Forum

Ucok P. Harahap | 27 April 2011 16:29:40 |

0
0
35
Dilihat : 7187

Mengunjungi suatu tempat kurang lengkap rasanya jika tidak memotret bangunan menarik yang merupakan icon daerah tersebut. Bangunan bisa berupa rumah adat, bangunan bersejarah hingga tempat ibadah. Dari sebuah bangunan bisa digali cerita menarik mengenai kehidupan penghuninya maupun sejarah bangunan tersebut.

Paling tidak ada 2 pendekatan yang bisa dilakukan untuk memotret bangunan. Dari sisi arsitektur ataupun dari sisi cerita (essay) yang akan dibangun mengenai bangunan tersebut. Topik ini menekankan arsitektur (interior dan eksterior) suatu bangunan. Diharapkan dengan diskusi ditopik ini, akan membantu peserta yang akan mengikuti acara di sini. Tersedia merchandise menarik bagi peserta diskusi terpilih.


Untuk mendapatkan gambaran mengenai suatu bangunan, kita dapat melakukan riset melalui internet sebelum berangkat. Namun jika waktu kita sempit, jangan takut. Karena selalu ada sisi menarik dari sebuah tempat. Jika tempat tersebut kurang menarik untuk diabadikan secara utuh, kita bisa mengambil potongan / bagian menarik dari bangunan tersebut.

Perspektif bangunan sangat penting dalam sebuah foto arsitektur. Lensa kamera yang digunakan akan berpengaruh terhadap persepektif. Idealnya bangunan tampak lurus tanpa distorsi seperti mata manusia memandang. Ini bisa didapat dengan menggunakan lensa normal (50mm). Namun kondisi di lapangan seringkali tidak memungkinkan untuk selalu menggunakan lensa normal.

Bagaimana untuk mengatasi keterbatasan alat dan kondisi lapangan tersebut ? Berikut tipsnya :
• Untuk menghasilkan foto dengan distorsi minimal, permukaan lensa harus sejajar dengan permukaan bangunan (paralel)
• Untuk bangunan tinggi, usahakan naik setinggi mungkin hingga bisa sejajar dengan perut bangunan. Cara lainnya pemotretan dilakukan dari jarak jauh dengan menjaga agar lensa tidak mendongak keatas (tetap paralel). Akan banyak bidang kosong dibagian bawah, yang nantinya harus dibuang (croping)
• Koreksi perspektif juga bisa dilakukan dengan bantuan program pengolah foto. Syaratnya ada bidang kosong yang cukup dan sengaja kita siapkan untuk melakukan koreksi perspektif melalui software
• Koreksi persepektif yang paling tepat adalah dengan penggunaan lensa Perspective Correction / Lensa Tilt & Shift ataupun dengan menggunakan View Camera

Lensa sudut lebar dengan distorsi berbentuk gentong (barrel) tetap dapat digunakan. Ambil posisi low angle yang ekstrim. Namun jaga agar sumbu bangunan tetap berada ditengah dan lurus, karena distorsi minimal ada di bagian tengah lensa. Hasilnya akan terlihat cantik & dramatis, namun bangunan tidak terlihat seperti akan rubuh. Lensa fish eye jarang digunakan untuk pemotretan bangunan karena akan menghasilkan gambar yang tidak realistis.

Suatu bangunan bisa diabadikan dalam kondisi utuh maupun bagian per bagian. Pada sebuah rumah adat misalnya, seringkali kita menemukan bentuk grafis atau elemen bangunan yang sangat menarik untuk diambil detailnya. Kubah, pintu, jendela, tangga, relief atau ukiran, serta ornamen penghias rumah seringkali lebih menarik dibandingkan bangunan itu sendiri.

Mengenai interior, Saya hampir tidak pernah menemukan sesuatu yang menarik untuk dipotret pada interior rumah adat. Kebanyakan rumah adat di Indonesia suram dan kurang terawat bagian dalamnya. Sebagian lagi terlihat terlalu artifisial (seperti museum). Lain halnya dengan bangunan bersejarah ataupun rumah ibadah. Bagian dalam bangunan seringkali sangat menarik, namun diperlukan trik dan kesabaran untuk memotretnya karena biasanya minim penerangan ataupun memiliki kontras yang sangat tinggi. Berikut tips untuk mengatasi :

• Gunakan tripod untuk memudahkan komposisi serta memungkinkan untuk memotret dengan kecepatan yang rendah
• Buka jendela dan pintu bangunan jika memungkinkan dan hidupkan penerangan didalam ruangan jika ada
• Jika ada waktu yang cukup, bisa menggunakan multiple flash ataupun menyinari bagian-bagian ruangan secara manual (painting with light)
• Untuk ruangan yang memiliki kontras yang tinggi, bisa menggunakan teknik HDR (high dynamic range). Sebuah komposisi dipotret beberapa kali dengan eksposure berbeda untuk kemudian digabungkan. Agar komposisi tidak bergeser, tripod mutlak diperlukan. Beragam teknik serta aplikasi HDR tersedia di Internet

Yang tak kalah menarik untuk digali adalah cerita mengenai suatu tempat. Disela kegiatan memotret ada baiknya kita mencari informasi mengenai bangunan tersebut. Saat kembali dari traveling, selain berbagi foto dengan kolega, cerita lengkap mengenai bangunan tersebut dapat anda bagi.

Silakan saling berbagi pengalaman ditopik ini. Selamat mengikuti program ini, semoga anda yang beruntung berlayar dengan Kapal Phinisi ke Pulau Komodo. Jangan lupa ada merchandise menarik untuk peserta diskusi yang terpilih di topik ini serta topik berikut :

Berbagi Kisah dan Foto Hasil Perjalanan
Mengabadikan Kesenian Tradisional dan Upacara Adat
Foto Satwa Pada Alam Bebas
Tips Foto Landscape


29 April 2011 03:33:33

0
0

Lantai teratas
Tempat penyimpanan jagung di lantai paling atas sebuah Lopo. Digambar ini terlihat tiang tiang bambu berwarna hitam pekat yang terkonsevasi oleh asapa pekat dari dapur.

Gambar 4.



29 April 2011 03:33:51

0
0

Lantai tengah
Lantai tengah dipakai untuk memasak dan berfungsi sekaligus sebagai "pemanas" (Gambar 5), karena di malam hari udaranya bisa dingin sekali. Tungku api dan asap selain berfungsi sebagai tempat memasak dan sebagai "pemanas " juga untuk mengkonservasi baik dinding anyaman Lopo itu sendiri sehingga tahan terhadap terpaan hujan maupun untuk mengkoservasi segala sesuatu seperti jagung yang disimpan di lantai paling atas, tentunya dindingnya berwarna hitam pekat.

Dapur di lantai tengah

Rumah penduduk asli orang Alor tidak mengenal jendela, satu satunya pintu yang menghubungkan lantai bawah dengan lantai tengah adalah sebuah frame bambu yang bisa digeser kalau ada orang yang mau masuk atau keluar melalui tangga bambu. Kalau udara malam menyengat dingin sekali, biasanya orang tidur di lantai tengah yang tidak berjendela dan pengap dengan asap dari kayu bakar yang juga digunakan untuk memanaskan ruangan.

Lantai tengah yang berfungsi sebagai dapur dan pemanas ruangan dimalam hari. Suasananya serba gelap karena tidak ada lampu dan jendela, udaryan sangat pengap.

Gambar 5.



29 April 2011 03:34:21

0
0

Pintu masuk ke Lopo

Lantai dasar yang sebenarnya merupakan panggung bambu yang lebar adalah tempat tinggal dan tempat tidur ibarat bale bale besar yang terbuka. Di bawah lantai dasar ada tempat terbuka yang dipakai untuk menyimpan kayu dan barang-barang lain.

Di lantai dasar inilah orang selalu berkumpul sehari harinya, termasuk juga makan dan "goleran" disiang hari. Kehidupan sehari hari berada dilantau paling bawah sebuah Lopo.

Gambar 6.
Satu satunya pintu masuk ke dalam Lopo yang juga merangkap sebagai jendela sebuah Lopo.



29 April 2011 03:34:41

0
0

Rumah tradisional Alor yang sederhana ini tidak menggunakan sepotongpun paku besi melainkan paku dari kayu dan kulit kayu untuk mengikat tiang tiang bangunan dan 4 piringan kayu di ujung atas ke empat tiang penyanggah rumah untuk mencegah supaya tikus tidak bisa naik ketempat penyimpanan jagung.

Gambar 7.
Piring kayu sebagai pencegah naiknya tikus ke lumbung jagung.



29 April 2011 03:34:59

0
0

Gambar 8.
Selama di pulau Alor, kamipin bermalam di rumah rumah penduduk, disini kami tidur di hangmatte, termasuk isteri dan anak saya yang ketika itu baru berumur 11 bulan.

Semua kehidupan sehari hari berjalan disekitar bale bale rumah tradisional Lopo yang serba terbuka ini, apakah itu menumbuk jagung ataupun juga memandikan bayi kecil dari sebuah batok kelapa dengan berisikan air yang dicampur dengan sesuatu (mungkin bumbu) yang berwarna kuning.

Dalam hal membuat foto saya tidak pernah canggung, kamera saya selalu siap "jepret" juga kalau saya menggunakan lensa panjang 400mm, tetapi ada 2 kejadian yang saya ingat sampai sekarang ketika saya terpaksa membatalkan mengambil foto, ketika seorang nenek yang sedang memandikan cucunya, si cucu tiba tiba buang air besar, seekor anjing datang dan ("ma'af) menyomot hajat bayi ini langsung dari pantat si anak. Padahal Kamera siap jepret diatas Tripod.

Kejadian kedua ketika saya berada di pasar Waikabubak, Sumba Timur, dimana seorang tukang obat tradisional menusuk dada sebelah kiri seorang pasiennya, persis diatas jantung si pasien dengan jari jari sepeda yang kotor dipinggir jalan. Foto fotonya saya buat dengan menutup mata, hanya auto focus kamera yang mengatur ketajaman foto dan orang orang disekitarnya berteriak "mati lho, mati lho".



29 April 2011 03:49:08

0
0

Disekitar Lopo adalah tempat bermain anak anak termasuk juga untuk anak saya yang ketika itu baru berumur 11 bulan dan seumur hidupnya baru pertama kali mengenal ayam dan sempat beberapa kali menikmati enaknya "kismis Alor" alias tahi ayam kering ketika merangkak jalan sendirian ditanah.

Anak anak seumur Susi sampai berumur 6 tahunan rata rata beringus kental kuning ke hijauan, wah sedapnya melihat anak saya di cium oleh anak anak seumur dengan ingus warna warni.

Gambar 9.
Susi sedang bermain di bale bale lantai dasar Lopo.



29 April 2011 03:57:22

0
0

Gambar 10.
Rumah adat Los Palos, Timor Leste



29 April 2011 04:04:36

0
0

Gambar 11.
Seorang ibu penenun kain di Los Palos.



29 April 2011 04:05:52

0
0

Gambar 12
Rumah adat Sumba barat.



29 April 2011 04:07:13

0
0

Gambar 13.
Rumah adat Sumba barat.



29 April 2011 04:11:31

0
0

Gambar 14.
Sama seperti dirumah rumah adat lainnya di Indonesia, ruang tamu adalah tempat terbuka di bale bale lantai terbawah. Sebagai tamu yang dihormati anda wajib mengunyah kapur sirih yang ditawarkan, karena ini adalah suatu kehormatan, tanpa kecuali isteri sayapun (foto kiri) juga mencobanya.



29 April 2011 04:23:41

0
0

Kota So'e terletak di kabupaten TTS (Timor Tengah Selatan).

Disekitar So'e masih banyak dapat anda jumpai rumah rumah adat yang masih digunakan untuk kehidupan sehari hari. Pembangunan rumah adat ini masih dikerjakan secara gotong royong. Dinding rumah terbuat dari rumput/alang alang sekitar ladang mereka.

Umumnya rumah rumah adat di sekitar kabupaten TTS mirip seperti rumah adat di pulau Rote dan tidak menyerupai rumah panggung seperti di pulau Alor dan Flores, memiliki dapur di tengah tengah rumah adat, fungsi dapur lainnya adalah sebagai pemanas ruangan dan untuk mengkonservasi jagung sebagai makanan utama mereka.

Gambar 15.
Rumah adat di kabupaten TTS.



29 April 2011 04:26:33

0
0

Gambar 16.
Pembuatan rumah adat secara gotong royong di kabupaten TTS.



29 April 2011 04:26:50

0
0

Gambar 17.
Pembuatan rumah adat secara gotong royong di kabupaten TTS .



29 April 2011 04:27:19

0
0

Gambar 18.
Dapur rumah adat di kabupaten TTS.

Insya Allh dilain kesempatan saya dapat memperkenalkan 2 type rumah adat Batak (harus mencari slidenya dulu dari tempat penyimpanan).

Vienna, 28. April 2011.
Salam dari Vienna, Austria
etoy (Subagio Rasidi Kusrini)



FN TEXT ADS

KABAR BAIK !! sekarang sudah tersedia FN text Ads, Syaratnya cuma 1: MEMBER FN !! BURUAN!!!

FN TEXT ADS

KABAR BAIK !! sekarang sudah tersedia FN text Ads, Syaratnya cuma 1: MEMBER FN !! BURUAN!!!

Kategori

FN TEXT ADS

KABAR BAIK !! sekarang sudah tersedia FN text Ads, Syaratnya cuma 1: MEMBER FN !! BURUAN!!!

FN TEXT ADS

KABAR BAIK !! sekarang sudah tersedia FN text Ads, Syaratnya cuma 1: MEMBER FN !! BURUAN!!!

FN TEXT ADS

KABAR BAIK !! sekarang sudah tersedia FN text Ads, Syaratnya cuma 1: MEMBER FN !! BURUAN!!!