Astana dikenal sebagai ibukota no. 2 terdingin di dunia setelah Ulan Batur. Saat winter suhu udara bisa mencapai lebih dari -40C dan bukanlah tanpa alasan kalau dahulu kala tempat ini bernama Akmola yang artinya Nisan Putih dan juga pernah dipakai sebagai gulag. Namun itu semua cerita usang.
Astana yang menggantikan Almaty sebagai ibu kota Kazakhstan sejak tahun 1997, bukanlah kota besar jika dilihat dari jumlah penduduknya yang cuma 650,000 seukuran kecamatan di Jakarta. Namun, kota ini telah menghabiskan lebih dari USD 15,000,000,000 untuk membayar arsitektur terkemuka serta membangun city landmarks yang spektakular.
Tanggal 28 January kemarin setelah mengantarkan anak ujian SAT,kita mencoba untuk mengeksplore boulevard Nurzol Bulvar sekaligus mengukur daya tahan tubuh menghadapi cuaca yang saat itu -26C dengan humidity 10% belum yang terdingin, namun angin kencang yang bertiup rasanya membuat muka seperti ditusuk ribuan jarum.
Kamera yang kita gunakan adalah Olympus E-620 dengan lensa kit 14-42mm, 2 battery spare, plus tripod aluminum. Kesulitan yang saya hadapi adalah mengatur setting kamera serta mengatur focus lensa. Idealnya sih pakai manual focus tapi sarung tangan yang tebal amat sangat menyulitkan pengaturan manual focus bahkan mengatur panjang focus juga tidak mudah. Karenanya saya sepenuhnya mengandalkan auto focus yang sayangnya juga sering meleset dan super lelet karena pakai live view (susah sekali pakai view finder di kondisi seperti itu).
Beberapa kali saya sempat membuka sarung tangan untuk mengatur panjang focus. Beberapa kali harus merasakan kesakitan ketika tidak sengaja tangan lengket ketika menyentuh bagian logam dari tripod. Bahkan, karena saya mebukanya dengan mulut, ujung jari sarung tangan basah karena ludah, dan dalam hitungan beberapa detik saja membeku sehingga praktis untuk menekan tombol shutterpun tidak bisa pakai sarung tangan. Mohon maaf, meski pakai tripod masih miring juga. Angin dingin yang cukup kencang juga sangat mengganggu.
Saat dilapangan, kelihatannya foto2 yang saya ambil cukup baik, namun setelah di cek di computer banyak yang hancur, nggak focus, goyang, miring dll. Beberapa yang menurut saya lumayan, setelah diperhatikan lagi kok sepertinya ada yang mengganggu seperti noise dan atau grainy. Padahal pakai ISO 200 meskipun masih main di jpeg (soalnya paling males otak-atik foto). Saya tidak tahu apakah hal tsb. karena kamera dioperasikan jauh diluar spesifikasinya yaitu suhu operasi 0 40C dan humidity 30 90% atau memang setting nya yang kurang pas atau salah. Pemakaian battery amat sangat boros; selama perjalanan kita mengganti battery 3x
Pandangan. saran, masukan dan tip-tip memotret pada kondisi maupun target seperti ini sangat diharapkan masih banyak landmark kota yang sangat menarik di Astana ini.
Kategori
Warung Kopi Fotografer.net
Bantuan Situs FN, Bincang Bebas, Panduan, Pengumuman, Usulan (Wish List)
Diskusi Fotografi
Bisnis Fotografi, Fotografi Umum, Kamera Digital, Klinik Foto, Konsep dan Tema, Medium dan Large Format, Olah Digital, Photo Guide, Pojok Pemula
Minat Khusus
Abstrak & Still Life, Eksperimen dan Special Effect, Fotografi Hitam-Putih dan Teknik Kamar Gelap , Fotografi Jurnalistik & Olah Raga, Infra Red, Landscape, Nature, & Satwa, Makro, Manusia (Portrait & Human Interest), Model, Fashion, & Wedding, Street Photography, Perkotaan, Arsitektur, Strobist, Underwater
Event/Acara
FN Events, FN Most Wanted, Hunting, Kumpul FN & Ucapan, Liputan Acara, Lomba Foto, Seminar/Workshop/Pameran
Bahas Peralatan
Asesoris Fotografi, Canon, Kamera Saku, Merk Lain, Nikon, Olympus, Perbandingan Peralatan, Printer & Scanner, Rangefinder, Studio Lighting
Bursa
Charel Hugo R. 04 Februari 2012 15:27:29 WIB
Re: Antara Khan Shatyr BayterekJoko Tarisno 04 Februari 2012 16:27:39 WIB
Re: Antara Khan Shatyr BayterekTri Haryanto 04 Februari 2012 17:55:05 WIB
BTW, foto-fotonya cakep, Pak....
Re: Antara Khan Shatyr BayterekErri kartika purnama putri 04 Februari 2012 23:19:53 WIB
tapi apa memang kotanya terlihat sepi ya?
banyak yang lenggang
Wisnu Purwanto 04 Februari 2012 23:57:58 WIB
@Joko Tarisno: Terima kasih, tapi saya masih belum sreg - ditunggu saran2 dan tip nya, nanti kalau kesana lagi bisa lebih baik. Masih banyak gedung menarik yang belum ke potret.
Wisnu Purwanto 05 Februari 2012 00:21:43 WIB
@Erri Kartika: Kalau musim summer, spring dan fall - boulevar tsb. ramai sekali. Meskipun tdk seramai Jakarta, maklum saja penduduk ibu kota tsb cuma 650 rb orang.
Saat itu diluar memang sepi, karena orang lebih suka nongkrong di dalam gedung yang hangat. Biar orang lokal, tetap saja -26C terasa dingin. Dijalan hanya ada segelintir orang yang terburu-buru ke kendaraan mereka.
Nih suasana di dalam mall, di KFC - salah satu dari sedikit restaurant Halal disana.
Re: Antara Khan Shatyr BayterekMarcellino Eko Budi Santoso 05 Februari 2012 00:22:50 WIB
Wisnu Purwanto 05 Februari 2012 00:34:01 WIB
Atau kalau lagi pas sebel ngomong " Ee Asu, asu " dikasih juga itu air.
Sebelumnya saya pernah ngomong " Can I get drinking water, no gas please" malah nggak ada yang ngerti.
Re: Antara Khan Shatyr BayterekChanief Achmad Alfauzi 05 Februari 2012 02:00:21 WIB
ada yg kocak, nama minuman mineralnya ui
Re: Antara Khan Shatyr BayterekSalahudin Damar Jaya, Jaya 05 Februari 2012 07:32:24 WIB
Mas Wisnu bisa cerita sosial budaya orang-orang kazakh atau umumnya orang-orang asia Tengah sana, sangat minim nih kita mengetahui mereka, kalo di indonesia tahunya Uzbek dari berita kawinnya anak sokarno dan cewek-cewk penghibur yg di import dari sana buat ngisi tempat dugem di jakarta.
Tashakor dan Spasibo
Wisnu Purwanto 06 Februari 2012 13:00:52 WIB
Terima Kasih,
Lokasinya yang bagus, saya sih cuma kamera naruh di tripod terus jepret saja - nggak pakai macem-macem, karena memang nggak ngerti photography beneran dan juga kondisi saat itu tidak memungkinkan utk banyak otak-atik kamera.
Sudah coba baca beberapa artikel mengenai street, perkotaan dan arsitektur photography - tapi masih tulalit.
Sebetulnya banyak lagi nama/merk yang aneh-aneh disini, bahkan bisa masuk KT, lagi saya kumpulin.
Wisnu Purwanto 06 Februari 2012 13:04:53 WIB
Thanks mas Jaya,
Saya bisa memahami kalau film tsb. menyinggung pemerintah dan juga masyarakat Kazkhstan.
Sebetulnya banyak persamaannya antara Indonesia dan Kazakhstan, wilayah yang sangat luas, multi kultural dengan sejarah yang keras - tentunya tidak mudah dimengerti - dan akhirnya di generalisir ala Holliwood yang kental dengan arogansi dan tentunya muatan bisnis. Dan Kazakhstan tidak sendirian dalam hal stereotype ala hollywood atau bahkan ala gedung putih. Sama seperti Indonesia, masyarakat disini juga beragam dari yang lembut sampai yang straight forward. Kebetulan kita tinggal di wilayah yang masyarakatnya keras, temperamental dengan latar belakang nomad yang kuat. Supir angkot jakarta pun bisa keder disini, karena orang2 mengendarai mobil seperti naik kuda - tapi mereka tetap ngasih jalan ke pedestrian meskipun selalu bikin deg-deg-an, ketika ketika nyebrang mobil malah digeber dan berhenti mendadak. Olahraga yang populer di sini adalah martial arts, nah lho. Karenanya kita expat disini nggak boleh nyetir sendiri.
Serupa dengan Uzbekistan, banyak sekali makhluk cantik disini - karena tingkat ekonomi yang lebih tinggi, mereka sangat modis sekali - dan juga jauh lebih keras dan mandiri karenanya sulit atau tidak akan dijumpai di tempat dugem Jakarta.
Re: Antara Khan Shatyr BayterekAri Wahyudi 07 Februari 2012 21:46:36 WIB
Wisnu Purwanto 08 Februari 2012 21:09:26 WIB
Bulan Desember lalu saya kesana juga, saat itu pagi hari, temp. drop sampai -37C. Kita nggak kuat lama-lama di temp. tsb. dan masuk ke Bayterek.
Foto berikut diambil dari puncak Bayterek kearah Khan Shatyr - yang benar2 terletak satu garis lurus. Foto kurang bagus krn salju turun halus dan banyak yang menempel di kaca. Temperature sangat dingin membuat salju disini halus dan kering seperti tepung.
Wisnu Purwanto 08 Februari 2012 21:12:19 WIB

Wisnu Purwanto 04 Februari 2012 13:37:33 WIB