Forum

Yadi Yasin | 28 Desember 2009 13:22:31 |

8
0
258
Dilihat : 58665
Bagikan :

Dalam photography, banyak dari kita yang yang begitu mendengar kata landcsape, apa yang terpikir atau yang terbayang adalah sebuah foto pemandangan alam yang merepresentasikan suatu view yang seluas-luasnya. Biasanya untuk mencapai tujuan tersebut, cara seorang fotografer untuk mendapatkan pemandangan yang luas yang ada dihadapan matanya adalah memotret dengan memasang kamera berorientasi horizontal (atau landscape).

Memang dengan memotret landscape dengan berorientasi horizontal/landcsape, pada umumnya kita akan mendapatkan suatu hasil foto yang secara baik (dan secara luas) mereprentasikan tempat tersebut. Bahkan kadang untuk lebih memperkuat "luasnya" suatu pemandangan, kita melakukan "panoramic" capture, atau foto kita crop sehingga berformat panoramic.

Dan kita dgn mudah menerima persepsi tersebut, krn selain mata kita pun juga terbiasa melihat dunia ini secara "berformat horizontal", sudah "manusiawi" pula kalau kita tiba pada suatu tempat yang kita lakukan adalah melihat dan melakukan observasi pemandangan tersebut dari kiri ke kanan atau kanan ke kiri, dan hampir tidak pernah atau jarang dari bawah ke atas atau dgn kata lain hampir tidak pernah melihat dari ujung kaki kita kearah ke langit. Mungkin hanya kalau kita berdiri diatas tebing atau kita melihat kebawah karena menghindari lubang atau halangan lainnya maka baru kita melakukan observasi melihat kebawah ke dekat ujung kaki kita.

Disinilah sebuah pendekatan tentang fotografi landscape yang sedikit bertentangan dgn ensensi dari "landscape" itu sendiri, yaitu Portscape atau Portrait Landscape. Pada Portscape, yang ingin kita dapatkan adalah bukan untuk mendapatkan view yang luas seluas-luasnya, sebaliknya yang kita inginkan adalah mendapatkan kedalaman/depth atau sepotong view, karena pada intinya kita meng-crop suatu landscape format view menjadi potongan-potongan vertikal. Kita mencari suatu pola atau komposisi vertikal pada suatu landscape view.
Pada Portscape, adalah bagaimana kita bisa mem-visualisasikan landscape yang terpenggal secara vertikal. Saat melihat sebuah Portscape, mata kita pun di paksa untuk melihat dari bawah (FG) hingga keatas.

Konsep Portscape bukan sesuatu hal yang baru, hanya seperti pada umumnya, penerapan dan pemakaiannya termasuk jarang. Ini terbukti kalau kita membuka galery FN pada katogori landscape, maka bisa dibilang hanya 10-15% saja foto-foto yang masuk dalam kategori landcsape yang berformat "portrait". Begitu juga kalau kita mencermati website-website lain untuk foto2 landscapenya. Bahkan definisi landscape photography di wikipedia pun menggunakan contoh foto berformat standard yaitu horizontal.
Iklan-iklan dari berbagai merek kamera/lensa saat mereka memperkenalkan/mempopulerkan sebuah lensa wide/super wide baru pun selalu menggunakan foto2 landscape berformat tradisional. Padahal dengan lensa lebar/super-wide, sebuah Portscape akan memberikan efek visualisasi yang dasyat.
Stereotype seperti ini membuat Portscape menjadi kurang dimengerti dan kurang diterapkan dalam fotografi Landscape.

Seperti yang saya sebutkan pada 14 Tips memperbaiki landcape anda pada point #11, dengan mengganti orientasi dari horiontal/landcsape menjadi portrait memberikan kita banyak kesempatan dan opsi untuk mendapatkan foto yang lebih banyak dan lebih variatif. Sehingga hanya dalam satu spot kita bisa mendapatkan lebih banyak foto.

Jadi apa yang kita cari dan bagaimana menemukan sepenggal potongan vertikal pada sebuah landcsape horizontal untuk bisa mendapatkan sebuah Portscape yang baik?
Enam point berikut dibawah bisa dipergunakan sebagai panduan:

<foto #1>



Beri Komentar

Panduan mengenai tata cara pemberian komentar bisa dibaca di sini

Silahkan login atau daftar untuk dapat memberikan komentar.

28 Desember 2009 13:24:00

1. Portscape is about the "Depth"

Seperti yang saya sebutkan diatas, Portscape adalah usaha mendapatkan kedalaman ruang (depth) dari sepenggal landcsape view. Untuk mendapatkan kedalaman ruang tersebut kita bisa menggunakan aturan "rule-of-third" sebagai acuan untuk membagi frame menjadi 3 bagian, yaitu bagian yang terdekat (FG), menengah (BG), dan yang terjauh (Horizon atau langit). Proporsi yang diperuntukan untuk ke-3 bagian ini sedapat mungkin akan merepresentasikan kedalaman ruang dari suatu landscape view yang luas.
Untuk penjelasan lebih lanjut tentang aturan "rule-of-third", silahkan Googling disini

<foto #2>



28 Desember 2009 13:24:24

Seperti pada contoh foto diatas maupun dibawah ini, keduanya spot di Belitung, saya mengikut sertakan batu/karang dimana saya berpijak untuk mendapatkan "kedalaman" dekat-sedang-jauh-nya.

<foto #3>



28 Desember 2009 13:24:48

Perhatikan juga bahwa untuk suatu yang simpel seperti kedua foto tersebut, pembagian 3 bagian "dekat-sedang-jauh" sesuai dgn aturan "rule-of-third" juga diterapkan disini (dan banyak contoh foto-foto lainnya di thread ini). Sedapat mungkin sisakan bagian langit (walau hanya sedikit) untuk masuk dalam bagian "jauh"nya.
Kedua contoh foto diatas juga menunjukan pemakaian Hyperfocal distance agar bisa begitu dekat dengan FG atau tanah/karang yang kita pijak.

<foto #4>



28 Desember 2009 13:25:24

2. Portscape is in the "FG (ForeGround)"

Elemen yang sangat mendukung sebuah Portscape adalah sebuah FG yang baik. Dengan membiasakan diri untuk tidak hanya melakukan observasi dengan melihat dari kiri- -> kanan atau kanan -> kiri, tapi juga dari bawah (sekitar ujung kaki kita) hingga ke atas langit kita akan terbiasa untuk mencari sesuatu di tanah/daratan disekitar kita berdiri yang bisa kita manfaatkan sebagai FG.


<foto #5>



28 Desember 2009 13:25:57

Shape and colors in the FG. Foto diatas #5 dan dibawah ini di ambil di Dreamland - Bali.

<foto #6>



28 Desember 2009 13:26:32

Dengan pemilihan angle yang baik, sebuah object di FG bisa menjadi menarik

<foto #7>



28 Desember 2009 13:27:19

3. Portscape is about "Detail"

Berhubungan dengan #2 diatas, dengan mencari detail yang "kuat" untuk diletakkan sebagai bagian dari FG dapat menentukan suskes tidaknya sebuah Portscape. Detail tersebut bisa apa saja, baik berujud benda seperti batu, karang, kayu dan benda lainnya, tapi juga berupa "leading lines", yaitu bentukan/pattern alami/non-alami yang membuat pola teratur yang akan membawa/menggiring mata kita dari FG menuju keseluruhan foto.

<foto #8>



28 Desember 2009 13:34:00

"Strong detail" dari FG akan tidak hanya akan membuat membuat ketertarikan foto pada first-eye-contact atau pandangan mata pertama pada foto, tapi bisa juga dapat menjadi POI dari foto tersebut. Foto diatas #8 dan dibawah ini diambil di Sulamadaha - Ternate.

<foto #9>



28 Desember 2009 13:36:44

Leading lines pada FG

<foto #10>



28 Desember 2009 13:37:01

Pattern pada FG

<foto #11>



28 Desember 2009 13:37:13

4. Portscape is about "Composing Objects"

Hampir pada semua genre fotografi, sebuah komposisi yang kuat akan secara overall menentukan "baik" tidaknya sebuah foto disamping tentu saja faktor2 lain. Walaupun bukan sesuatu yang mutlak, sebuah komposisi yang baik akan memperkuat POI dan object2 yang ada dalam frame.

Dengan keterbatasan "ruang" pada sebuah Portscape, mengkomposikan object2 yang ada dalam frame akan membuat foto Portscape kita akan terlihat lebih baik terutama jika object yang kita gunakan di FG bukan merupakan pattern atau shape, tapi lebih merupakan single object atau kumpulan object yang dominan.
Selain memanfaatkan aturan baku rule-of-third, salah satu cara adalah dgn meletakan object tersebut pada pojok kiri atau kanan di FG, atau bersifat melintang terhadap keseluruhan frame, yang kadang di-istilahkan "Cross Compose".
Untuk mendapatkan cross-compose, kita harus memposisikan diri atau mengatur angle untuk membuat cross-compose.
Untuk object2 yang "moveable", kadang pengaturan cross-compose harus kita "bantu sedikit" dengan mereposisikan object tersebut happy

<foto #12>



28 Desember 2009 13:37:49

Cross-compose dimana object mendapatkan "sedikit bantuan" agar object bintang laut mempunyai komposisi silang dgn gunung di BG. Cross-compose akan membantu "menyeimbangkan" foto agar tidak berat pada satu sisi.

<foto #13>



28 Desember 2009 13:37:59

Untuk menggamblangkan apa yg dimaksud dgn cross-compose.

<foto #13A>



28 Desember 2009 13:38:13

Jangan lupa foto tersebut juga menerapkan aturan rule-of third, baik secara horizontal maupun vertical

<foto #13B>



28 Desember 2009 13:38:25

Saya memang suka membantu bintang laut memposisikan dirinya big grin

<foto #14>



28 Desember 2009 13:38:38

Secara tidak langsung, contoh foto #7, #9 dan #10 pun adalah bentuk cross-compose. Sedapat mungkin carilah cross-compose saat eksekusi/pemotretan, dan bukan hasil crop nantinya di komputer.

Photo #7: Angle diambil sedemikian rupa agar sisi batu memanjang membentuk cross-compose

Photo #9: Angle diambil sedemikian rupa agar kumpulan batu yg dominan (krn terkena lighting matahari) berada dikiri bawah frame utk mendapat cross-compose dgn matahari terbitnya.

Photo #10: Tangga tidak saja sebagai leading lines tapi juga otomatis membentuk cross-compose.

<foto #15>



28 Desember 2009 13:38:54

Bentuk komposisi silang lain

<foto #16>



28 Desember 2009 13:39:05

Bahkan untuk suatu object memanjang apapun spt perahu misalnya yang kita ambil vertikal, cross-compose akan terlihat lebih cantik untuk suatu format portrait.

<foto #17>



28 Desember 2009 13:39:22

Carilah sesuatu, baik itu object atau bentukan alam yang awalnya bisa kita posisikan pada pojok bawah frame, baik dikiri atau dikanan.

<foto #18>



28 Desember 2009 13:39:42

Pada saat saya akan memotret step pyramid di Sakhara ini, saya menemukan kesulitan untuk mengambil secara Portscape krn di luasnya gurun (hanya pasir) hampir tidak ada object yg cukup besar dan dominan yg dapat dipergunakan di FG. Batu kecil pun dipadu dgn gundukan pasir dgn pengambilan yg close-up dan cross-compose bisa cukup membantu.Sebetulnya ada banyak kekurangan pada foto ini, krn foto ini tidak merepresentasikan sense of scale dgn baik dgn tidak adanya object pembanding lain untuk mengetahui seberapa besarnya sebetulnya Sakhara pyramid ini.

<foto #19>



Kategori