coba berikan poin poin pentingnya saja, untuk selanjutnya nanti akan saya buatkan topik terpisah, untuk membahasnya secara rinci.

2. Standarisasi harga, penetapan harga jual, struktur/komponen harga pokok, dsb.
Masalah harga, tidak terlepas dari komponen harga pokok. Banyak fotografer hanya menetapkan harga secara intuitif, dengan melihat harga pesaing, dan bagaimana keadaan ekonomi calon kliennya. Hasilnya sudah tentu bisa kita lihat bersama, banyak yang jualan dengan harga sangat murah dan bahkan tidak masuk akal, tapi mereka tetap survive untuk jangka waktu tertentu, dan tetap MISKIN sesuai dengan target marketnya. Jika mau KAYA tentu saja harus JUAL MAHAL dan bagaimana supaya klien mau BAYAR MAHAL, itu yang harus dipelajari, bukan karena takut kehilangan order, maka kita harus banting harga.

Pada bagian ini, saya hanya akan sedikit menguraikan latar belakang penetapan standarisasi harga, penetapan harga jual, struktur/ komponen harga pokok. Itu saja rasanya sudah banyak, dan tidak selesai dalam satu minggu, tapi saya akan mencoba menyusunnya secara bertahap. Mari kita lanjutkan...

  • Standarisasi Harga
    Masalah standarisasi harga biasanya sangat tergantung pada komunitas, atau lembaga yang dominan mengaturnya. Kalo dalam bidang ketenaga kerjaan ada yang namanya UMR (upah minimum regional), untuk harga semen ada yang namanya HET (harga eceran tertinggi), untuk harga gabah, ada istilahnya sendiri... he...he..he.. saya lupa... namanya.

    Untuk fotografer....???
    Coba saja bikin harga standar, pasti banyak yang gak peduli, apalagi ini masalah persaingan, apalagi sebenarnya banyak fotografer yang sedang merintis karir, jadi mereka tidak pernah tahu harga pantas buat jasa mereka, sehingga harga itu di tetapkan secara intuitif saja, padahal dengan harga standar, banyak manfaat yang bisa dinikmati oleh para fotografer, dan bisa jadi industri fotografi akan semakin menggeliat, membesar dan jadi bisnis yang tahan banting dalam segala situasi ekonomi. Wah ... ini mungkin terlalu lebay... tapi gak ada salahnya untuk mencoba dan menawarkan konsep harga standar ini kepada komunitas terbesar fotografer ini.
    Di dunia ini tidak ada yang mudah untuk mengatur sebuah komunitas, tetapi semua itu mungkin dilakukan dan bisa jadi sejarah yang dicatat oleh para fotografer masa depan nantinya. Untuk memulainya, kita bisa belajar pada kabupaten JEPARA dengan JEPARA.NET nya yang menetapkan "standarisasi harga tahun 2011" sebagai panduan buat belanja rutin pemerintahannya. Ini bisa terjadi karena para aparat harus belanja, dan diatur supaya tidak boros. Fotografer.net, bukan sebuah fungsi pemerintahan, tapi bisa menjadi sebuah fungsi komunal yang mengatur etika, harga dan cara kerja.

    Untuk kelas korporasi, sebenarnya juga bisa menetapkan standar harga, terutama untuk kelompok fotografer yang tergabung dalam satu jaringan atau mirip CHAIN-STORE, franchise, atau segala bentuk entitas lain yang sejenis. Tujuannya jelas untuk mengatur supaya harga di berbagai belahan bumi nusantara punya PATOKAN yang bisa digunakan dalam menetapkan harga jual.

    Standarisasi juga diperlukan untuk menetapkan harga pokok, terutama terkait dengan cara membebankan biaya tidak langsung kedalam komponen harga jual.
      Contoh rincinya kurang lebih adalah;
    • Standar Biaya Penyusutan per Klik, per proyek atau per hari;
    • Standar biaya tetap yang dibebankan pada harga pokok;
    • Standar biaya tidak langsung lainnya yang dalam realisasinya bisa berbeda.


  • Penetapan harga Jual
    Harga Jual, ini sih sangat tergantung dari harga pokoknya, namun yang terpenting adalah faktor KEUNTUNGAN yang kita harapkan. Makin besar faktor UNTUNG yang diharapkan, makin tinggi harganya. Orang akuntansi bilang gross margin, untung kotor, atau selisih uang lebih yang mudah mudahan akan menambah keuntungan kita. Berapa sih keuntungan yang diharapkan? 10%, 50%, atau bahkan 100%? Kalo saya ingin sukses, tentu saja saya harus mampu menghasilkan keuntungan semaksimal mungkin. Ini bukan RIBA, ini adalah keuntungan wajar yang pantas anda dapatkan karena anda sudah membantu klien anda mendapatkan apa yang diharapkan. Dalam keuntungan bisa saja anda masukkan CREATION FEE tapi ini bukanlah keuntungan yang sebenarnya, ini adalah sebuah kemasan atas jerih payah kreatifitas anda, yang lahir dari sebuah proses panjang.

    Diskon, atau Bonus, hanyalah GIMMICK untuk menarik minat pembeli, jangan sampai kita mengorbankan Keuntungan yang diharapkan, tapi kalo klien suka dengan bonus kita, tentu akan ada repeat-order kan....

  • Struktur harga pokok
    Sampai disini pasti sudah semakin membosankan ya? Ayo tetap semangat, karena saya menulis supaya anda semua bisa sukses dan kaya raya, sementara saya akan ikut bangga jika tulisan ini ikut menginspirasi kesuksesan anda. Sekarang kita akan membahas mengenai struktur harga pokok, dimana :
    • creation fee = ongkos ide + ongkos desain + dan ongkos lain yang relevan, tapi belum termasuk keuntungan yang diharapkan.
    • Harga pokok = penyusutan alat + out of pocket expenses + ongkos cetak + sewa wardrobe + biaya lain yang relevan.
    • Biaya Administrasi = sewa kantor, listrik telepon, dan gaji karyawan.
    • Biaya lain-lain = biaya yang tidak termasuk dalam kelompok tersebut diatas, tapi masih dikeluarkan dalam kegiatan operasi anda. Contoh; biaya bunga bank, biaya iklan, dan biaya biaya tidak langsung lainnya.


    Perlu di catat, bahwa semua komponen harga tersebut, tidak mudah untuk dihitung dalam satuan proyek, atau unit tertentu. Dengan kata lain, pembebanan harga pokok perlu metode perhitungan yang rumit dan njelimet, dan semua itu hanya bisa dilakukan jika kita punya catatan yang rinci mengenai semua transaksi kita. Jika catatan kita lengkap maka kita bisa membuat model harga pokok dengan membuat;
    • standar pembebanan biaya tetap langsung seperti : beban penyusutan alat per klik, per projek atau per hari
    • standar pembebanan biaya variabel langsung, seperti : sewa studio, sewa wardrobe, sewa fotografer freelance, sewa asisten dsb.
    • standar pembebanan biaya tidak langsung lainnya, seperti : sewa kantor, listrik, telepon dsb.


    Jika semua hitungan standar tersebut sudah dihitung, maka tinggal menerapkannya dalam PRICE LIST yang kita tawarkan kepada klien jika mereka NAWAR secara rinci, baru deh kita keluarkan detilnya, sehingga mereka disadarkan bahwa harga yang kita tawarkan adalah harga WAJAR dan bukan harga yang diambil dari LANGIT. Pada proses tawar-menawar, pemahaman dan pengetahuan tentang harga pokok ini sangat penting, karena membuat kita lebih profesional dan tampil percaya diri. Terutama dalam melakukan penyesuaian diri dengan harga baru yang diminta klien, dimana elemen-elemen harga pokok tadi bisa dipisahkan dan dikeluarkan dari tanggungan kita, dan bisa menjadi beban klien, sepanjang klien memang lebih suka untuk itu. Contoh: Biaya akomodasi fotografer dan tim, ketika ada penugasan ke luar kota; biaya sewa tempat; biaya sewa alat; biaya sewa wardrobe; dsb... itu tandanya anda punya klien yang baik hati, dan ingin membantu anda bersusah payah mengerjakan proyek ini. Anda harus berterimakasih untuk klien seperti ini.
3. Organisasi dan kepangkatan
Untuk organisasi dan kepangkatan, sebenarnya saya hanya ingin menyampaikan sebuah HIRARKI sebuah bisnis. Banyak bisnis yang cenderung toleran dalam organisasinya, sehingga semua orang adalah leader dan semuanya bisa mengambil keputusan, bisnis seperti ini terkadang juga maju pesat jika masing masing anggotanya mengambil peran yang tepat dan saling menguatkan anggota lainnya dalam mencapai tujuan organisasi. Ini sebuah organisasi ideal yang sulit di laksanakan tanpa proses panjang yang membutuhkan kepercayaan dan kompetensi yang memadai. Untuk organisasi pasaran, rasanya masih diperlukan HIRARKI untuk membedakan mana Pemimpin, dan mana yang dipimpin. Terlihat birokratis, tapi itu lah yang paling cocok untuk mengawali sebuah bisnis. Bahkan dalam jangka panjang, organisasi yang birokratis pun tetap dibutuhkan, baik itu perusahaan sekelas kaki lima ataupun sekelas microsoft yang modern. Organisasi bukan untuk membangun FEODALISME tetapi untuk memberikan peran yang tepat, segendang dan sepenarian dalam irama yang indah bagi setiap anggotanya. Organisasi seperti sebuah alat kendali yang mengatur cara kerja organ-organ organisasi lainnya agar sinergi dan bergerak menuju satu arah yakni SUKSES.

Bagaimana organisasi sebuah bisnis fotografi?
Tidak ada rumus baku, tapi yang jelas hanya ada SATU pemimpin utama, dan dibawahnya boleh ada lebih dari satu PEMIMPIN lain yang punya fungsi berbeda beda, begitu pula pada tingkat dibawahnya lagi. Semua itu disusun dalam satu BAGAN ORGANISASI supaya semua orang bisa mengambil peran dan fungsi sebagaimana di amanatkan dalam JOBDESnya. Mereka yang mengerti tugas dan perannya, akan mendorong fungsi lain untuk bergerak dan melaksanakan tugas dan perannya sendiri, itu lah yang menyebabkan organisasi terus bergerak dengan dinamis. Karakter organisasi sangat dipengaruhi oleh Pemimpin Utamanya, namun pada prinsipnya tugas pemimpin utama adalah menentukan arah tujuan, dan menjadi sutradara yang mengarahkan pemimpin pada fungsi fungsi lainnya. SIMPEL dan tidak perlu rumit... mulai lah dengan yang ada, satu orang dua orang tiga orang, dst... sampai akhirnya anda menjadi organisasi besar.

Banyak karyawan yang fungsinya sebagai bawahan cenderung melecehkan atasannya sehingga fungsi organisasi malah terganggu, atau sebaliknya, ada pemimpin yang tidak mampu mengkomunikasikan peran dan fungsi bawahan sehingga menimbulkan banyak masalah. Organisasi, juga bicara kepemimpinan, dan pemimpin yang baik adalah yang tegas dalam memberikan hukuman setimpal, dan sangat supportive dalam memberikan apresiasi atas prestasi bawahannya. Itu yang membuat sebuah organisasi berjalan.

Sekarang saya coba jabarkan peran dan fungsi organisasi kecil sebuah studio imajiner bikinan saya (kalo ada yang kurang pas tolong dikoreksi ya)
  • Kepala Studio
    Tugas dan fungsinya adalah menjadi kendali bisnis studio, boleh dianggap sebagai Manajer Toko, tapi untuk perusahaan yang sudah cukup besar, biasanya hanya setingkat Supervisor. Apapun tingkatannya, posisi ini adalah posisi penting untuk tingkat operasional toko. Kompetensi yang diharapkan tentu saja menguasai seluk beluk bisnis fotografi dan lebih bagus lagi jika dia punya talenta fotografi, supaya bisa jadi backup, atau merangkap jadi fotografernya juga. Menghemat biaya gaji karyawan, dan sebagai pimpinan, dia dapat porsi gaji yang makin besar jika tugasnya merangkap.

  • Fotografer Utama
    Ini adalah satu fungsi yang sudah dipahami oleh semua fotografer, khususnya untuk melakukan pemotretan baik di studio, ataupun di lapangan. Sebagai fotografer utama, dia harus punya kompetensi fotografi yang unggul dibandingkan dengan staf lainnyal, fungsi ini bisa dirangkap oleh kepala studio. Lebih bagus lagi jika fotografer utama bisa menularkan talentanya pada asisten fotografer supaya bebannya berkurang, dan dia bisa fokus pada ide dan konsep baru yang menjual. Belum lagi perannya yang utama akan semakin kuat jika asistennya bisa semakin banyak dan dia bisa membuat standar proses kerja yang baku.

  • Asisten Fotografer
    Jabatan ini, juga tidak bisa dianggap remeh. Asisten fotografer harus belajar banyak tentang cara kerja atasannya, dan selalu siap keluar tenaga ekstra untuk membantu atasannya sementara dia sendiri ingin ikutan memotret. Pada prinsipnya sih boleh aja asisten ikut motret, supaya ada kesempatan belajar, tapi harus di tegaskan bahwa hasil fotonya hanya untuk kepentingan studio, bukan untuk publikasi pribadi. Etika ini harus ditanamkan agar klien juga merasa aman dari resiko foto fotonya beredar di dunia maya padahal kualitasnya belum tentu sesuai dengan harapan.

  • desainer kreatif/photo editor
    ini fungsi yang boleh ada boleh tidak, tergantung kompetensi fotografernya, kalo fotografer dan asistennya sudah bisa desain kreatif, ya berarti cukup dirangkap. Tetapi kalo mereka gak punya keahlian olah digital, ya akhirnya harus menyewa karyawan yang khusus untuk itu, dan biaya karyawan akan bertambah lagi.

  • Staf Marketing/Customer Service/Salesman/dsb.
    Fungsi staf marketing, dalam organisasi yang kecil sebenarnya bisa dirangkap oleh fungsi asisten fotografer, sepanjang memang mereka memahami bisnis fotografi, dan bisa melayani klien untuk merealisasikan ordernya, dan menjaga hubungan dengan klien dalam jangka panjang. Salah satu fungsinya adalah juga mendokumentasikan administrasi data pelanggan, sehingga kita bisa mengelola para pelanggan itu dalam jangka panjang.

  • Staf Administrasi dan keuangan
    Staf administrasi, juga sangat penting. Jangan dianggap remeh, karena dia yang harus menyimpan berkas, menyusun arsip dengan baik, mencatat semua transaksi keuangan, mengelola vendor, suplier dan berbagai aspek administratif lainnya. Fungsi ini harus dipisahkan dari fungsi lainnya agar, lebih independen dan bisa menghasilkan catatan yang rapi sebagai kontrol atas kinerja studio foto tersebut.

  • Office boy
    Ini fungsi tambahan, bisa saja di hilangkan, atau dirangkap dalam fungsi lain, sepanjang semua setuju untuk bekerja sama menjaga kebersihan, keamanan dsb, sehingga suasana kerja di studio bisa berjalan nyaman dan aman.

  • lainnya
    Untuk organisasi yang lebih besar, tentu saja akan lebih banyak lagi posisi dan jabatan dibutuhkan, untuk itu saya tidak akan panjang lebar menuliskannya disini, karena keterbatasan tempat dan format penyajiannya. Mungkin dalam forum dan format lain, akan kita bahas secara tersendiri.

4. Sistem penggajian dan remunerasi karyawan
Disini peliknya sebuah bisnis, karyawan yang produktif layak dapat gaji besar, tapi jika bisnis sedang lesu... bisa bisa tiap bulan terasa dunia mau kiamat. Pada umumnya, hampir semua pengusaha cari tenaga kerja murah, itu sebabnya pemerintah sampai menetapkan UMR, dengan tujuan supaya gaji tidak terlalu rendah amat. Tapi itu cuma ada di atas kertas, prakteknya banyak pengusaha cari akal untuk dapat tenaga kerja murah dan akibatnya mereka memindahkan pabriknya ke daratan china di sebrang benua sana... .he..he..he.. jangan ngelantur bicara soal pabrik ya! Kita ini fotografer, yang punya cita cita dan masa depan, kalo di gaji dengan UMR pasti gak bakalan bisa punya motor, apalagi mau kaya raya? Nah, sistem penggajian disini, sebenarnya juga punya prinsip sama, hanya untuk menjalankan bisnis, dan tidak untuk membuat anda sebagai pegawai kaya raya, tapi bisa membuat anda sebagai pengusaha yang kaya raya. Jadi kesimpulannya sistem penggajian yang saya tulis disini nantinya lebih cocok untuk pengusaha, bukan untuk fotografer lho..!

Sambil mendengarkan takbir malam idul fitri 1432H, saya coba menambahkan sedikit tentang konsep penggajian dan remunerasi. Sistem penggajian terbagi dalam 5 komponen dasar berikut ini;
  • Gaji dasar
    Ini salah satu komponen dasar yang tidak bisa ditawar, dan bisa dijadikan acuan untuk penggajian berdasarkan setiap tingkat kepangkatan. Jumlah tingkatannya pun tergantung pada besarnya perusahaan dan sejauh mana struktur pangkat akan dibangun. Ada yang membuat 16 struktur tingkatan, ada yang sampai 32 struktur tingkatan dengan harapan karyawan akan bekerja dalam jangka panjang. Gaji dibayar setiap bulan.

  • Uang Makan
    Uang makan, sengaja dibuat terpisah, karena ini sama dengan elemen tunjangan, yang dihitung berdasarkan hari kerja efektif. Besarnya sangat tergantung kebijakan pemberi kerja, didasarkan pada tingkat kemahalan daerah setempat. Tidak ada rumus baku, tapi bisa diperkirakan sendiri bahwa setiap orang akan makan siang dengan beli di WARTEG dengan budget paling murah kurang lebih Rp10k, kalo bisa lebih besar lagi lebih baik, tergantung kemampuan unit bisnis ybs.

  • Tunjangan Transport
    Komponen tunjangan ini juga diberikan berdasarkan hari kerja efektif, karena memang bertujuan untuk memastikan bahwa karyawan tidak punya alasan untuk datang terlambat ke kantor dengan alasan tidak punya uang... jadi, untuk implementasinya supaya tingkat kehadiran tepat waktu, maka bisa di kenakan sistem hukuman untuk setiap keterlambatan dengan memberikan potongan pada elemen tunjangan transport. Besarnya tunjangan transport bervariasi, tergantung kebijakan dan kemahalan daerah setempat. Minimal Rp10k, dengan pertimbangan ongkos angkot sekali jalan, sekarang paling sedikit Rp3000, pulang pergi sudah Rp6000, kalo diberikan lebih, tentu lebih baik.

  • tunjangan pulsa
    Ini tunjangan yang sifatnya psikologis, agar karyawan tidak sungkan kirim sms atau nelpon kepada rekan atau atasannya. Tidak semua karyawan diberikan fasilitas ini, hanya mereka yang dipandang memerlukan intensitas komunikasi tinggi, akan diberikan fasilitas ini.Itu untuk membedakan antara karyawan fungsional dan struktural. Biasanya ini melekat pada karyawan struktural, yakni karyawan yang punya "jabatan" dalam struktur organisasi unit bisnis kita.

  • Insentif kinerja
    Untuk insentif, ada yang menerapkan sistem bulanan dan ada juga yang membedakannya dengan bonus, dan juga THR, tapi pada prinsipnya insentif diberikan untuk memberi semangat kerja yang tinggi buat karyawan. Insentif bisa dikaitkan dengan kinerja karyawan, asalkan dibuatkan serangkaian parameter yang bisa dengan mudah di ukur dan dipahami oleh karyawan untuk dilaksanakan. Biasanya saya kaitkan dengan ketepatan waktu dan akurasi penyusunan laporan bulanan, serta kinerja dari unit usaha dimana dia bekerja.

  • Fasilitas Tempat tinggal.
    Untuk karyawan tertentu, sebenarnya saya menyediakan juga fasilitas tempat tinggal, sekalian JAGA TOKO, atau kontrakan tersendiri, agar mereka bisa membawa keluarganya lebih dekat dengan tempat kerja, sekaligus mereka bisa menghemat uang transport. Namun fasilitas ini hanya saya berikan kepada pejabat tertingginya saja, karena dia yang paling banyak perlu waktu untuk melakukan pengawasan lapangan diluar jam kerja normal.
sementara itu dulu ya, detil lainnya nanti saya tambahkan jika sudah ada bahan yang lebih lengkap ya...

5. Pelatihan dan pengembangan karyawan
Pada bagian ini, semua aspek pelatihan dan pengembangan diri harus dipertimbangkan untuk dimasukkan dalam sistem. Ada yang mengharuskan karyawan untuk mengikuti suatu seminar secara rutin, yang sesuai dengan bidang tugasnya. Ada yang membuat pelatihan internal, dengan mewajibkan karyawan yang lebih terampil mengajar karyawan yang dibawahnya. Ada juga metode lain, dengan mengundang orang luar untuk mengikuti pelatihan GRATIS dimana pengajarnya adalah karyawan kita sendiri. Tujuannya agar mereka belajar dan mengasah keterampilan teknis, kemampuan komunikasi, kepemimpinan dan sekaligus ada unsur tanggungjawab sosial buat warga masyarakat sekitar.

Untuk jenis pelatihan penting, bisa disusun kategorinya berikut ini;
  • Pelatihan teknis fotografi
    Ini pelatihan dasar, bisa dilakuan dengan mengirim karyawan ke seminar, workshop atau kursus, bisa juga mengadakan pelatihan internal supaya kemampuan teknis terus terasah. Bidangnya jangan hanya teknis fotografi, tapi juga hal hal lain yang terkait misalnya tentang olah digital, manajemen database foto, pencetakan album, pembuatan desain, dsb. Semua pelatihan semacam ini sangat ditunggu tunggu karyawan, dan biasanya ada saja karyawan yang ingin "naik kelas" jadi fotografer atau beralih peran, pada prinsipnya pelatihan semacam ini bisa diberikan pada semua karyawan, bukan hanya untuk fotografer saja.

  • Pelatihan manajerial
    Nah ini, bukan hanya untuk para manajer lho, banyak yang salah mengerti, seolah ini adalah pelatihan untuk menjadi manajer. Bukan! ini adalah pelatihan untuk memberikan kemampuan "soft skill" yakni kemampuan mengelola bidang tugasnya dengan lebih baik, bahkan dalam pelatihan manajerial seringkali terselip nilai nilai, leadership, enterpreneurship, dan bahkan motivasi karyawan akan terpompa setelah memahami betapa pentingnya peran yang jadi bidang tugasnya.

  • Pelatihan komunikasi
    Masalah komunikasi adalah masalah terbesar di negri kita, maaf kalo ada yang tersinggung, karena para aparat dan wakil rakyat sudah memberikan banyak contoh buruk. Ilmu komunikasi bukan ilmu buat "ngeles" - (menghindar) atau mencari alasan jika ada kesalahan atau kekurangan, tetapi sebuah ilmu untuk menyelaraskan antara kata dengan perbuatan, antara janji dengan kenyataan sehingga semua komitmen yang sudah disampaikan bisa di pahami dan di mengerti oleh orang lain. Dalam masalah komunikasi, kita akan belajar menyusun laporan, belajar melakukan greeting yang baik, belajar menerima telepon dengan benar, belajar menulis surat komplain yang sopan, belajar menjawab surat komplai dari pelanggan, belajar banyak hal untuk memahami orang lain, sebelum kita berbicara atau menulis.

  • Pembinaan mental spiritual
    Untuk masalah spiritual, saya masukkan disini, bukan sebagai pelengkap tapi sebagai sebuah keutamaan yang senantiasa harus kita pahami. Dalam pembinaan spiritual, kita akan membangun akhlak fotografer yang baik, punya etika, dan profesional. Maklum, dunia seni dengan dunia spiritual sebenarnya sangat dekat, karena didalamnya terkandung nilai nilai budaya dan keindahan alam semesta termasuk jiwa dan raga manusia. Memahami nilai spiritual seperti menanam benih sukses dan merawatnya menjadi besar. Kepercayaan dan keteguhan hati untuk terus membangun diri bisa di mulai dari sini.
6. dan terakhir baru sistem pencatatan keuangan,
untuk mengetahui rugi laba usaha, dan proyeksi arus kas supaya tidak kelojotan ketika harus bayar kewajiban gaji karyawan ataupun bayar listrik dan telepon yang terkadang bikin kaget dan jantungan.

Mengenai pencatatan keuangan, saya akan coba tuliskan outlinenya lebih dulu sbb;
  • Sistem pengendalian intern
  • sistem perbendaharaan (keuangan/kasir)
  • sistem pembukuan
    • sistem pengeluaran
    • sistem pendapatan
  • sistem pelaporan catatan: saya tidak akan menuliskan tentang cara membuat laporan keuangan secara akuntansi lho, tapi hanya menulis tentang penyusunan laporan sederhana untuk mengukur kinerja usaha, dan semata mata terbatas pada kegiatan operasional sederhana dari sebuah bisnis retail yang relatif kecil. Jangan tanyakan soal perpajakan, laporan spt tahunan atau hal hal teknis yang biasa di alami oleh perusahaan besar, terutama terkait dengan klien korporat sebagaimana diharapkan para profesional papan atas. Maklum tujuan saya menulis memang ditujukan untuk kalangan fotografer papan bawah dulu, karena untuk para profesional papan atas biasanya sudah bisa membayar akuntan yang lebih ahli. Jika nanti ada fotografer profesional papan atas yang ikut curhat dan kontribusi disini, mungkin saya akan buatkan satu topik baru mengenai pelaporan keuangan dan perpajakannya.


Sebagai pembukaan, saya tulis hal hal tersebut di atas dulu, nanti kalo ada tambahan atau perubahan, baru saya perbaiki lagi.

salam,
heru m sidik

28 Agustus 2011 08:17:20

Untuk sistem pemasaran dan pengelolaan pelanggan, para fotografer profesional sudah sangat mahir untuk itu. Saya hanya sekedar menyalin beberapa pengalaman mereka untuk bisa menjadi besar dan sukses, antara lain;

1. Segmentasi pelanggan.
Pada setiap pelajaran marketing, selalu diajarkan bagaimana menentukan segmentasi pelanggan. Untuk tahap awal, biasanya banyak orang memulai dari segmen pelanggan retail, seperti terima jasa foto studio, wedding, prewedding di lingkungan tempat tinggal, dst... itu berarti kita memilih segmen konsumen dengan daya beli rendah, tetapi mereka menjadi sumber pendapatan utama. Pada fotografer yang lebih mapan, biasanya sudah naik kelas, ke foto-stok, foto model, foto wedding dan prewed untuk digedung dan kalangan menengah, dsb... menurut saya ini masuk pelanggan kelas menengah. Sedangkan untuk segmen atas, biasanya menyediakan jasa, foto korporat, foto produk, foto kalender, dan lain sebagainya. Mana yang paling cocok untuk anda, silahkan tentukan sendiri, semakin spesifik semakin baik, misalnya akan memotret segmen menengah, khusus hewan peliharaan, atau khusus bayi dan anak, atau khusus foto keluarga di studio, dsb. Tujuan dari segmentasi yang lebih spesifik, adalah agar anda bisa membaca PETA kemampuan anda, dan pasar mana yang COCOK untuk digeluti. Ini ibarat sebuah TARGET BERGERAK, karena suatu saat nanti anda akan MELIRIK juga segmen lain yang juga menarik untuk di coba. Jangan ragu untuk memilih segmen tertentu, karena akan mempengaruhi kanal distribusi, dan juga biaya yang ditimbulkan untuk memelihara hubungan dengan pelanggan anda. Pilih yang baik, akan membuat seluruh sumberdaya anda akan memberikan daya ungkit maksimal terhadap pencapaian kinerja bisnis anda.

2. Kanal distribusi, untuk melayani pelanggan.
Memilih kanal distribusi, agak berbeda dengan memilih Vendor, Supplier atau Mitra kerja, disini kita membicarakan mengenai metode dan media yang digunakan untuk menjawab pertanyaan; "Bagaimana cara membeli Jasa Fotografi anda?". Mirip dengan pendekatan MARKETING, tapi saya lebih suka mengatakannya metode penjualan (Sales Method). Apa bedanya MARKETING dengan SALES? silahkan googling, dan cari jawabannya. (Menurut saya : Marketing lebih ditujukan kepada segmen pasar yang belum kenal, belum tahu dan belum perlu dengan jasa anda, tetapi Sales, lebih dimaksudkan untuk mereka yang sudah tahu, ingin kenal dan ingin membeli produk jasa anda, sehingga perlu dilayani dan berinteraksi, baik langsung maupun tidak langsung. Bedanya sangat tipis, dan bisa dibilang tidak terlalu terlihat batas perbedaannya, namun merupakan satu rangkaian proses yang saling berhubungan, dimana setelah program marketing sukses, akan dilanjutkan dengan program sales, ada overlap proses dan puncak eksekusi terjadinya penjualan adalah di titik SALES.)

Banyak fotografer suka PAMER FOTO di fesbuk, atau ikut PAMERAN DI MALL, atau suka juga bagi bagi kartu nama di berbagai acara yang ramai di kunjungi orang, suka hadir dan meliput acara acara kondangan dan sebagainya. Semua keputusan memilih kanal distribusi, akan menentukan juga biaya yang akan dikeluarkan. Semakin sedikit kanal distribusi, akan semakin sedikit juga peluang mendapatkan ORDER, semakin banyak kanalnya, akan semakin banyak juga peluang dapat ORDER, tapi jangan lupa, biaya yang timbul juga akan mengikuti cara anda menjual. Pilih biaya yang paling murah namun punya hasil paling efektif. Itu disebut dengan biaya yang punya daya ungkit tinggi terhadap kinerja bisnis.

Contoh kanal distribusi yang murah namun efektif: Fesbuk, twiter, website-wedding, website-stok foto, website pribadi dan lain sebagainya. Namun anda harus kreatif melakukan pemantauan, dan aktif "menyapa" calon-calon pelanggan anda dengan ramah dan santun, supaya mereka selalu "ingat" dengan anda. Penjualan via media lain, seperti iklan koran, iklan majalah, membuat brosur, membuat mini-portfolio, dsb, bisa menjadi pelengkap dan membantu anda untuk mendapatkan pelanggan, dan meningkatkan penjualan, namun pastikan bahwa media lain ini, cukup murah, dan merupakan salah satu bagian dari proses mendapatkan pelanggan, dimana tujuan utamanya adalah memastikan bahwa pelanggan yang tertarik, bisa menandatangani kontrak SERVICE ORDER.

3. Memelihara hubungan dengan pelanggan.
Dalam memelihara hubungan baik dengan pelanggan, banyak cara dan metode yang unik, dan jelas bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah menjaga hubungan jangka panjang, karena setiap pelanggan adalah sebuah potensi pendapatan di masa depan, entah melalui repeat-order, atau mendatangkan klien baru. Semua itu hanya akan terjadi jika:

  • Anda senantiasa tetap menjaga hubungan dengan pelanggan melalui, email, media social, kartu ucapan selamat hari ulangtahun, mengingat dan mengetahui hari ulangtahun anak, dan anggota keluarga lainnya, serta tidak lupa untuk mengundang mereka dalam acara acara pembukaan atau perkenalan produk baru.

  • Memelihara nomor telepon, email, alamat tempat tinggal, alamat kantor dan informasi penting dan personal lainnya secara rutin, dan nomor telepon anda sendiri tidak berubah karena pulsa habis dan kedaluarsa, atau pindah alamat tanpa pernah memberitahukan pelanggan.

  • Menyimpan foto-foto candid dan personal pelanggan, dan mencetak kartu ucapan selamat, lengkap dengan nama dan nomor telepon anda, sebagai bonus KEJUTAN hadiah ulangtahun, yang tidak pernah mereka duga, karena mereka tidak pernah menerima foto-foto tersebut dalam proyek yang anda kerjakan untuk mereka. Ini, jarang sekali dilakukan oleh fotografer, karena mereka cukup murah hati menyerahkan semua karya fotonya tanpa pernah memperkirakan potensi foto-foto tersebut sebagai sebuah JALINAN persahabatan yang tak akan pernah lekang oleh waktu.

  • Meninggalkan "jejak dan identitas", seperti nama dan nomor telepon anda pada halaman belakang album atau tepi bingkai foto kanvas, atau berpartisipasi pada berbagai kegiatan sosial lain, dengan membagikan kartu nama pada acara acara resepsi pernikahan, undangan ulangtahun, undangan syukuran, arisan, pengajian dan berbagai kegiatan lainnya yang mungkin diikuti oleh pelanggan, atau oleh calon pelanggan anda.

  • Menghadiri acara di sekolah, kampus, seminar atau berbagai kegiatan keramaian lain yang di ikuti juga oleh pelanggan, sehingga jaringan sosial anda akan semakin luas, dan ajarkan hal ini kepada karyawan anda juga, supaya mereka bisa lebih berkembang lagi menjadi mitra kerja anda yang terpercaya. Jangan takut dengan karyawan yang mengundurkan diri ketika mereka sudah punya keterampilan memelihara klien sendiri, karena pada dasarnya mereka bisa anda bimbing menjadi mitra kerja dengan membantu mereka membuka cabang di tempat lain, dan anda menjadi salah satu pemegang saham di perusahaan baru yang didirikan oleh karyawan anda. Dengan kata lain, suatu saat nanti, karyawan anda adalah juga pelanggan anda, karena bisa jadi mereka masih membutuhkan support anda ketika mereka sudah mandiri sekalipun.


Ketiga poin di atas, adalah bagian dari model bisnis yang harus di kelola dan dikerjakan secara berkelanjutan. Semakin rajin kita mengelolanya, semakin baik kinerjanya. Karena setiap langkah akan membutuhkan biaya, dan biaya terbaik adalah ketika biaya tersebut menghasilkan kinerja yang paling besar, dengan demikian setiap biaya harus punya leverage besar terhadap pendapatan usaha kita.

Sedikit uraian sudah saya tuliskan pada bagian "penyusunan business model", nanti akan saya ulas lebih rinci lagi pada bagian ini.

salam,
heru m sidik

28 Agustus 2011 08:17:30

Bagian ini adalah bagian terakhir yang akan saya bahas, karena akan banyak polemik dan bukan mustahil akan sarat dengan perdebatan sengit yang menguras energi dan emosi. Untuk itu saya akan sisihkan setelah semua bagian bisa saya tulis kan dengan lebih lengkap.

Maklumlah, untuk masalah pengembangan jaringan bisnis, saya bukan orang yang berpengalaman, jadi apa yang nanti akan saya tulis disini, sudah pasti akan sarat dengan segala kekurangannya, apalagi jika kita bicara jaringan bisnis. Lha wong saya aja belum punya jaringan bisnis, kok bisa bisa nya mau ngomong soal itu?

Tapi jangan kuatir, saya sendiri hanya menulis ide dan pendapat saja kok, pastilah ada yang kurang beres, jadi saya harap rekan rekan semua tetap semangat untuk membereskan hal hal yang rasanya kurang berkenan, supaya saya juga bisa belajar dari rekan rekan semua.

Baik lah para sahabat semuanya.... sekarang saya akan buatkan outlinenya sbb;

1. Penambahan segmen pelanggan
Ketika terjadi perkembangan yang baik dari sebuah bisnis, tentu saja yang terpikirkan adalah bagaimana cara nya supaya bisnis bisa tambah besar lagi. Namanya juga pengusaha, pasti banyak usaha untuk membuatnya jadi lebih besar, untuk itu langkah paling mudah adalah mencari segmen pelanggan baru. Tadinya masih retail, sekarang sudah belajar melayani korporasi kecil, dan lama lama mampu melayani korporasi besar. Ditambah lagi dengan pengalaman yang tadinya hanya kenal dengan percetakan, sekarang sudah kenal dengan perusahaan agensi iklan, perusahaan jasa komunikasi (baca: HUMAS, bukan telekomunikasi lho), bahkan bisa juga masuk industri yang berbeda, dengan melayani permintaan videografi, sampai pembuatan filem.

2. Franchise atau Chain-Studio
Istilah Franchise sudah banyak yang dengar, tapi istilah Chain-Studio saya plesetkan dari istilah lama yang disebut dengan Chain-Store. Dulu sebelum franchise berkembang seperti sekarang, banyak para pemilik usaha, mengembangkan usahanya sendiri, dengan modal bank atau modal saham sendiri, untuk membangun cabang-cabang baru di seantero dunia. Namun membiayai sendiri Chain-Store mereka, akan menimbulkan biaya investasi yang MAHAL. Oleh karena itu lah, sekarang banyak berkembang Franchise, yang lebih banyak di maksudkan untu berbagi risiko bisnis. Sayangnya ketentuan tentang Franchise di Indonesia, belum ditaati dengan baik, banyak franchisor yang pengalamannya kurang dari 3 tahun sudah pasang iklan franchise, dan ketika terjadi perselisihan, posisi franchisee adalah posisi yang paling dirugikan, sehingga banyak franchisor yang MELAHAP para franchiseenya tanpa mereka menyadari efek jangka panjang yang terjadi, dimana tingkat kepercayaan terhadap BRAND Franchise akan merosot. Franchise adalah suatu pendekatan yang bagus, untuk mengembangkan bisnis fotografi secara lebih cepat, murah, dan efektif dalam biaya pemasaran, termasuk pelatihan dan standarisasi produk. Franchisor yang baik, adalah yang memberikan support kepada franchisee untuk membangun usahanya dengan tingkat kesuksesan yang lebih tinggi. Saya punya sedikit pengalaman soal franchise, jadi untuk masalah ini, nanti akan saya share secara terpisah.

3. Kerjasama Modal Ventura
Ini istilah buat kerjasama yang sifatnya syariah, dimana keuntungan pemberi modal ventura, adalah bagi hasil yang wajar dari bisnis yang dimodali. Bisa saja modal ventura itu kemudian di konversi menjadi saham perusahaan, dan biasanya hal itu merupakan salah satu opsi yang ditawarkan pada awal perjanjian kerjasama modal ventura ditandatangani. Buat bisnis fotografi, belum ada yang berani menjadi pemodal ventura, karena banyak fotografer adalah PENGUSAHA PRIBADI yang tidak punya administrasi keuangan yang baik, sehingga mereka juga tidak bisa meyakinkan para pemodal ventura untuk mensponsori bisnis fotografer. Bagaimana mendapatkan modal ventura di Indonesia? Saya lihat banyak BUMN dan perusahaan besar yang sekarang diwajibkan untuk mengembangkan UKM, dan mereka bisa memberikan modal itu untuk anda, sepanjang anda cukup meyakinkan mereka bahwa bisnis anda punya potensi maju.

Sayangnya lagi, lagi....
saya bleum pernah dengar ada fotografer gurem yang dimodali oleh BUMN, yang ada adalah fotografer korporat dapat order dari BUMN karena koneksinya bagus.

Barangkali saya salah, tolong dibantu koreksinya ya...

Mungkin FN bisa membentuk sebuah ENTITAS LSM yang membangun suatu sistem kerja standar, untuk menjadi SPONSOR, yang bertanggungjawab MENYALURKAN program-program pemerintah, baik yang berasal dari BUMN maupun perusahaan besar lainnya, dan mendorong fotografer anggotanya yang sedang merintis bisnis, sehingga pembinaan para fotografer tersebut bisa berlangsung dalam jangka panjang dengan tingkat kesuksesan yang lebih tinggi.

4. Mengembangkan bisnis lain pendukung fotografi
Bisnis fotografi bukan cuma memotret wedding, prewed, stok foto, korporat dsb, tapi juga printing, album, desain kreatif, video editing, photo editing, kursus, seminar, workshop, dan bahkan penjualan kamera, asesoriesnya, perlengkapan studio dan berbagai peluang bisnis lainnya, anda bisa memilih atau menekuni salah satunya. Begitu beragamnya peluang bisnis pendukungnya, bisa dilihat pada BURSAN FN. Seandainya komunitas FN ini bisa digerakkan ke arah yang lebih strategis, sebuah ENTITAS LSM, bisa jadi kita nanti akan bersatu padu mengatur harga pasar yang wajar, dan bahkan bisa mendorong harga pasar kamera dan perlengkapannya yang murah, khususnya buat anggotanya, karena ENTITAS semacam ini bisa melakukan kegiatan EKONOMI yang lebih efektif.

5. dsb...

Kemanapun arah tujuan yang anda cari, silahkan melanjutkan pengembangan bisnis tersebut, namun harus memperhatikan syarat syarat berikut:

  • Sedapat mungkin bisnis baru harus memiliki keterkaitan erat dengan kemampuan dan sumber daya yang sudah ada, atau paling tidak kita punya partner kerja sama yang kompeten dalam mengembangkan bidang baru tersebut. Meninggalkan bisnis yang lama dan mengembangkan bisnis yang sama sekali baru, juga boleh sepanjang memang sudah dipertimbangkan dengan baik. Petunjuk SUKSES, tidak selalu terlihat JELAS, kita hanya bisa memperkirakan, dan mempersiapkannya, sedangkan hasilnya baru terlihat setelah PENGORBANAN terjadi.
  • Buat sebuah simulasi BUSINESS MODEL CANVAS untuk memastikan bahwa bisnis baru tersebut, mampu anda kerjakan dan secara finansial memberikan keuntungan ekonomi buat bisnis anda, bukan malah jadi beban yang menyedot kinerja bisnis yang sudah jalan.
  • Semua bisnis baru, mengalami proses GROWING PAINS, dan tidak terkecuali apapun yang anda lakukan juga ada momentum yang memaksa anda untuk bekerja ekstra tenaga untuk mengatasi setiap masalah yang timbul. Oleh karena itu, pastikan semua masalah tersebut sudah di antisipasi dengan baik, melalui MANAJEMEN RISIKO yang memadai.
  • Banyak orang yang ingin TUMBUH dengan ambisi yang luar biasa besar, tanpa dukungan TENAGA yang memadai, oleh karena itu, memilih MITRA KERJA yang tepat adalah salah satu langkah penting bagi suksesnya bisnis anda. Dengan kata lain, tidak ada orang yang SUKSES dengan jalan SENDIRI, tapi banyak orang SUKSES yang meraihnya dengan bantuan ORANG LAIN.
Mohon kesabarannya ya, karena tingkat kesulitannya yang relatif tinggi dan butuh banyak referensi supaya tulisan ini banyak manfaatnya. Semoga....


salam,
heru m sidik

28 Agustus 2011 08:25:23

reserved page 6 ..

halaman halaman ini saya cadangkan untuk, membahas topik topik yang sudah saya buatkan outline tsb di atas, sekaligus untuk mendokumentasikan masukan dan saran rekan rekan semua yang tentu saja akan memperkaya tulisan ini.

Ini bukan artikel, ini adalah forum diskusi, yang mudah mudahan nilainya akan lebih baik jika kita semua memberikan kontribusi.

sambil jalan secara bertahap, saya coba catat dulu beberapa masukan dan harapan teman teman disini;

  • Irvan Airlangga
    yup semoga nanti ada bahsan ttg 'pengembangan bisnis' dgn detail bagaimana "memeliharaKaryawan" agar kita bisa naik level menjadi Bisnis Owner. bukan hanya 'self branding'; juga cara mengatasi 'konflik internal'.... ya seperti klo partner yg ud jago keluar dr grup ato hubungan dgn Sub vendor..sperti percetakan, frame..dLL
  • Ali Usman
    Tertarik membaca judulnya. Setelah membaca saya dengan seksama, saya sedikit ingin nimbrung pendapat. Mengapa pembahasan berikut contoh kasusnya lebih mengupas tentang retail business (photography) atau lebih khusus ke foto pernikahan/wedding saja. Bukan secara general.

    bagian dibawah ini sudah saya masukan dalam poin ilustrasi di atas
    Padahal bidang fotografi itu sangat luas. Ada Corporate, Commercial, Stock, Food, dll. Dan kalo boleh jujur, justru bidang2x tersebut yang justru lebih banyak menghasilkan fotografer yang sukses secara materi. Kan judulnya mengambil kata "Kaya Raya". Apalagi rekan2x disini banyak yang belum paham tentang bisnis fotografi yang melibatkan pihak lain spt : ad agency, produser, stylist,tim produksi, tim creative, dll. Mungkin yang punya pengalaman boleh nyumbang sharing disini..
  • Pengendalian Internal Studio Foto buat suplemen tambahan
  • Menyusun Rugi Laba Studio Foto secara sederhana, walaupun tidak sempurna tapi bisa buat praktek...
  • Menghitung Penyusutan Kamera buat para praktisi, bukan teori akuntansi ...
  • Teori penetapan harga jasa fotografi sebagai salah satu cara, dan bukan satu satunya lho...

28 Agustus 2011 09:59:31

tak tunggu lanjudannya..makasi om,nice inpo

28 Agustus 2011 10:27:53

meninggalkan bookmark dulu ah....
penting banget nih... happy

Ayo om Heru, lanjut... happy

28 Agustus 2011 10:44:17

boleh ikut sharing ya mas,
kalo opini saya straigth to the point aja..
mudah2an kronologisnya byk yg sama:

kebanyakan awalnya dari ketertarikan,
coba-coba beli kamera dan konco2nya,
kalo belum cukup dana..

menunggu mapan,

setelah mapan dan punya kamera,
menjadi hobbiest,
terus baru sadar
kalo mempunyai sedikit sentuhan seni disitu
lalu dijadiinlah second job/carrier

kenapa ngga main job aja?
ngga berani karena belum stabil orderannya
dan pendapatannya tidak sebesar gaji kantor sekarang

akhirnya ya 50:50 terus
karena main job bisa membiayai keluarga & hobby
sedangkan hobby yg jadi main job belum tentu bisa membiayai semuanya

kecuali satu keluarga berani nekad semua rolling on the floor

28 Agustus 2011 12:04:41

Thanks buat semua responnya...

masukan dari mas Irwan juga masuk akal kok. Itu termasuk fotografer yang beruntung, ada pekerjaan dan bisa memulainya dengan bertahap, dan kalo sukses maka dilanjutkan. Malah kalo boleh saya tegaskan, banyak juga fotografer yang menjadi profesional karena terpaksa. Kehilangan pekerjaan utama, atau bahkan gak dapat pekerjaan sejak lulus sekolah, kerja serabutan dan yang paling sukses ya jadi fotografer.

Nah saya menulis ini, sebenarnya karena ada perasaan prihatin atas perkembangan bisnis fotografi saat ini yang berkembang tanpa ada panduan yang memadai buat para pelakunya. Fotografer cenderung egois dan melihat fotografer lain sebagai saingan. Padahal fotografer juga mahluk sosial yang perlu kerjasama dan bahu membahu membangun bisnisnya secara komunal untuk menjadi besar dan sukses bersama.

Contohnya:

1. Warnet banyak berkembang dan walaupun sekarang sudah banyak persaingan, tapi terus ber evolusi ke pinggir kota, bahkan bisa menjadi percetakan atau tempat kursus komputer. Bahkan banyak juga yang menyelenggarakan pelatihan bisnis warnet maupun franchise. Bahkan sekarang ada warnet yang cabangnya sampai puluhan tapi memang belum pernah dengar yang cabangnya sampai ratusan.

2. Salon, juga berkembang pesat gak ada matinya. Banyak yang bangkrut dan jatuh bangun, tapi mereka punya komunitas yang dihidupkan oleh para produsen kosmetik, sehingga tidak pernah mati. Padahal bisnis ini sangat tergantung pada tenaga terampil, seperti sytlist, capster, dan perias, namun tenaga tenaga tersebut sepertinya selalu tersedia dan bisa dipelajari oleh semua orang, dengan latar belakang pendidikan apapun.

3. Kuliner, ini paling banyak dan komunitasnya paling cair, tapi herannya kok ya terus berkembang dan persaingan malah bikin kuliner makin menarik buat para pelaku bisnisnya. Bayangkan, kalo kita makan di restoran gak pernah nawar harga kan, tapikalo jasa fotografi selalu ditawar murah.

4. Fotografi, sebenarnya hampir sama saja dengan yang di atas, hanya saja, kecenderungan individualnya sangat kuat, mungkin karena unsur seni yang kuat, tidak mudah di standarisasi, dan melekat pada individunya, sehingga mirip dengan industri hiburan. Banyak artis yang sukses kaya raya, tapi lebih banyak yang jadi figuran dan mantan artis top yang hidupnya berantakan karena kesulitan ekonomi.

5. Wartawan, ini juga profesi yang cukup dekat dengan fotografer, namun ada lembaga kuat yang menaunginya, karena media massa mendukung dan memerlukannya, juga ada semacam sertifikasi atau identitas kewartawanan yang membantu kerja wartawan di lapangan. Bahkan untuk wartawan tertentu, hidup mereka lebih terjamin, dan punya perlindungan hari tua yang memadai.


Saya hanya ingin realistis saja, mencoba menuliskan apa yang saya anggap bisa menjadi panduan, untuk nantinya dilengkapi dan ditambahkan oleh mereka yang profesional atau berpengalaman, sehingga para pemula tidak harus mengasah ilmu dari NOL, tapi menggunakan panduan ini untuk menjadi besar dan bersatu padu dengan fotografer lain membentuk komunitas yang lebih kuat, punya standar dan punya kode etik profesi.

Masalah standar dan kode etik profesi mungkin terdengar berlebihan dan seperti MIMPI, tapi semua itu bisa saja dibuat kan.... sehingga kita punya nilai tawar kuat untuk memotret di berbagai tempat, tanpa merasa ter intimidasi dengan peraturan yang belum jelas.

Mudah mudahan fotografi bisa berkembang lebih maju dan lebih baik dari harapan kita semua....

salam,
heru m sidik

28 Agustus 2011 13:00:06

bookmark dulu.... penting nih buat pengetahuan... siapa tahu bisa mulai juga... big grin

28 Agustus 2011 13:44:57

ikuuut menyimaaak kk, info menariiik niih....rock

28 Agustus 2011 13:48:20

topik menarik nih, perlu disimak lebih lanjut sambil kalo udah buka puasa sambil ditemani coffee

28 Agustus 2011 16:05:18

topik yang enlightening mind....thanks om...baru belajar bisnis nih...

28 Agustus 2011 16:17:00

Saya udah kenal pak HMS happy

28 Agustus 2011 16:24:01

Assalamualaikum wr wb...
apa kabar mas......
masih inget ?
suwun mas...
salam boemi

28 Agustus 2011 17:34:55

@ Bagas: Ingat dong mas Bagas, siapa yang gak ingat dengan sahabat bumi yang sering bikin hunting...

@ Wiwin: Saya juga kenal sama mas Wiwin, tapi jarang di ajak ngumpul lagi nih...

@ All : Thanks untuk supportnya, tulisan ini cuma buat mengisi waktu libur di bulan puasa sambil menunggu waktu berbuka. Siapa tahu ada yang mau sharing juga, silahkan di lanjut...

28 Agustus 2011 18:24:22

ninggalin jejak dulu, mantep nih big grin

28 Agustus 2011 18:37:35

Mantap pak tulisannya...... Jadi lebih semangat kerja nih..... Maklum dulu pernah kerja di lembaga, terus dipretel, akhirnya jadi tukang foto dan syuting dari terop ke terop deh.....
Makasih pak HMS...... happy >big grin

28 Agustus 2011 19:04:54

menarik sekali pak ... terima kasih sudah berbagi happy

Kategori